alexametrics

Kasus PMK di Semarang Capai 662 Ekor, Lima kecamatan Zona Merah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Jumlah kasus aktif penyakit kuku dan mulut (PMK) di Kota Semarang mencapai 662 ekor. Sebanyak lima kecamatan masuk zona merah penularan PMK yang menjangkiti hewan ternak.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kota Semarang Hernowo Budi Luhur mengatakan, di Ibu Kota Jateng memiliki tujuh kecamatan penghasil ternak, di mana lima di antaranya masuk zona merah. Yakni, kecamatan Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, Tugu, dan Pedurungan.

“Sedangkan dua penghasil ternak, yakni Kecamatan Mijen dan Ngaliyan masuk zona kuning,” kata Hernowo saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Hotel Noormans, Selasa (28/6).

Data Dispertan Kota Semarang, jumlah kasus PMK di Kota Lunpia mencapai 755 kasus. Rinciannya, 50 ekor hewan ternak telah sembuh, 31 ekor dipotong paksa, dan 12 ekor telah mati. Sedangkan kasus yang masih aktif sebanyak 662 ekor hewan ternak.

Baca juga:  Kebut AKD, Kedepankan Musyawarah

Agar penularan tidak meluas, kata Hernowo, kebijakan lockdown kandang pun dilakukan. Sementara hewan yang terpapar dilakukan isolasi agar virus tidak menyebar.

“Penularannya sekarang sangat masif. Bukan hanya lewat droplet, tapi juga lewat angin. Jadi susah untuk membatasi penyebarannya. Yang kita lakukan adalah melakukan lockdown per kandang komunal,” ujarnya.

Dikatakan, pencegahan PMK melalui vaksinasi hewan ternak terus digenjot Dispertan. Sedikitnya 300 ekor hewan ternak yangsudah mendapatkan vaksin yang telah dimulai sejak Sabtu (25/6) pekan lalu.

“Total sudah ada 300 ekor sapi yang sudah kita vaksin. Kemarin dapat tambahan 200 vaksin yang harus habis sekali buka. Satu botolnya untuk 100 ekor sapi,”jelasnya.

Sama seperti vaksinasi Covid-19, lanjut mantan Kabag Tapem Pemkot Semarang ini, sesuai arahan diperkirakan akan ada vaksinasi kedua hingga booster kepada hewan ternak. Namun fokus utama yang dilakukan Dispertan adalah pemerataan pemberian vaksinasi kepada hewan ternak. “Yang penting merata dulu. Harapannya ya sekali divaksinasi cukup,” katanya.

Baca juga:  Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Angin Kurang Optimal

Hernowo menambahkan, pedagang hewan kurban yang belum memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dan surat izin pendirian lapak, pihaknya meminta agar pedagang bisa segera mengurus dan memiliki dua syarat tersebut. Apalagi sudah ada surat edaran dari wali kota Semarang terkait perizinan pendirian lapak sementara penjualan hewan kurban.

“Memang ada banyak kesulitan sekarang dalam mengurus SKKH. Tapi ini kewajiban. Karena ini untuk menunjukkan hewan yang dibawa adalah hewan yang sehat,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan berkeliling untuk melihat tempat berjualan hewan kurban tiban guna mengecek SKKH serta surat izin pendirian lapak. “Kami akan keliling untuk memastikan itu (surat izin, Red) Konteksnya, untuk melindungi para konsumen,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir mengonsumsi daging kurban saat Idul Adha nanti.  Asalkan pengolahannya dilakukan dengan benar. “Nggak perlu takut ataupun khawatir, intinya diolah dengan benar,” tegasnya.

Baca juga:  Wali Kota Hendi Berharap Sentra IKM Logam Bisa Jadi Daya Tarik Kota Semarang

Pihaknya mendorong Pemkot Semarang bisa melakukan percepatan vaksinasi kepada hewan ternak. Tujuannya agar peternak merasa aman dan tidak khawatir hewan ternak yang dimiliki terpapar PMK.

“Kami dorong Dispertan tetap gigih mendapatkan vaksin agar kekhawatiran yang dihadapi peternak cepat selesai,” ujarnya.

Dewan, kata dia, juga akan menggandeng Dispertan untuk turun langasung mengecek penjualan hewan kurban di Kota Semarang. Hal ini akan dilakukan dalam waktu dekat dengan tujuan untuk mencegah meluasnya penyebaran PMK.

“Kita akan turun langsung ke pedagang tiban yang menjual hewan kurban untuk memastikan hewan yang beredar di Kota Semarang sehat dibuktikan dengan adanya dokumen SKKH,” katanya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya