alexametrics

Potong Gigi sebagai Tanda Masuk Usia Dewasa

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebanyak 50 remaja Hindu yang memasuki usia dewasa mengikuti ritual peribadatan potong gigi yang akrab disebut Mepandes, Metatah, atau Mesangih. Ritual massal itu digelar sekaligus merayakan Hari Raya Kuningan di Pura Amertha, Tlogosari, Semarang Sabtu (18/6).

Ratusan umat Hindu telah tiba di pura sejak pukul tujuh pagi. Dengan didampingi orang tuanya, para remaja ini memulai ritual berdoa bersama. Kemudian pada upacara Pecaruan, umat Hindu melakukan penyucian alam dan diri untuk menyatukan harmoni antara keduanya. “Sebelum ritual potong enam gigi, mereka sungkeman kepada bapak ibunya dulu,” jelas Nengah Wirta Darmayana, ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskan, dalam ritual ini, enam gigi dari setiap peserta tidak benar-benar dipotong. Namun hanya dikikir sedikit sebagai simbolis untuk mengusir enam musuh dalam diri manusia. Pelaksanaannya pun dilakukan oleh tenaga khusus.

Baca juga:  Pasar Bulu Semarang Disiapkan Jadi Creative Market, Ini Penampakannya

Keenam musuh itu yakni Kama atau pengendalian hawa nafsu, Lobha atau sifat tamak dan tak pernah puas dengan hidupnya, Krodha atau marah. Selanjutnya Mada atau mabuk yang diartikan bukan hanya mabuk alkohol, tapi juga terhadap kepandaian, kekayaan, ataupun ketampanan.

Dua hal terakhir yakni Moha atau sifat kebingungan terhadap hidup dan Matsarya atau rasa iri hari serta dengki. Dengan ritual ini diharapkan umat Hindu yang menginjak usia dewasa itu lebih mantap menghindari enam sifat gelap tersebut.

Salah satu peserta Mepandes adalah Vianika Putri Ayu. Perempuan yang menginjak usia 18 tahun itu mengaku senang dapat mengikuti ritual sakral dalam agamanya dan resmi menjadi dewasa. “Rasanya cuma geli karena cuma dikerik. Terus nanti potongan rambut yang ditaruh di kelapa dan nanti bakal dilarung,” ungkap Vianika.

Baca juga:  Nyaris Tumbang karena Kecelakaan, Akhirnya Ditebang

Dalam pura itu, disiapkan empat bed untuk pelaksanaan ritual Mepandes secara bergantian setiap empat peserta. Usai gigi dikikis, peserta berkumur. Lalu sedikit rambut di bagian samping kiri dan kanan, depan dan belakang dipotong atau dicukur sedikit.

Kemudian peserta menghadap pemimpin keseluruhan ritual, Maharsi yang juga Pinandita dari Jawa. Ritual berlangsung hingga pukul 11.30 WIB. Lalu dilanjutkan Upacara Piodalan di sore hari, pukul 16.00 WIB. “Upacara ini digelar setiap ulang tahun pura yang digelar setiap 6 bulan sekali,” jelas Nengah Gunaga, ketua panitia acara.

Di sore hari, seluruh umat Hindu bersembahyang bersama di lapangan pura. Kemudian terdapat penampilan tari usai prosesi peribadatan. (taf/ton)

Baca juga:  Bentuk Desa Antipolitik Uang dan Pengawasan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya