alexametrics

Butuh Laki-Laki Vokal Dorong Pengasuhan Setara

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Penulis dan Spesialis Keadilan Gender Kalis Mardiasih mendorong agar pemerintah tidak berfokus memberdayakan dan melibatkan perempuan atau ibu-ibu dalam forum gender ataupun parenting. Namun perlu partisipasi laki-laki yang vokal pada kesetaraan gender untuk mewujudkan pengasuhan setara.

Agenda itu telah diimplementasikan oleh Forum Genre Jateng dan BKKBN Jateng dalam Workshop Parenting  1001 Cara Bicara Orangtua dengan Remaja di Hotel Harris Semarang, Senin (15/8). Baik dari laki-laki dan perempuan maupun remaja dan orang tua memiliki partisipasi yang sama dalam forum tersebut.

“Penting bagi institusi pemerintah menyasar bapak-bapak untuk menyadari soal pengasuhan setara sampai pembagian kerja domestik, bukan ibu-ibu saja,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Genjot Porsi Latihan Pemain yang Baru Bergabung

Pasalnya pengasuhan anak merupakan tugas bersama. Sehingga perlu berbagi peran pengasuhan dan tidak membebankan secara sepihak saja. kedua orang tua memiliki porsi tanggung jawab yang sama dalam mengasuh anak.

Kemudian saat ini pengasuhan anak laki-laki dan perempuan harus setara. Dalam arti cita-cita anak perempuan harus mendapat dukungan yang sama layaknya anak laki-laki. Lalu diberi kesempatan yang sama pula untuk mewujudkannya.

“Nggak kalah penting, orang tua sekarang harus bisa adaptasi dan memahami tantangan masa depan. Seperti cyber bullying atau Kekerasan Berbasis Gender Online (KGBO) itu seperti apa penanganannya,” imbuh Kalis.

Perlu ditekankan bila visi keluarga merupakan visi bersama bagi semua anggota di dalamnya. Sehingga orang tua bukan pusat pemegang kuasa sekaligus pembuat keputusan. Namun setiap anggota memiliki hak menyampaikan pendapat.

Baca juga:  PSIS VS Bali United Resmi Ditunda

Kalis juga menegaskan pembangunan sumber daya manusia jauh lebih penting ketimbang infrastruktur. Pasalnya sampai sekarang masih ada remaja yang tidak mendapat akses pendidikan, menerima kekerasan dari orang sekitarnya seperti keluarga atau guru dan tidak bisa menjalani masa remajanya dengan nyaman.

“Buat apa kita membangun gedung-gedung tinggi, apabila remajanya tidak tidak bisa tumbuh menjalani hidup dengan nyaman dan haknya belum terpenuhi,” terangnya.

Lebih lanjut, merespon bullying atau perundungan yang masih terjadi di sekolah, Kalis mengajak peserta remaja yang hadir untuk mengutamakan keselamatan korban daripada mengubah perilaku pelaku kekerasan.

“Bisa diakali dengan kita temani korban kemana pun dia pergi, jadi pelaku nggak berani ganggu dia. Karena kalau mengubah perilaku itu tugas berat dan panjang,” ujarnya.

Baca juga:  Petugas KPPS Pakai Surjan, Warga Kompak Kenakan Batik ke TPS

Iwan Dwi Antoro selaku panitia dari BKKBN Jateng menyampaikan ada 85 peserta. Terdiri dari 25 anggota remaja Forum Genre Jateng, 16 anggota perwakilan Bina Ketahanan Remaja (BKR) yang tersebar di 16 kabupaten atau kota, dan sisanya pengelola program genre.

“Ini program tahunan ke-2 sampai tingkat daerah, karena workshop besok ada praktek roleplay komunikasi pengasuhan setara dengan anak-naka remajanya,” pungkasnya. (taf/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya