alexametrics

Warga Berharap Ada Penambahan Feeder BRT Trayek Kokrosono

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sejumlah siswa dan warga mengeluhkan tidak adanya feeder BRT di Jalan Kokrosono. Sarana itu dibutuhkan mengingat di kawasan tersebut terdapat sejumlah satuan pendidikan. Sehingga angkutan feeder sangat dibutuhkan.

Selama ini banyak siswa terpaksa berjalan kaki dari Jalan Jenderal Soedirman untuk menuju ke sekolah. Ada empat sekolah yang berada di sekitaran Jalan Kokrosono, seperti SMKN 10 Semarang, SMAN 4 Semarang, SMPN 25 Semarang, dan SMK Pelayaran Wira Samudera.

Tidak adanya angkutan, banyak siswa harus menempuh jarak kurang lebih 1,6 kilometer setiap hari untuk berangkat menuju sekolah. Tak hanya siswa, warga di sekitar Jalan Kokrosono pun mengeluhkan hal yang sama. Tidak adanya akses feeder BRT membuat warga sekitar harus berjalan jauh untuk bisa menaiki transportasi yang dirilis oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ini.

Baca juga:  Fungsi Resapan, Cadangan Air, hingga Objek Wisata

“Siswa harus menempuh jarak jauh. Padahal ada empat sekolah yang berada di Jalan Kokrosono ini. Tentu mereka menginginkan akses transportasi umum untuk memudahkan siswa berangkat sekolah,” jelas Kepala SMKN 10 Ardan Sirodjuddin saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/8).

Pihaknya sudah mengirim surat kepada Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Semarang sejak Juli. Harapannya surat tersebut segera ditindaklanjuti dan ada penambahan trayek feeder BRT yang melewati Jalan Kokrosono hingga ke Pelabuhan. Mengingat SMKN 10 mempunyai program untuk membatasi kendaraan bermotor. Sehingga sangat diperlukan adanya akses feeder BRT.

“Dulu pernah ada angkot, tapi sekarang sudah tidak ada. Pak Hendi dulu pernah menjanjikan agar di depan sekolah bisa dilalui oleh BRT. Namun sampai saat ini belum terealisasi,” tambahnya.

Baca juga:  Main Hujan-Hujanan, Kakak Beradik di Semarang Hanyut Terseret Arus Selokan

Salah satu siswa SMKN 10 Fouad Dauta Kamal mengaku tidak adanya transportasi yang melewati sekolahnya membuatnya terpaksa menggunakan sepeda motor. Hal ini dirasa merepotkan. Terutama bagi siswa yang tidak diperbolehkan menggunakan motor. Karena harus jalan jauh, menggunakan ojol, dan diantar jemput orang tua.

“Mau nggak mau saya pakai motor karena jalannya jauh. Takutnya nanti telat,” akunya.

Sementara warga Brotojoyo Barat Sugiyatmi juga merasakan hal yang sama. Tidak adanya akses transportasi umum yang melewati permukimannya membuatnya harus berjalan jauh saat ingin pergi ke pasar untuk belanja.

“Dari dulu tidak dilewati BRT, padahal ada banyak sekolah di sini, siswanya juga banyak. Kasihan kalau harus naik ojol biayanya mahal. Harapannya ya segera ada BRT yang lewat sini,” ungkapnya.

Baca juga:  WPS Setujui Besaran Tali Asih

Menanggapi hal tersebut, Kepala UPTD BLU Trans Semarang, Hendrix Setiawan menjelaskan, penambahan rute harus melewati beberapa kajian. Misalnya kajian urban mobility plan dari Bappeda Kota Semarang.

“Kajian ini harus ada dari akademisi, stakeholder terkait, misal organda dan lainnya, terutama terkait kebutuhan masyarakat,” katanya.

Hendrix menjelaskan, selama ini belum ada kajian pengembangan wilayah yang dilakukan Bappeda Kota Semarang, misalnya tentang potensi mobilitas penumpang yang belum terlayani jaringan transportasi, permintaan wilayah, dan konektivitas jaringan transporatasi yang terintegrasi.

“Sebelum kita menambah rute, kajian ini harus dilakukan dulu, tujuannya agar ketika menambah rute atau armada feeder bisa digunakan masyarakat dan tepat sasaran,” pungkasnya. (kap/den/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya