alexametrics

BPOM Kota Semarang Temukan Rhodamin B dan Formalin di Takjil

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Kota Semarang menemukan zat berbahaya dalam olahan pangan. Sejumlah sampel kudapan yang diteliti terdapat kandungan Rhodamin B dan Formalin. Hal itu ditemukan saat pelaksanaan intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadan dan jelang Idul Fitri 2022.

Kepala Balai Besar POM Kota Semarang Sandra MP Linthin mengungkapkan, intensifikasi pangan dilakukan dalam enam tahapan per enam minggu. Terhitung dari tahap pertama pada 28 Maret lalu hingga berakhir 6 Mei mendatang. Pengawasan pangan dilakukan untuk olahan kemasan dan jajanan buka puasa (takjil).

“Kita lakukan sampling dan uji cepat terhadap kandungan bahan berbahaya. Misalnya, Rodhamin B, Methanil Yellow, dan Formalin,” katanya, Jumat (22/4).

Saat ini, intensifikasi pangan sampai pada tahap IV. Dilaksanakan di 14 kabupaten atau kota di Jateng. Diprioritaskan pengawasan terhadap hulu rantai distribusi pangan. Antara lain, importir, distributor, Hypermarket, supermarket, toko, pasar tradisional, maupun penjual parsel.

Baca juga:  Ngalap Berkah, Umat Tionghoa Ikuti Ciswak

Pihaknya berhasil melakukan sampel terhadap 160 jenis kudapan dan minuman berwarna yang digemari masyarakat. Mulai siomay, sosis, bakso, tahu, sempolan, kue, hingga beragam sate. Minuman ringan berwarna, seperti es gempol, es mutiara, es buah, dan es cendol.

Hasilnya, pengawasan terhadap pangan takjil juga ditemukan dua zat bahan berbahaya. Yaitu, Rhodamin B dan Formalin. Zat Rhodamin B ditemukan pada kerupuk, es kelapa, dan bolu pelangi. Sedangkan Formalin dijumpai pada mi dan bakso, serta botok (olahan kelapa dan teri yang dibumbui dan dikukus).

Selain itu, pihaknya juga melakukan pemerikasaan terhadap 67 retail atau distributor. Hasilnya, 32 sarana (47,8 persen) masuk kategori produk tidak memenuhi ketentuan (TMK). Dari jumlah sarana itu, ditemukan 104 item produk dengan total produk TMK ada 585 buah. Terdiri atas 82 rusak, 141 ED (kedaluwarsa), dan 362 TIE (tanpa izin edar).

Baca juga:  Ada Bekas Jeratan di Leher PSK Online yang Ditemukan Tewas di Kamar kos

“Jumlah itu sama jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebagaian besar adalah jenis makanan ringan, madu, dan saos. Kemasan rusak juga ditemukan pada kaleng, seperti susu, sarden, dan buah dalam kaleng,” imbuhnya.

Di produk kemasan, lanjutnya, juga ditemukan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang belum memiliki izin edar. Di antaranya ovalet, pewarna, dan MSG. Selain itu juga dilakukan pemusnahan untuk produk makanan ringan yang kedaluwarsa dan BTP yang belum punya izin edar. Sedangkan untuk makanan kaleng yang rusak, dikembalikan ke distributor.

Sandra mengungkapkan, intensifikasi pangan ini akan terus berlanjut hingga tujuh hari pasca puasa. Ia mengimbau kepada para distributor atau supermarket untuk meningkatkan kualitas produk. Selain itu, kesadaran konsumen juga harus ditingkatkan dalam memilih produk yang aman dikonsumsi.

Baca juga:  Kerja Keras Tingkatkan Mutu Pendidikan

“Pelaku usaha harus punya kesadaran. Bagi yang tidak memenuhi ketentuan akan dibina langsung oleh petugas,” ujarnya.

Pihaknya mengajak masyarakat untuk peduli terhadapa pangan yang aman dan berkualitas. Cukup dengan melakukan CEK KLIK (kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa). Caranya, dengan menggunakan smartphone, download playstore dan pilih menu cek BPOM. Maka akan terlihat produk yang sudah teregistrasi.

“Jika tak ada data yang terlampir, perlu diragukan legalitasnya. Bisa dilaporkan ke Balai Besar POM Kota Semarang,” tandasnya.(cr3/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya