alexametrics

Momen Bahagia Tujuh Pasangan Penghuni Pondok Boro Semarang saat Ikut Nikah Massal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dewi Maryani dan Muhamad Raban tampak bahagia. Berkali-kali keduanya melakukan foto selfie dengan handphone masing-masing. Ia tak peduli meski banyak orang yang melihatnya. Dewi dan Raban adalah satu dari tujuh pasangan yang mengikuti nikah massal di aula kantor Kecamatan Genuk, Semarang, Selasa (12/4).

Kegiatan nikah massal ini diselenggarakan bersama-sama oleh Yayasan Anantaka, Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung, PKBI Jawa Tengah, PKK Kota Semarang, serta disupport oleh berbagai pihak termasuk Baznas Kota Semarang.

Nikah massal yang digelar di aula Kantor Kecamatan Genuk, Semarang, kemarin. Kegiatan ini diikuti tujuh pasangan yang rata-rata sudah berumah tangga namun belum menikah secara sah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

“Lega sudah bisa menikah secara sah. Dari dulu kami sudah bersama, dibilang pacaran tidak, dibilang menikah juga belum. Kami anak jalanan, pekerjaannya hanya mengamen. Tidak punya uang untuk biaya menikah. Berkat bantuan ini kami sudah sah menjadi pasangan suami istri,” jelas Dewi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pasangan ini juga sudah karuniai dua anak. Saat menikah kemarin, salah seorang anaknya diajak. “Kami sudah tinggal serumah, tapi belum punya surat-surat dan dokumen keluarga. Alhamdulillah, setelah punya surat nikah, saya akan urus semuanya,” kata wanita 45 tahun itu.

Baca juga:  Di Balik Karangan Bunga
Nikah massal yang digelar di aula Kantor Kecamatan Genuk, Semarang, kemarin. Kegiatan ini diikuti tujuh pasangan yang rata-rata sudah berumah tangga namun belum menikah secara sah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ramadan kali ini juga menjadi bulan yang sangat membahagiakan bagi pasangan Agung dan Andin. Keduanya tampak bahagia karena bisa menikah secara sah. Andin mengaku kesulitan menikah karena terkendala syarat administrasi lantaran suaminya berasal dari Banten.

“Semuanya gratis, mulai make up, kostum, mahar, kelengkapan administrasi, dan akomodasi tidak dipungut biaya. Kami juga dibantu dalam mengurus dokumen, sehingga lebih mudah,” ujar Andin.

Hal senada diungkapkan pasangan Widiyanto dan Yudia Marhaeni. Keduanya mengaku sudah berpacaran selama 10 tahun. Namun cukup kesulitan saat hendak mengurus pernikahan. Begitu ada program nikah massal untuk para warga Pondok Boro, mereka pun bersedia mengikutinya.  “Alhamdulillah lega sudah menikah. Selama ini mau nikah ribet, kebetulan ada bantuan, Alhamdulillah. Saya tahu nikah massal dari Rumpin Bangjo,” ungkapnya.

Baca juga:  Calo CPNS Keruk Rp 59 Juta
Nikah massal yang digelar di aula Kantor Kecamatan Genuk, Semarang, kemarin. Kegiatan ini diikuti tujuh pasangan yang rata-rata sudah berumah tangga namun belum menikah secara sah. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Nikah massal kemarin diikuti tujuh pasangan penghuni Pondok Boro, Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk. Selain ketiga pasangan di atas, ada empat pasangan lainnya yang dinikahkan secara resmi. Mereka adalah  Muhamad Udin dan Sriyani, Muhammad Sutardi dan Sri Setyowati, Sarwanto dan Dewi Manis, serta Andon dan Dewi Indah.

Direktur Yayasan Anantaka Tsaniatus Solihah mengatakan, mereka yang dinikahkan adalah pasangan yang sudah berumah tangga tapi belum menikah secara sah.  Para mempelai tidak dipungut biaya apapun. Pihaknya menggandeng sejumlah pihak untuk turut berkontribusi bersama mulai dari mahar pernikahan, make up dan kostum, hingga akomodasi transportasi dari Pondok Boro ke kantor Kecamatan Genuk.

“Mereka belum menikah secara sah karena terkendala administrasi kependudukan dan biaya. Kami membantu mulai dari penyiapan berkas seperti KTP, akta dan sebagainya agar mereka bisa mendapatkan legalitas,” jelasnya.

Baca juga:  Omzet Bandeng Duri Lunak Meroket Jelang Nataru

Kepala Kemenag Kota Semarang Mukhlis Abdillah yang hadir dalam kegiatan itu mendukung penuh adanya pernikahan massal ini. Dikatakan, sebagian masyarakat tidak menikah secara resmi karena mereka terkendala dalam biaya. “Semuanya gratis, Kemenag hanya memfasilitasi agar pernikahan tercatat secara resmi sesuai dengan Undang-Undang,” jelasnya. (cr4/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya