alexametrics

Makin Sepi Penumpang, Jual 55 Unit Angkot

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Mobil angkutan kota (angkot) di Kota Semarang terus kehilangan penumpang. Di tengah merebaknya transportasi online, Bus Trans Semarang dan Trans Jateng, angkot semakin ditinggalkan masyarakat.

Jamari, sopir angkot yang juga pengusaha angkot sebelum pandemi Covid-19 memiliki 75 unit angkot yang dia sewakan. Namun saat ini, tinggal 20 unit angkot yang tersisa. “Sebanyak 55 unit angkot sudah saya jual,” tegasnya.

Jamari menambahkan angkotnya dijual ke luar kota. Selain dicat ulang, kebanyakan angkot miliknya dibuat mobil angkut barang. Ia berharap dengan 20 angkot miliknya tetap bisa bertahan dengan penumpang yang ramai lagi seperti dulu.

“Sekarang angkot sepi, hanya mengandalkan bakul-bakul di pasar,” ujar Jamari, pengusaha angkot asal Manyaran.

Baca juga:  Kelurahan Sadeng Gelar Bazar untuk Pasarkan Produk UMKM

Lebih parah lagi, kata Jamari, saat pandemi Covid-19, anak sekolah belajar daring. Hal ini membuatnya kehilangan pelanggan. Bahkan, saat pembelajaran tatap muka (PTM) anak-anak dianjurkan naik ojek online (ojol) atau dijemput keluarganya.

“Sepi sekali. Apalagi anak sekolah tidak boleh naik angkot. Praktis hanya mengangkut pedagang langganan saya. Hanya itu,” katanya.

Biaya sewa angkot dan pendapatan tidak sebanding. Sebelumnya sehari bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Sehari dapat PP tiga sampai empat kali. “Tapi untuk sekarang, bisa dapat uang untuk sewa angkot saja sudah Alhamdulillah,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Terkadang sopir yang lain tidak membayar utuh sewa angkot padanya. Namun, Jamari tetap menerimanya. “Biaya sewa angkot sehari Rp 70 ribu. Tapi mereka bayarnya hanya Rp 35 ribu,” ujarnya.

Baca juga:  Jenjang SD Bisa Pilih Tiga Sekolah, SMP Empat Sekolah

Sementara itu, Yati penumpang angkot asal Johar mengaku hanya menggunakan angkot seperlunya saja. “Kalau nggak ada yang ngantar, saya baru naik angkot,” jelas Yati.

Menurutnya angkot masih diperlukan untuk masyarakat sepertinya yang gagap menggunakan teknologi. “Saya lebih suka naik angkot dari pada ojol, karena nggak tahu caranya. Masih gagap teknologi,” ujarnya. (cr4/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya