alexametrics

Kota Semarang dan Grobogan Pertama Kemarau

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kota Semarang dan Kabupaten Grobogan bagian timur menjadi wilayah pertama yang masuk musim kemarau di Jateng. Kendati begitu, musim kemarau 2022 datang lebih lambat. Secara umum prakiraan awal musim kemarau dimulai pada April-Juli 2022. Namun kondisi saat ini masih dalam transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Koordinator Badan Meteorologi, Klimatologo, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah (Jateng) Sukasno menyebutkan, dikatakan musim kemarau apabila curah hujan per sepuluh harinya (satu dasarian) tidak sampai 50 milimeter. Dari hasil analisa BMKG, kedua daerah kurang dari angka tersebut. Kemudian diikuti dua dasarian berikutnya.

Sedangkan beberapa wilayah di Jateng masih mengalami curah hujan di atas normal. Diantaranya Jepara, Kabupaten Semarang, Temanggung, Salatiga, Boyolali, Magelang, Wonosobo, dan beberpa daerah di dataran tinggi,” jelasnya.

Baca juga:  Museum Kota Lama Belum Ramah Disabilitas

“Di beberapa wilayah masih sering hujan. Hanya Kota Semarang dan Kabupaten Grobogan bagian timur yang baru masuk musim kemarau,” kata Sukasno kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin (12/5)

Kondisi itu disebabkan oleh anomali suhu air laut di sekitar Pulau Jawa yang cukup hangat. Sehingga membantu terbentuknya awan konvektif yang berpotensi menjadi hujan. “Suhu itu akan bertahan hingga Oktober mendatang. Maka musim kemarau nanti cenderung basah. Tapi tidak lebih basah jika dibandingkan dengan tahun lalu,” terangnya.

Sementara itu, kondisi Outgoing Long Wave Radiation untuk Jateng menunjukkan anomali positif. Artinya sudah lebih banyak menerima radiasi matahari. Tutupan awan juga menunjukkan berkurang jika dibandingkan saat musim hujan berlangsung.

Baca juga:  Memacu Adrenalin di Atas Jet Ski

Hal senada juga diungkapkan Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Jateng Iis W Harmoko. Banyaknya daerah yang masih mengalami musim penghujan dikarenakan kondisi geografis. Terutama pada wilayah dengan kontur dataran tinggi. Seperti Pekalongan, Tegal, dan Pemalang bagian selatan yang dekat dengan Gunung Slamet. “Musim hujannya relatif lebih lama,” ujarnya.

Menurutnya fenomena tersebut wajar, sebab jika angin yang membawa uap air jika melalui wilayah pegunungan akan dipaksa naik. Sehingga dengan mudah membentuk awan kemudian hujan. “Jadi di Jateng ini hujannya orografis. Terbentuk di daerah pegunungan,” tuturnya.

Pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada menghadapi masa transisi ini. Sebab akan ada hujan yang terjadi saat sore maupun malam hari. “Biasanya yang dirasakan itu sumuk. Dan tetap hati-hati dengan bencana meteorologi seperti banjir bandang, longsor, dan genangan,” pungkasnya. (cr3/ida)

Baca juga:  Rumdin Camat dan Lurah Masih Banyak yang Nganggur

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya