alexametrics

Kendalikan Sampah Makanan, Jangan Kalap Saat Berbuka

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Yayasan Gita Pertiwi menaruh perhatian khusus pada sampah makanan. Untuk mengendalikan timbulan sampah, mereka mengajak masyarakat bijak dalam mengonsumsi makanan. Harapannya, agar tidak menyebabkan lonjakan jumlah sampah sisa makanan selama Ramadan.

Terlebih mengingat 33 TPA di Jateng mengalami kelebihan kapasitas atau daya tampung. Selama ini sampah sisa makanan mendominasi sebanyak 38 persen dari semua jenis sampah di TPA. Pasalnya dari tahun ke tahun, bulan puasa menjadi langganan lonjakan sampah organik sisa makanan.

“Perilaku konsumsi di perkotaan cenderung kurang bertanggung jawab dan seringkali banyak menyisakan makanan,” kata Titik, ketua Yayasan Gita Pertiwi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Perilaku compulsive buying atau belanja secara berlebihan naik pada saat bulan puasa. Umat muslim berbelanja dalam kondisi menjalani puasa atau perut kosong, sehingga ada hasrat untuk memenuhi hawa nafsu lapar dan dahaga.

Baca juga:  Broto Kembali Pimpin Peradi Semarang

Masyarakat muslim dinilai merasa perlu menyajikan makanan lebih spesial dibanding hari biasa untuk berbuka puasa. Padahal sering kali konsumen hanya lapar mata. Kebutuhan konsumsi saat berbuka pun sejatinya tak jauh berbeda dengan satu kali porsi makan. Akhirnya kelebihan belanja makanan hanya terbuang sia-sia dan mencemari lingkungan.

Selama ini sampah makanan menyumbang 30 persen total emisi karbon yang ada. Pada riset yang pihaknya lakukan tahun 2017 setiap keluarga menghasilkan 1,4 kilogram sampah sisa makanan. Setara dengan 0,35 kilogram per orang. “Tahun 2019 kami riset lagi dan berkurang, 0,49 kilogram per KK setelah banyak advokasi dan gerakan kita gencarkan,” imbuhnya.

Namun saat pandemi 2021, Titik kembali melakukan riset dan jumlah sampah makanan dari konsumsi tiap individu bertambah kembali. Berada pada angka 0,73 kilogram setiap keluarga per harinya. Lebih lanjut pihaknya telah mengupayakan banyak hal. Mulai menyalurkan sisa makanan layak dari hotel di 14 titik bantaran sungai. Lalu mengolah sampah sisa makanan menjadi eco enzym, hingga budidaya magot. “Intinya ambil makanan secukupnya daripada menjadi sampah,” pungkasnya. (taf/ida)

Baca juga:  Terdakwa Pencabul Gagal Hadirkan Saksi Meringankan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya