alexametrics

PKL Kariadi Siap Tempati Lapak Baru

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang pada Senin (9/5) lalu telah merobohkan 30 lapak PKL di Jalan Kariadi. Rencananya di sepanjang Jalan Veteran dan Jalan Kariadi akan dibangun kawasan kuliner.

Semua PKL yang lapaknya dibongkar akan mendapat tempat jualan baru. Tepatnya di Jalan Kedungjati Nomor 22. Tanah ini disediakan oleh PT KAI dengan sistem sewa.

Saat Jawa Pos Radar Semarang datang, empat pedagang telah menempati lapaknya dan mulai berjualan. Mereka berjualan soto, mi ayam, jus, dan toko kelontong yang menyediakan berbagai makanan ringan.

Sedangkan pedagang lain masih merapikan lapaknya. Ada yang memasang kanopi, membersihkan pendingin minuman, menata lapak, serta membuat saluran air. Meski tempatnya belum tertata rapi, beberapa pembeli sudah datang.

Baca juga:  Derita Non ASN yang Diberhentikan Pemkot Semarang: Ada yang Lupa Absen, Ada yang karena Gaptek

Salah satu pedagang kuliner Rini mengaku sudah berjualan selama lima tahun. Awalnya ia menjual mi ayam. Seiring waktu menu makan semakin bertambah. Ada soto ayam, soto babat, dan gado-gado. Warung di Jalan Kariadi merupakan warisan dari orangtuanya.

Perempuan 38 tahun ini menambahkan, warung orangtuanya sudah berdiri sejak era Presiden Soeharto. Yakni pada tahun 80-an. Ia ingat betul, PKL di sepanjang Jalan Kariadi pernah menjadi pusat percontohan kuliner di Semarang. “Sejak saya masih kecil sudah ada. Ini warisan orang tua. Jadi harus dipertahankan dan dilanjutkan,” katanya.

Menurutnya, perpindahan lapak kuliner dari pinggir jalan mendatangkan beberapa perubahan. Dari segi tempat, kata dia, lebih tertata dan terkonsentrasi di satu lokasi. Namun, area parkir kurang memadai. Apalagi jumlah lapak ada 30. “Bayangkan penuhnya seperti apa,” akunya.

Baca juga:  KAI Tambah 16 KA, Bandara Siap Sambut Pemudik

Pedagang lain, Yatni Sumadi mengatakan harus mulai dari nol dalam membangun usahanya. Bahkan ia mengeluarkan uang Rp 10 juta untuk membangun lapaknya. “Jadi kita itu babat alas lagi. PKL cuma disediakan tempat satu petak dengan ukuran 2,5 meter kali tiga meter. Biaya untuk plester lantai, kran air, dan lain-lain kita pakai uang sendiri,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski demikian perempuan yang sudah berjualan jus selama 15 tahun ini tetap mengikuti peraturan pemerintah. Warga Petompon, Kota Semarang ini senang kawasan kuliner akan terpusat menjadi satu. Sehingga memudahkan pembeli dalam menentukan pilihan. Menurutnya dengan dijadikan kawasan kuliner, tempat ini akan menjadi ciri khas sebagai kuliner Kariadi.

Baca juga:  Kawasan Kota Lama Semarang Lockdown

Dwi Haripurnomo, pedagang makanan ringan ini  mengatakan hal senada. Harapannya kawasan kuliner yang sedang dalam proses pembangunan ini akan menyejahterakan PKL. “Ya, semoga dengan dipindahnya kita ke sini tidak berpengaruh pada penghasilan. Syukur-syukur bisa bertambah karena di sini kita juga sistemnya sewa,” akunya. (cr3/cr4/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya