alexametrics

25 Tahun, Warga Tambaklorok Lima Kali Tinggikan Rumah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Permukiman warga Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara menjadi langganan rob atau air laut pasang. Permukaan tanah di permukiman kawasan ini turun setiap tahunnya. Rata-rata mencapai enam sentimeter. Terlihat sejumlah titik di permukiman RW 13 Tambaklorok tergenang rob.

Meski tidak terlalu tinggi, namun membuat aktivitas warga terganggu. Seperti di wilayah RT 6. Akses jalan permukiman warga tergenang rob dengan ketinggian kurang lebih 15 sentimeter.

Kondisi yang sama terlihat di jalan bawah terowongan fly over Jalan Arteri Yos Sudarso. Jalan tersebut merupakan akses utama menuju Kampung Tambakmulyo. Ketinggian genangan rob mencapai 20 sentimeter.

“Rob datang sekitar pukul 11.00. Surutnya kurang lebih pukul 13.00. Kalau hari ini (kemarin) agak rendah,” ujar Ketua RW 13 Kelurahan Tanjung Mas, Edi Suwarno, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (4/7).

Jalan RT 6 RW 13 di depan rumah Edi menyerupai selokan. Kanan kiri jalan tersebut sudah dibangun talut. Tingginya sekitar 60 sentimeter. Praktis, bangunan rumah di kanan kiri jalan yang baru sebagian diurug itu posisinya lebih rendah. Mau tidak mau, warga harus meninggikan bangunan sebagai antisipasi masuknya air ke dalam rumah.

Baca juga:  Pembunuh Keong Diringkus, Polisi Masih Buru Popo dan Kodok

“Kalau yang punya biaya, rumah akan ditinggikan. Kami oyak-oyakan dengan tinggi jalan. Setiap 5 sampai 10 tahun sekali harus meninggikan rumah. Saya sendiri selama 25 tahun ini sudah lima kali meninggikan rumah,” akunya.

Jalan kampung itu ditinggikan sekitar 60 sentimeter dengan panjang 105 meter. Pihaknya mengaku bersyukur, peninggian jalan tersebut mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Semarang.

“Pembangunan sudah sembilan hari sejak Kamis lalu. Saya berterima kasih kepada pemkot, yang telah peduli pada warga Tambaklorok, khususnya yang terkena dampak rob,” katanya.

Diakui, sudah puluhan tahun permukiman Tambaklorok menjadi langganan banjir rob. Menurutnya, hal ini akibat rendahnya permukiman warga, dan selalu mengalami penurunan tanah.

“Pernah dideteksi, tanah di sini ambles sampai enam sentimeter per tahun. Tanah di sini kan bawahnya tidak sehat, mau dipaku bumi segala macam. Kalau tanah di sini diduduk (digali) sampai 50 sentimeter, sudah lumpur campur air. Karena di sini dulu bukan daratan, tapi lautan,” bebernya.

Diakui, banjir rob terparah terjadi Senin (23/5) lalu, bersamaan dengan jebolnya tanggul di belakang kawasan industri Lamicitra Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Saat kejadian tersebut, ketinggian air mencapai di atas setengah meter. Bahkan, di wilayah RW 13, dengan jumlah 6 RT, ada 112 KK yang terkena dampak banjir rob.

Baca juga:  Istri Anggota TNI di Semarang Ditembak Orang Tak Dikenal, Pelaku Diduga Berboncengan

“Itu berlangsung hampir satu minggu. Dua hari naik lagi. Jadi, tidak bisa dipastikan air pasang surut. Di sini totalnya ada 379 rumah atau 502 KK. Yang terdampak banjir rob kemarin mayoritas warga RT 5 dan RT 6,” terangnya.

Dikatakan Edi, warga bertahan di lokasi tersebut, lantaran mayoritas bekerja sebagai nelayan. “Kalau mau dipindah ya harus berdekatan dengan pesisir, sesuai dengan keahlian nelayan,” katanya.

Sementara itu, ahli geodesi Institut Teknologi Bandung Heri Andreas kepada wartawan beberapa waktu lalu menyebutkan, berdasarkan penelitiannya, tanah di pesisir Kota Semarang rata-rata turun 10 sentimeter per tahun. Di beberapa area, penurunan itu bahkan mencapai 20 sentimeter per tahun.

Itu sebabnya, ia berhipotesis bahwa penurunan tanah adalah faktor lain yang secara signifikan membuat wilayah di utara Semarang dilanda banjir rob dan terancam tenggelam.

Baca juga:  Selamatkan Warga PLN Padamkan Listrik Daerah Banjir

Menurut pemantauan Heri lewat citra satelit, pasang air laut pada 1990 sampai 2000 tidak menyebabkan banjir rob di Semarang. Faktanya, pasang laut bukanlah hal baru. Peristiwa alam itu terjadi sejak dahulu kala. Asumsinya, pasang air laut tak akan jadi bencana besar tanpa pemicu lain, yakni penurunan permukaan tanah.

Hipotesis itu sejalan dengan penelitian “Subsidence in Coastal Cities Throughout the World Observed by InSAR” yang dipublikasikan Maret 2022 dalam jurnal Geophysical Research Letters.

Riset tersebut meneliti 99 kota pesisir pada 2015–2020, dan menempatkan Semarang pada peringkat kedua sebagai kota dengan penurunan tanah tercepat, setidaknya 3,9 sentimeter per tahun.

Dijelaskan, setidaknya ada empat penyebab penurunan tanah. Yakni, tanah bersifat lunak sehingga secara alamiah turun. Tanah mendapat beban dari infrastruktur. Adanya eksploitasi air tanah, serta pengaruh proses tektonik.

Berdasarkan sejumlah penelitian, menurut Heri, faktor dominan penyebab penurunan tanah adalah eksploitasi air tanah. Dari penurunan tanah sebanyak 10 sentimeter, 6 sentimeter di antaranya (60 persen) terjadi akibat eksploitasi air tanah. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya