alexametrics

Museum Mandala Bhakti Punya Ruang Teater 4 Dimensi yang Belum Dimaksimalkan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kota Semarang memiliki banyak gedung bersejarah. Salah satunya Museum Mandala Bhakti di Jalan Mgr Soegijapranata nomor 1, Barusari, Kecamatan Semarang Selatan.

Museum ini yang menyimpan banyak sejarah ini dilengkapi ruang teater 4D untuk menonton film. Bahkan pengunjung juga dapat menyewa kostum dan ikut berperan dalam film yang diputar. Sayangnya ruangan teater tersebut masih belum difungsikan secara optimal.

“Ruangan teater itu rencananya mau dibuka dan diresmikan setelah renovasi kemarin. Tapi terbentur pandemi akhirnya gagal semua,” ucap Dili Sulaiman, penjaga dan pemandu museum

Gedung dibangun tahun 1906 ini telah dibuka untuk umum sejak tahun 1987. Terdiri atas dua lantai dengan 30 ruangan. Kurang lebih 800 koleksi, yang terdiri atas lukisan, baju, pernak-pernik, buku-buku sejarah, senjata, hingga diorama yang menjelaskan kejadian kala itu. Di setiap ruangan memiliki kesan yang berbeda-beda sesuai dengan koleksi yang ditampilkan.

Baca juga:  Pasang 10.293 CCTV di Tingkat RT

Sejak direnovasi di tahun 2019 silam, Museum Mandala Bhakti tampak lebih terawat. Dinding bangunan dihiasi banyak mural. Sebagian besar mengisahkan tentang Pertempuran Pangeran Diponegoro. Mural atau lukisan juga dilengkapi dengan berbagai data, dokumentasi, dan beberapa barang peninggalan sejarah milik TNI yang digunakan kala itu. “Agar wisatawan tidak bosan, ada replika goa di lantai atas. Jadi seolah-olah kita menjadi bagian dari cerita sejarah tersebut,” jelas Dili Selasa (8/3).

Meski lalu lintas di sekitaran Bundaran Tugu Muda Semarang selalu ramai, namun hanya ada beberapa orang yang keluar masuk di area gedung seluas 12.000 meter persegi ini. Saat memasuki museum kesan pertama yang dirasakan adalah sepi. Hanya ada penjaga di pintu masuk yang bertugas mengurus tiket dan administrasi museum. Pengunjung hanya dikenai biaya sebesar Rp 5.000 per orang.

Baca juga:  Hendi Pesilahkan Pedagang Tempuh Jalur Hukum

Rata-rata pengunjung museum didominasi kalangan pelajar tingkat TK hingga SMP. Tetapi semenjak pandemi Covid-19 dua tahun silam, jumlah pengunjung merosot drastis. Padahal tahun 2018 jumlah pengunjung mencapai 6.000 per bulan. Namun kini, kunjungan wisatawan bisa dihitung jari tiap harinya. “Dulu rombongan anak-anak sekolah diangkut beberapa bus datang kesini. Tapi selama pandemi, ya bisa dihitung. Kadang lima sampai 10 orang saja,” katanya.

Dili juga mengeluhkan, belum adanya dukungan dan campur tangan dari pemerintah secara nyata. Dirinya berharap agar museum ini dapat lebih diperhatikan dan didukung. “Setidaknya, kami lebih dianggap dan diakui agar keberlangsungan museum ini tetap terjamin. Karena selama ini hanya diurus oleh TNI,” ungkapnya. (cr6/ida)

Baca juga:  160 UMKM Meriahkan Blanjan Warga Kelurahan Plombokan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya