alexametrics

Dahlan Iskan : Saat Ini, Eranya Bisnis Kolaborasi

Sharing Bisnis dengan HIPMI Jateng

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Era bisnis zaman dulu adalah era kompetisi atau membunuh usaha kompetitor untuk bisa eksis. Namun sesuai perkembangan zaman, era saat ini lebih ke kolaborasi. Meskipun lini bisnis atau usaha memiliki kesamaan.

Hal tersebut ditegaskan pengusaha sekaligus mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan saat memberikan tips dan trik terkait dunia usaha kepada anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jateng ketika acara Diklatda, Pelantikan, dan Rakerda XV BPD Hipmi Jateng di Hotel Dafam Semarang Kamis (3/3).

Abah -begitu Dahlan disapa- sharing pengalamannya di dunia usaha yang membesarkan namanya di depan Billy Dahlan yang kini menjabat sebagai dewan pembina dan Ketua Baru Hipmi Jateng Wulan Rudi.

Baca juga:  Tanah Airku Itu

Menurut Dahlan, atmosfer persaingan bisnis pada zamannya sangat kental. Bahkan dirinya sempat memiliki prinsip tidak akan melakukan seperti yang dilakukan oleh kompetitor bisnisnya. Namun, saat ini dia memperhatikan persaingan tersebut sudah tidak ada lagi. “Mungkin zamannya sudah beda. Saat ini eranya kolaborasi agar maju bersama,” jelasnya.

Enterpreneur, kata dia, terbagi menjadi dua, yakni pengusaha yang berawal atau dirintis dengan real, kerja keras, air mata, dan keringat. Serta bisnis yang tidak real, tapi cepat memberikan keuntungan. Misalnya menjadi tim sukses. Bisnis dilandasi kepercayaan, bukan seperti politik yang bertentangan.

“Artinya bisnis yang dimulai dengan keringat, akan memiliki ruh. Saat ini pemerintahan tidak lagi desentralisasi karena otonomi daerah. Tapi politik masih tersentral di Jakarta,” tambahnya.

Baca juga:  Sukirman Dukung Penerapan TTG

Dahlan juga menyoroti perkembangan Covid-19 di Indonesia yang sudah terjadi dua tahun terakhir. Ia memprediksi jika tahun ini pandemi bisa rampung dan Covid-19 dianggap sebagai flu biasa. Namun Dahlan menyebut jika dampak dari Covid-19 ini masih kan dirasakan sampai dua tahun ke depan, terutama pada bisnis yang bergantung kepada anggaran negara ataupun APBD.

“Seberapa besar anggaran itu mematikan bisnis kita, intinya adalah ada dua hal yang bisa mematikan enterpreneur. Yakni jadi tim sukses dan yang kedua adalah bergantung pada anggaran negara,” jelas Dahlan.

Dahlan bersyukur, nahkoda HIPMI Jateng saat ini berbasis bisnis yang real. Ia khawatir jika nantinya diisi oleh orang yang berbisnis non real maka tidak dapat diprediksi nasib HIPMI ke depan. “Saya bersyukur HIPMI Jateng memilih ketua umum yang konsisten memilih bisnis real,” pungkasnya. (den/cr3/ida)

Baca juga:  Titanium Megawati

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya