alexametrics

Suhu di Semarang Panas, Ini Penjelasan BMKG

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Belakangan ini suhu udara di Kota Semarang begitu panas. Siang hari matahari bersinar terik. Menyengat kulit. Bahkan, malam hari pun terasa gerah.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Semarang merespons kondisi peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat ini, khususnya pada siang hari.

Pihak BMKG menjelaskan, jika peningkatan suhu itu merupakan fenomena yang wajar terjadi. Namun masyarakat perlu waspada dengan efek yang ditimbulkan dari peningkatan suhu dan perubahan cuaca instan ini.

Prakirawan iklim dan cuaca BMKG Kota Semarang Tris Adi Sukoco menjelaskan, masa peralihan biasa terjadi di bulan Maret-April. Masa peralihan itu yang semula angin yang berasal dari arah barat (kawasan Asia) atau yang disebut angin baratan bertemu dengan angin yang berhembus dari arah timur (kawasan Australia) atau yang disebut angin timuran. Hal tersebut menyebabkan beberapa fenomena, di antaranya munculnya angin kencang, puting beliung, dan hujan disertai petir.

Baca juga:  6.915 Pelamar Lolos Seleksi Administrasi, Sanggahan sampai 8 Agustus

“Sebenarnya ini merupakan fenomena yang lumrah dan biasa terjadi.  Kalau di bulan April kan sesekali masih ada hujan. Sehingga tidak begitu terasa panas, tapi jika pas tidak ada hujan, cuaca panas terasa sekali,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Terpantau suhu Kota Semarang berada di angka 29 derajat celcius dengan kelembaban udara 70 persen pada Senin (18/4) kemarin yang diakses melalui website resmi BMKG. Kondisi kenaikan suhu terjadi, selain karena peningkatan emisi gas rumah kaca, juga karena tingginya laju perubahan penggunaan lahan.

Dikatakan, temperatur suhu rata-rata di Jawa Tengah  mengalami tren kenaikan selama 30 tahun terakhir meski tidak merata. Karena tengah wilayah daratan mengalami kenaikan lebih tinggi daripada pesisir. Peningkatan suhu di wilayah Jawa biasa terjadi pada April dan Oktober, dikarenakan kondisi matahari dekat dengan bumi. “Hal ini menyebabkan cuaca panas di beberapa wilayah,” katanya.

Baca juga:  Bacok Warga Kalibaru, Lima Anggota Gengster Diciduk

Disebutkan, suhu rata-rata pada masa peralihan bulan April di wilayah Semarang berkisar antara 32 hingga 34 derajat celcius. Sedikit berbeda pada masa peralihan bulan Oktober. Rata-rata suhu dapat mencapai 35 hingga 37 derajat celcius.

Ia menambahkan, masyarakat akan merasakan suhu panas hingga gerah ketika hendak turun hujan. Itu merupakan fenomena yang wajar dan lumrah. Sebab, panas matahari yang diterima bumi akan dipantulkan kembali ke langit. Namun jika ada awan atau kondisi mendung, panas yang dipantulkan tidak bisa dibuang atau di keluarkan secara maksimal.

“Panas yang kita rasakan itu kan tidak berasal langsung dari matahari, tapi pantulan dari bumi. Jika di atas kondisi mendung, panas dari bumi tidak dapat dipantulkan lagi ke langit. Ibaratnya seperti kita lagi di spa,” jelasnya.

Baca juga:  Targetkan Semarang Jadi Zona Hijau dalam Dua Bulan

Terkait musim mudik lebaran, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada perubahan cuaca pada masa transisi.

Tris mengatakan, masih adanya potensi hujan disertai petir, angin kencang berpotensi puting beliung, dan hujan-hujan lebat. Tanah yang semula kering rentan terjadi longsor jika terkena hujan. Selain itu, kondisi pancaroba menyebabkan perubahan cuaca, sehingga mempengaruhi kesehatan.

“Bagi pemudik diharap tetap waspada. Terutama terkait perubahan cuaca yang instan. Dari yang awalnya panas, tiba-tiba hujan deras. Begitu juga sebaliknya,” tandasnya. (cr6/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya