alexametrics

Tak Ada Razia Anak Jalanan, Panti Sosial Mandiri Sepi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Selama pandemi Covid-19, Satpol PP tidak melakukan razia anak jalanan. Akibatnya jarang ada kiriman penerima manfaat (PM) ke Panti Pelayanan Sosial Anak Mandiri Semarang. Penghuninya pun kini tinggal 15 orang, Rabu (11/5).

Kepala Panti Erry Raharjono mengatakan, pihaknya dapat menampung maksimal 50 PM. Meski saat ini sepi, sejumlah penghuni yang ada tetap dibina dan mendapatkan rehabilitasi. Berbagai kegiatan pelatihan, keagamaan, sarasehan tetap berjalan setiap hari. “Sekarang kami malah ikut menampung rehabilitasi untuk Anak Berhadapan Hukum (ABH) juga,” tutur Erry kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa Badan Pemasyarakatan (Bapas) Anak di Jawa Tengah. Beberapa kali ia menerima kiriman dari Bapas Anak di Solo, Tegal, dan Purworejo. Saat ini, ia tengah membangun kerjasama dengan Bapas Anak di pati.

Baca juga:  Percepat Vaksin, Pemprov Jateng Dorong Vaksinasi Berbasis Desa

Diungkapkan, para ABH ini kebanyakan terjerat kasus pencurian, asusila, atau kekerasan seksual. Biasanya pihaknya melakukan assessment saat PM penghuni baru tiba. Lalu melakukan karantina selama seminggu. Kemudian program rehabilitasi mulai dari 3-6 bulan. Tergantung putusan dari pengadilan anak. “Berapapun jumlahnya, tetap kami bina, kegiatan tetap jalan,” jelas Erry.

Untuk dapat membina dan memfasilitasi lebih banyak PM pihaknya juga rutin bersurat degan Satpol PP dan Dinas Sosial kabupaten atau kota di Jateng setiap enam bulan sekali. Dengan begitu program rehabilitasi benar-benar diterima untuk sasaran yang tepat.

“Bagaimana pun kami tidak boleh menolak PM yang datang ke sini, kalau saat asessment dia tidak memenuhi syarat, maka kita carikan solusi,” tegasnya.

Baca juga:  Tiba di Tanjung Emas, 181 TKI Langsung Dijemput Satgas

Ia menilai ABH termasuk kategori anak dengan masalah kesejahteraan sosial. Pasalnya kasus kriminal anak cenderung terjadi dengan latar belakang keluarga miskin atau berpendidikan rendah.

Tak jarang keluarga PM sendiri kebingungan merespon anaknya. ABH tak langsung diterima kembali oleh masyarakat meski telah direhabilitasi. Pihaknya perlu meluruskan minset dan menguatkan mental anak sebelum ia betul-betul berbaur kembali di tengah masyarakat. “Anak-anak punk di sini paling banyak, bahkan usia 27 tahun pun ada,” ujar Erry.

Sejatinya panti anak menerima anak jalanan di bawah 17 tahun. Namun banyak yang menjadi anak punk sejak remaja. Ia pun memilih mengurus dan membekali mereka dengan berbagai keterampilan agar dapat bekerja dengan baik. (taf/ida)

Baca juga:  Yakin Koran Tetap Eksis di Tengah Era Digital

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya