alexametrics

Harga Pupuk Tinggi, Petani Padi Beralih Tanam Edamame

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Harga pupuk tinggi petani beralih tanam edamame. Seperti yang terjadi di Desa Bentur, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen sebagian petani tidak menanam padi.

Kabul, salah satu petani yang beralih menanam edamame sejak tahun 2020. Komoditas utama petani adalah menanam padi. Namun, harga pupuk yang kian melejit serta harga beras yang turun drastis membuat pria 55 tahun ini mantap berpindah.

“Beli pupuk seharga beli besar, bahkan lebih mahal. Kalau diteruskan ya rugi kita mau dapat modal dari mana,” jelasnya.

Pria yang menjabat sebagai wakil ketua kelompok tani Guyub Rukun ini menambahkan pupuk yang bersubsidi sulit didapatkan. Harga satu kilogram pupuk sama dengan harga satu kilo gram beras.

Baca juga:  Konsep Vaksinasi Drive Thru Efektif Tekan Kerumunan

Ia beserta petani lainnya telah mengupayakan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, namun gagal. Dua tahun terakhir ini ia menanam edamame. Tanah 400 meter persegi bisa menghasilkan empat ton.

“Saat ini lebih senang menanam edamame. Selain panen lebih cepat hasilnya juga lebih nyata. Sekali panen saya bisa mendapat untung bersih Rp 8 juta,” terangnya.

Sementara itu, Heru juga beralih menanam edamame. Menurutnya bertanam edamame bisa menutupi kekurangannya saat menanam padi.

“Saya juga ikut menanam edamame. Hasilnya memang lebih bagus. Tapi saya sesekali masih menanam padi dan tanaman lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan masa tanam edamame untuk sayur membutuhkan waktu 70 hari. Sedangkan untuk benih 85 hari. Berbeda dengan padi yang membutuhkan waktu tiga sampai empat bulan hingga masa panen. Perawatan edamame pun lebih mudah dibandingan padi.

Baca juga:  Mantan Ketua PN Disanksi Non Palu

Saat ini sudah ada sembilan petani di desa Bentur yang beralih menanam edamame. Walaupun masih bekerjasama dengan perusahaan, namun hasilnya bisa dirasakan masyarakat. (cr4/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya