alexametrics

Sambut Ramadan, Warga Kampung Bustaman Semarang Perang Air

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Menyambut Ramadan, warga Kampung Bustaman perang air atau gebyuran pada Minggu (27/3). Tradisi tesebut dimulai sepuluh tahun lalu. Tepatnya saat menyambut bulan suci tahun 2021.

Perang air ini merupakan salah satu prosesi yang dinanti-nanti warga. Utamanya anak-anak. Gebyuran Bustaman kali ini mengambil tema Akas Waras alias sehat total. Tradisi ini konon diinspirasi oleh kebiasaan Ki Bustaman.

Tokoh masyarakat setempat, Hari Bustaman, menjelaskan, Kampung Bustaman didirikan pada 1743. Tradisi gebyuran pertama kali dilakukan oleh Kiyai Bustam. “Menjelang puasa, Kiai Bustam gebyur putu-putune (memandikan cucu-cucunya) di sumur,” katanya.

Sebelum perang air dimulai, warga menyiapkan 200 air berwarna. Wajah peserta gebyuran dicorat coret. Itu sebagai simbol dari kotoran dan angkara murka, kemudian dilakukan kirab budaya. “Lalu gebyur bareng-bareng dan makan gulai bareng-bareng dengan suka cita,” katanya.

Baca juga:  Kejar Herd Immunity, Pemkot Semarang Vaksinasi Keliling

Ketua Panitia Aprodita Syams mengatakan, acara kali ini terselenggara berkat kerja sama antara warga Bustaman, Disbudpar Semarang dan Kolektif Hysteria.

“Warga kampung dan Kolektif Hysteria memulainya 10 tahun lalu dan sekarang telah menjadi tradisi,” katanya pada media.

Rangkaian acaranya juga lebih semarak. Ada pengajian, ziarah bersama, musik, kuda lumping dan rebana, forum kampung, serta perang air itu sendiri.

Ketua RT 4 RW III sekaligus panitia kampung Aris Zarkasyi menambahkan, tahun ini cukup special, warga membuat pengajian untuk tokoh penting yang makamnya di dalam rumah warga.

“Makamnya sudah menyatu dengan rumah warga dan dulunya tidak teridentifikasi, setelah kami konsultasi ternyata beliau adalah Sayyid Abdullah, tokoh syiar di masa lalu,” katanya.

Baca juga:  Naik Motor ke TPS, Hendi: Proses Kami Percayakan ke KPU, Saya Bismillah

Sebagaimana kebiasaan warga Bustaman, sudah sejak lama festival kampung selalu peduli dengan kekayaan cerita rakyat dan potensi lokal.

Tradisi gebyuran rupanya menarik perhatian Wali Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Sulkarnain Kadir, yang saat itu menjadi peserta Summit Kota Sehat di Semarang. Dia sangat senang bisa hadir di tengah masyarakat Semarang. “Kegiatan ini merupakan pembelajaran bagaimana menjaga adat istiadat,” ujarnya. (fgr/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya