alexametrics

HUT ke-475, Pemkot Semarang Fokus Atasi Stunting

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangPemasalahan untuk menyelesaikan stunting masih menjadi salah satu fokus Pemerintah Kota Semarang. Salah satunya dalam pembangunan manusia, yang harus menyentuh semua komponen masyarakat dengan inovasi yang terus dilakukan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjelaskan, jika saat ini Pemkot Semarang berhasil mencatatkan berbagai capaian positif di tengah pandemi yang belum usai.  Hendi begitu ia disapa menjelaskan jika masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikejar.

Jika mengikuti komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang digunakan sebagai tolok ukur saat ini, maka ada tiga hal yang harus jadi fokus utama, yaitu ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

“Walaupun saat ini kita masih menghadapi pandemi, namun kita mampu mencatatkan sejumlah capaian positif terkait Indeks Pembangunan Manusia di Kota Semarang, yang naik dari 83,05 di tahun 2020 menjadi 83,55 di tahun 2021,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela membuka rangkaian HUT ke-475 Kota Semarang di halaman Balai Kota Semarang, Rabu (2/3).

Baca juga:  Ponpes Life Skill Daarun Najaah Bekali Santri dengan Ilmu Falak

Sementara terkait komponen ekonomi, pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang saat ini naik sebesar 5,16 persen di 2021, yang sebelumnya -1,85 persen di 2020. Dia berharap pembangunan manusia di komponen kesehatan dan pendidikan kita juga bisa melakukan upaya yang luar biasa.

“Termasuk stunting, tahun 2019 angka stunting Kota Semarang 2,57 persen, lalu setelah pandemi di 2020 naik menjadi 3,13 persen. Dan, saat ini 3,10 persen, hanya turun 0,03 persen . Maka ini perlu upaya khusus,” tegasnya.

Ia berharap, dengan momentum hari jadi Kota Semarang, harus digunakan untuk melakukan program dan inovasi yang konkrit untuk menyentuh masyarakat. Maret ini, kata dia, akan dimulai pemberian makanan tambahan dan susu untuk balita yang masuk kategori stunting.

Sebelumnya, Hendi menyoroti perbedaan data antara pusat dan daerah masih menjadi kendala, khususnya terkait angka stunting. Dari data Pemkot Semarang, saat ini tercatat 1.367 anak yang mengalami stunting atau 3,1 persen dari total balita 44.058 anak. Namun di data pusat tercatat 21,3 persen.

Baca juga:  Tracking Selesai, Pastikan DPRD Aman

“Data masih jadi persoalan rumit. Kalau 1.367 dari usia balita itu 3,21 persen. Kemenkes kok 21,3 persen,” tuturnya.

Hendi menyebut banyak ibu yang belum paham soal gizi untuk anak. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi. Selain itu, pemerintah juga melakukan pemberian makanan bergizi sehari tiga kali selama tiga bulan.

“Kita membagikan makanan gizi sehari tiga kali selama tiga bulan, dan pemberian susu, termasuk vitamin lewat program Dinkes. Kalau angkanya hari ini sangat menakutkan, tapi saya yakin tahun depan sudah bisa turun sangat drastis,” katanya optimistis.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang M Abdul Hakam memastikan telah memulai program pemberian makanan tambahan (PMT) dengan anggaran sekitar Rp 6,7 miliar.

Baca juga:  Tak Memungkinkan Diperbaiki, SDN Jabungan akan Direlokasi

“Kita sudah mulai tanggal Maret ini untuk PMT. Untuk anggarannya sendiri sekitar Rp 3 miliar, sedangkan untuk susu sekitar Rp3,7 miliar di Dinas Ketahanan Pangan,” tutur Hakam. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya