alexametrics

Waspadai Talud Longsor dan Banjir

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Masyarakat Kota Semarang tetap harus mewaspadai bencana talud longsor dan banjir. Pasalnya bencana alam yang melanda Kota Semarang sepanjang 2021 berjumlah 432 kejadian, didominasi oleh talud longsor, banjir, dan pohon tumbang.

Menyusul bencana kebakaran, puting beliung, rumah roboh, dan rob. Sedangkan data rekapitulasi dalam kurun waktu Januari hingga April 2022 sudah terdata 169 kejadian bencana.

“Bencana talud longsor paling banyak terjadi. Khususnya di kawasan dataran tinggi,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang Winarsono kepada Jawa Pos Radar Semarang saat ditemui di kantornya Kompleks Terminal Penggaron, Jalan Brigjen Sudiarto, Pedurungan, Kota Semarang.

Adapun rincian bencana yang terjadi adalah talud longsor 146 kejadian, banjir 88 kejadian, dan pohon tumbang 78 kejadian. Menyusul kebakaran ada 46 kejadian, puting beliung 37 kejadian, rumah roboh 35 kejadian, dan banjir rob hanya 2 kejadian. Selama itu korban jiwa yang ditimbulkan berjumlah 6 orang.

Baca juga:  Tujuh Orang Tarik Gerbong 36,5 Ton

“Jika ditaksir, kerugian bencana sepanjang 2021 itu setara dengan Rp 1,188 miliar. Namun, jumlah tersebut lebih kecil di banding tahun sebelumnya yang berkisar Rp 2,593 milar,” katanya.

Pak Win, sapaan akrabnya menyebutkan, umumnya talud longsor terjadi saat musim hujan. Penyebab utamanya adalah curah hujan yang tinggi dan durasinya lama. Sehingga kontur tanah yang mudah retak, berbukit, dan tidak ada penyerapannya sehingga rawan longsor.

Di Kota Semarang, lanjutnya, ada beberapa titik yang perlu diwaspadai. Di antaranya Kecamatan Gajahmungkur, Candisari, Tembalang, Banyumanik, dan Gunungpati. “Meskipun tidak semuanya, hanya beberapa kelurahan saja,” ucapnya.

Pak Win melanjutkan, paling banyak longsor terjadi di rumah warga. Disebabkan karena kontruksi bangunan yang kurang kuat. Sebagian kecil juga melanda jalan umum, lereng, dan bantaran sungai. “Biasanya karena alirannya deras sehingga tanah terkikis dan longsor,” imbuhnya.

Baca juga:  Setahun, Zakat ASN Pemprov Jateng Rp 55 M

Pihaknya sudah lama melakukan sosialisasi daerah yang disinyalir rawan bencana. Terkhusus saat musim hujan tiba. Biasanya, tanah yang kering kemudian retak akibat musim kemarau, saat datang hujan berpotensi longsor.

BPBD juga telah mengimbau masyarakat untuk menghindari bermukim di dataran tinggi yang rawan longsor. Memperhatikan rumah dengan konstruksi yang kuat. Hindari membangun rumah tegak lurus, harus dibuat terasering. “Pada prinsipnya sudah kami informasikan. Membeli tanah di dataran tinggi rawan longsor. Namun tergoda karena harganya lebih murah,” pungkasnya. (cr3/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya