alexametrics

Sampah Menumpuk di Muara Banjir Kanal Timur Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Muara sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang berubah menjadi pulau sampah. Gunungan sampah itu mengumpul hampir seluas lapangan sepak bola. Selain meresahkan warga sekitar, juga dikhawatirkan menjadi pencemaran dan merusak biota laut.

“Ada dua titik pulau sampah di wilayah pesisir Tambakrejo. Satunya berada di dekat permukiman warga. Paling luas yang di muara. Kita sebagai warga pesisir yang kena dampaknya, dapat kiriman sampah dari aliran sungai BKT,” keluh warga sekitar, Masrohan, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (2/3).

Tumpukan sampah tersebut memenuhi sepanjang pesisir Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara. Warga setempat menyebutnya sebagai pulau sampah. Di dalamnya, ada sampah kemasan deterjen, bungkus shampo, popok bayi, minuman sachet, hingga kasur, termasuk ban bekas.

Menurut pria yang sehari-hari menjadi nelayan ini, sampah tersebut tak dapat dimanfaatkan. Justru keberadaannya sangat mengganggu aktivitas warga yang mengandalkan mencari ikan untuk menopang kebutuhan hidup. Bukannya mendapatkan ikan, pancing mereka malah menyangkut sampah.

Baca juga:  27 Ribu Warga Semarang Antre Rekam Data E-KTP

Iya, beberapa kali dapat popok bayi, paling sering plastik. Kalau dikumpulin ada satu tong sampah. Saya sebenarnya tidak hobi mancing. Tapi, karena tak melaut, maka pilih mancing buat lauk makan. Misalnya, dapat ikan banyak ya nanti dijual lagi,” bebernya.

Menurutnya, keberadaan pulau sampah itu muncul sejak 2020 atau selepas normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Namun paling parah tahun ini.

“Imbasnya ya merusak biota laut. Ikan menjadi berkurang. Bisa jadi, ikannya malah kurang gizi. Dulu, mancing di sini dapat 10 ekor itu biasa. Sekarang dapat seekor saja susahnya minta ampun. Sebab, umpannya banyak tertutup sampah,” keluhnya.

Manajer Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah Iqbal Alma menyebutkan, sampah berasal dari aliran sungai BKT. Kemudian menumpuk di hilir BKT atau di sepanjang pesisir Tambakrejo, Tanjung Mas, Semarang Utara.

Baca juga:  Naik Pikap dari Tangerang, Pemudik Ditilang di Demak

“Dulu hanya datar saja, sekarang membentuk perbukitan, luas sampah sekitar lapangan sepak bola. Tingginya lima meter dari dasar sungai,” katanya.

Menurutnya, fenomena pulau sampah itu merupakan kejadian tahunan, dan volumenya terus bertambah. Pihaknya menyebut, sebelum adanya proyek BKT, pulau sampah itu merupakan kawasan sabuk hijau berupa hutan mangrove. Lantaran ada proyek BKT, hutan mangrove berkurang drastis.

“Proyek itu sampai sini sekitar tahun 2019-2020, setelah itu pulau sampah mulai muncul,” jelasnya.

Pihaknya sebenarnya juga sudah pernah bergotong royong bersama warga dan mapala (mahasiswa pecinta alam) membersihkan sampah dari aliran sungai. Jumlah sampah yang berhasil dikeruk warga waktu itu kurang lebih sebanyak tiga truk. Namun kiriman sampah dari aliran sungai BKT terus berdatangan, dan kembali terjadi tumpukan sampah.

Baca juga:  Jumlah Pelari Asing Naik Dua Kali Lipat

“Kalau pulau sampah ini entah ada berapa ton atau berapa truk, karena luas dan menumpuk tinggi,” ujarnya.

Iqbal menambahkan, imbas dari adanya pulau sampah sangat mengganggu kehidupan biota laut di sekitar muara dan pantai Tambakrejo. Terutama jenis ikan yang terpapar mikro plastik dari sampah tersebut. Padahal ikan tersebut dipancing warga untuk dikonsumsi.

“Jadi, dampaknya balik lagi ke kita. Sebenarnya juga sudah menghubungi beberapa kanal pemerintah untuk melaporkan kondisi sampah ini. Tapi belum ada tindak lanjut. Harapan kami bersama warga, ya secepatnya dilakukan penanganan,” harapnya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya