alexametrics

Cegah Abrasi, Besok Telkom Indonesia Tanam Ribuan Bibit Mangrove di SMC

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang-PT Telkom Indonesia bersama Yayasan Bakti Unggul Negeri akan melakukan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi di Semarang Mangrove Centre (SMC) Mangunharjo, Mangkang, Kota Semarang, Rabu besok (23/3/2022). Jumlah pohon yang disediakan sebanyak 15 ribu bibit mangrove atau tanaman bakau.

Rencananya akan ditanam dengan jarak tana 1×2 meter di lokasi 4 hektare lahan untuk pelestarian. Dengan begitu, satu tanaman pohon mangrove untuk konservasi bisa menyerap karbon sekitar 400 ribu kg CO2.

“Tanam mangrove ini untuk mencegah abrasi. Ini merupakan program penanaman pohon bakau dengan melibatkan masyarakat umum sebagai langkah mencapai emisi karbon bersih,” kata salah satu panitia penanaman Listiyanto.

Penanaman ini melibatkan petani atau masyarakat setempat untuk perawatan dan pelestariannya. Harapannya, para petani setempat perolehan pendapatan meningkat dan mendorong perekonomian lokal. Bahkan sebelumnya, 20 orang telah mendapatkan beragam pelatihan (Good Agricultural Practices, bisnis, literasi digital, dll). Selain itu, 30 persen perempuan berdaya dari program konservasi untuk peningkatan pendapatan.

Perlu diketahui, aktivitas manusia merupakan penyebab utama dari emisi gas rumah kaca (GRK) yang berdampak buruk bagi lingkungan. Emisi GRK meningkat terus menerus tiap tahunnya, sehingga memperparah krisis iklim. Sebagai konsekuensinya, bencana sering kali terjadi di berbagai belahan dunia, mulai dari tenggelamnya pulau-pulau kecil, gelombang panas, cuaca ekstrem yang kurang menentu.

Baca juga:  Bandar Sabu Malaysia Manfaatkan Bandara untuk Selundupkan, Seperti Apa Modusnya?

Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk mengurangi emisi GRK. Salah satunya dengan mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Penanaman pohon merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menyerap CO2 di atmosfer. Bahkan penanaman pohon ini dapat dilakukan dengan mudah oleh setiap lapisan masyarakat.

“Kegiatan penanaman pohon ini bertujuan untuk merestorasi pesisir di Indonesia guna menjaga keragaman hayati di kawasan tersebut sekaligus memberikan keuntungan sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Jika dirinci, penanaman mangrove ini memiliki manfaat di bidang lingkungan, di antaranya, mencegah abrasi, tempat hidup biota laut, menahan badai dan angin, mencegah tsunami, menyerap karbondioksida, dan menjaga kualitas udara.

Sedangkan manfaat secara ekonomi, turut meningkatkan sumber pendapatan nelayan, memberikan alternatif makanan ternak, menjadi destinasi wisata, dan memberikan kekayaan sumber obat tradisional.

Program penanaman yang dilakukan Telkom ini juga berkaitan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama pada target nomor 10) berkurangnya kesenjangan untuk pemenuhan hak sosial dan ekonomi masyarakat, 13) aksi untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya, 14) melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya kelautan dan samudera untuk pembangunan berkelanjutan. Dan 15) melindungi, memulihkan dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati.

Baca juga:  Vaksinasi di 10 Kota/Kabupaten Belum Maksimal, Ini Penyebabnya

Penanaman mangrove kali ini juga melibatkan IKAMaT dan KeSEMaT yang selama ini mengelola kawasan pesisir SMC di Mangkang dan Mangunharjo, Semarang. Namun SMC saat ini sedang mengalami penurunan kualitas. Hal ini dapat dilihat dari beberapa parameter, seperti rusaknya mangrove karena penebangan, kualitas perairannya yang buruk, pemanfaatan olahan mangrovenya yang belum optimal, dan sarana prasarana pembelajaran literasi mangrove yang belum optimal.

Jenis mangrove yang ditemukan di SMC Jateng, di antaranya Rhizophora, Avicennia, Bruguiera, Calotropis, Casuarina dan lain-lain. Mengingat lokasi mangrovenya yang terletak di kawasan industri, maka ancaman lahannya diperuntukkan untuk kegiatan lainnya sangat terbuka.

Wilayah Kota Semarang terbagi menjadi empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Genuk. Berdasarkan hasil perekaman dengan menggunakan Satelit IKONOS-Im (2009) dapat diketahui bahwa luas daratan pesisir di Kota Semarang 9.111,28 hektare (47,6 persen) dan luas wilayah perairannya 10.048,80 hektare (52,4 persen).

Baca juga:  Memacu Adrenalin di Atas Jet Ski

Di keempat kecamatan inilah, ekosistem di wilayah Kota Semarang tersebar. Berdasarkan perhitungan, idealnya Kota Semarang memiliki sabuk pantai seluas 325 hektare, akan tetapi hanya tersisa 15 hektare (4,61 persen) saja. Berdasarkan data statistik (2008), luasan hutan mangrove di Semarang sebanyak 11 hektare (73,33 persen) dalam kondisi kritis dan rusak, dan hanya ada 4 hektare (26,67 persen) saja, mangrove di Kota Semarang yang dalam kondisi baik.

SMC Jateng yang terletak di Kecamatan Tugu, termasuk kawasan kritis yang membutuhkan dukungan dari banyak pihak dalam upaya rehabilitasi dan konservasinya, demi penyelamatan kawasan pesisirnya di masa mendatang.

Kerusakan hutan mangrove di Kota Atlas ini menyebabkan erosi pantai dan kerusakan pada area tambak produktif warga sekitar. Selain itu, adanya pengaruh reklamasi yang kian bertambah, menyebabkan luasan hutan mangrove semakin berkurang.

“Kami warga di sekitar SMC, membutuhkan lebih banyak lagi bibit mangrove untuk ditanam di sekitar area kami. Karena banyak area di SMC terkena abrasi, apalagi pada saat musim baratan dan timuran yang gelombangnya tinggi, menyebabkan tingkat abrasinya makin parah,” kata Ketua Kelompok Pengolah Kopi Mangrove Arjuna Berdikari, Ferry Agung. (bis/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya