alexametrics

Sambut Hari Air, Warga Jatiwayang Semarang Arak Sembilan Kendi dan Gunungan Sayur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Warga Jatiwayang, Ngemplak Simongan membuka Festival Jatiwayang dengan mengarak sembilan kendi dari sumber mata air yang menghidupi warga setempat. Puluhan warga berkeliling pemukiman membawa air kendi, gunungan sayur, makanan, diiringi lantunan shalawat.

Rangkaian acara digelar pada Minggu (20/3/2022) dengan mengambil air dari sembilan sumber air yang dulunya menjadi sumber penghidupan Warga Jatiwayang. Sore hari, air dibawa bekeliling dan diserahkan kepada RW dan Lurah setempat. Lalu dilanjutkan dengan doa dan pesta rebutan gunungan oleh warga.

Pengurus Kolektif Hysteria Adin mengatakan acara tahunan sempat berhenti akibat pandemi. Namun karena warga sudah rindu dengan guyub rukun semacam ini, pihaknya bersama warga mengadakan lagi dengan prokes.

Baca juga:  Pemkot Semarang Target Pendapatan PBB Rp 577 Miliar

“Kolaborasi ini sudah sejak 2018, dan akhirnya bisa jalan lagi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Warga Jatiwayang, Ngemplak, Simongan membuka Festival Jatiwayang dengan mengarak sembilan kendi dari sumber mata air yang menghidupi warga setempat lalu dilanjutkan dengan doa dan pesta rebutan gunungan oleh warga Minggu (20/3). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ketua Panitia Waris Sutriono mengakui pentingnya Festival Jatiwayang. Pasalnya perubahan gaya hidup cukup merenggangkan interaksi sosial di wilayahnya. Maka dari itu Ia ingin menumbuhkan kembali keabraban dan kerukunan di sana.

Waris percaya kegiatan tahunan itu menjadi momen yang tepat untuk merekatkan hubungan antar warga sekaligus mengenang sejarah mereka.

Diceritakan pada tahun 1990-an warga setempat perlu menempuh satu kilometer untuk mengakses air bersih. Sumur-sumur itulah yang menjadi penghubung interaksi warga. Sekarang semua sumur itu menggunakan teknologi pompa air.

“Air itu diambil dari sumur yang kami kenal dari sejak masa lalu, ada di Manyaran sumur pak kodri, RW 1 berupa sumur umum, RW II milik pak royo, sumur ban, saikem (3), RW III sumur kepunyaan mbah sueb dan tentrem (2), dan satu sumur artetis punya pak ali, serta satu sumber dari PDAM,” pungkas Waris.

Baca juga:  Istri Wali Kota Pekalongan Sosok Penggerak Literasi

Jumlah sembilan kendi sendiri merepresentasikan setiap RT di RW 03. Warga berharap jelang 22 Maret Hari Air Sedunia mereka dapat terus mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Tanpa adanya air bersih warga tak dapat hidup dengan layak dan sehat. (taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya