alexametrics

Menginap Hanya Rp 3.000 Semalam, Pondok Boro Semarang Jadi Pilihan Para Perantau

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pasar Johar menjadi pusat perdagangan tak hanya untuk warga Kota Semarang tapi juga warga Jawa Tengah. Hal itu menjadikan banyak pedagang atau orang yang menggantungkan hidup di Pasar Johar sebagian berasal dari luar Kota Semarang.

Sebagian pedagang atau pekerja yang mengadu nasib di Pasar Johar dari luar Semarang memilih tinggal di Pondok Boro.

Pondok Boro adalah tempat penginapan bagi para pedagang dan pekerja dengan harga yang sangat terjangkau. Lokasi Pondok Boro terletak di Kampung Sumeneban, Kauman, Semarang Tengah.

Lemari tersusun diatas tempat istirahat mereka yang digunakan untuk menyimpan pakaian para pekerja yang tinggal di Pondok Boro. Suasana Dalam Pondok boro pada 20 April 2022. (Melvin Zaenul Asiqn/Jawa Pos Radar Semarang)

Wartawan radarsemarang.id menyempatkan untuk berbincang dengan salah satu pekerja di Pondok Boro yaitu Yono. Sebagai karyawan, beliau bertugas sebagai penjaga kebersihan dan keamanan di Pondok Boro, “Saya mengurusi bagian bersih-bersih, keamanan, ya komplit lah,” ujar Yono.

Baca juga:  Proyek PLTU Indonesia Power Terbakar, Karyawan Berhamburan Keluar

Tarif menginap di Pondok Boro ada dua kategori, yang pertama lesehan harganya Rp 3.000 per malam, dan yang kedua pakai kamar harganya Rp 100.000 per bulan.

Fasilitas yang didapat pada saat menginap di Pondok Boro yaitu tempat tidur dan kamar mandi. Pada awalnya, Pondok Boro didirikan untuk membantu pedagang-pedagang agar bisa memiliki tempat tidur dan beristirahat dengan harga sewa yang murah.

Namun seiring berjalannya waktu jumlah orang yang menginap di Pondok Boro semakin banyak. “Berdasarkan data, orang yang menginap di sini sekitar 300 orang, tapi sebagian ada yang pulang ke rumah dan tidak menentu,” sambungnya.

Hingga saat ini, Pondok Boro masih didominasi oleh penginap yang berprofesi sebagai pedagang, “Mayoritas penginap di Pondok Boro adalah pedagang yang berasal dari Kebumen, Sragen, Solo, dan macam-macam,” ujar Yono.

Baca juga:  Komitmen Cegah Pungli, Pemkot Semarang Kuatkan Mental ASN, Tutup Celah, Perketat Pengawasan

Rata-rata penginap di Pondok Boro merupakan pedagang Pasar Johar, hal ini dikarenakan jarak yang dekat antara Pondok Boro dengan Pasar Johar yang cukup dekat. Meskipun didominasi oleh pedagang, namun Pondok Boro tidak dikhususkan untuk pedagang saja, ada juga penginap di Pondok Boro yang berprofesi sebagai pekerja kasar.

Radarsemarang.id juga menyempatkan untuk berbincang dengan salah satu penghuni di Pondok Boro bernama Kayujan. Pria asal Kebumen itu berprofesi sebagai pedagang rokok yang biasanya berjualan di daerah Jalan Pahlawan dan Simpang Lima.

Kayujan biasanya berdagang pada sore ampai malam hari, setelah itu pulang ke Pondok Boro untuk beristirahat. Kayujan memilih Pondok Boro sebagai tempat beristirahat selama di Semarang karena tarif sewa per hari yang terbilang murah.  “Saya bertempat di sini waktu masih jaman 10 perak sampai sekarang harganya sudah jadi Rp. 3.000” ujar Kayujan ayang sudah menginap di Pondok Boro sejak 1973 itu.

Baca juga:  Bina Napi, Sediakan 20 Bengkel Kerja

Kayujan juga bercerita bahwa sistem sewa di Pondok Boro adalah harian, jadi jika tempat tidak ditinggali maka penginap tidak perlu membayar sewa, “Waktu korona itu saya empat bulan pulang ke Kebumen, dan tidak perlu bayar sewa karena di sini sewanya harian,” katanya. (mg1/mg2/mg3/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya