alexametrics

Pedagang Pecah Belah Dipindah ke Johar Tengah Lantai Dua

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangEntah saat penataan lalu kurang maksimal atau memang ada ‘permainan.’ Yang pasti, pada penataan ulang kali ini para pedagang Johar Tengah dan Utara harus siap-siap pindahan lagi. Kali ini, penataan dengan sasaran pedagang barang pecah belah.

Mereka yang saat pengundian E-Pendawa mendapat lapak di lantai satu Pasar Johar Tengah dan Utara, kemarin dipindah ke lantai dua Pasar Johar Tengah. Tercatat, ada 25 pedagang yang harus angkut-angkut lagi. Di lantai dua Johar Tengah, total akan ada 50 pedagang pecah belah.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Nurkholis menjelaskan, penataan dilakukan sesuai dengan zonasi yang ditetapkan, serta memudahkan pengunjung untuk berbelanja. Selain itu, juga membuat komunitas pedagang menjadi nyaman jika berjualan dalam satu zona.

“Kita sesuaikan dengan zonasi. Sebanyak 25 pedagang pecah belah kita pindah ke Johar Tengah lantai dua. Total keseluruhan ada 50 pedagang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (1/3).

Dinas Perdagangan, kata dia, tidak memaksa pedagang untuk pindah. Namun pedagang yang tidak sesuai zonasi diminta untuk menyesuaikan zonasi yang sudah ditetapkan. Artinya, pedagang pecah belah jika ingin tetap tinggal di lantai satu, harus mengubah dagangan misalnya konveksi.

Baca juga:  Pembobol ATM Beraksi Lagi, Kali Ini Sasar Indomaret Jalan Syuhada Raya

“Konsep awal dulu adalah sistem zonasi. Nah, kalau mau pindah ya monggo. Misalnya tidak ya tidak kami paksa, namun barang yang dijual harus menyesuikan dengan zonasi yang sudah ditetapkan,” tegasnya.

Secara keseluruhan, lanjut mantan Kepala Dinas Perikanan ini, penataan sudah mencapai 60 persen. Targetnya masih sama, yakni sebelum Ramadan penataan bisa rampung. Meski begitu, pekerjaan rumah yang belum selesai adalah mengisi lapak zonasi asesoris dan konveksi yang kosong.

“PR-nya adalah mengisi yang dipindah. Pedagang gerabah dan konveksi nanti akan kita evaluasi juga yang kosong kita isi sesuai dengan zonasi,” bebernya.

Nurkholis mengimbau bagi pedagang yang sudah mendapatkan lapak dan belum mengurus Berita Acara Serah Terima (BAST) untuk bisa segera mengurusnya. Tujuannya, untuk memudahkan perhitungan lapak kosong, dan bisa diisi dengan pedagang lainnya jika memang tidak ditempati.

“Pedagang yang dipindah ke lapak baru, misalnya yang dari lantai satu ke dua ini, kami minta melapor untuk menyesuaikan perubahan data lapak, biar sinkron juga dengan data dari E-Pandawa,” katanya.

Baca juga:  Bisnis Ayam Crispy

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto menjelaskan, jika pihaknya akan mengawal penataan pedagang Pasar Johar. Selasa (1/3) kemarin, dari total 50 pedagang pecah belah, baru separo yang dipindah ke lantai dua Johar Tengah, dan wajib mengemasi barangnya maksimal Rabu (2/3) hari ini.

“Kami koordinasi dengan koordinatornya, ada 50 pedagang yang akan pindah, tapi hari ini (kemarin, Red) kita ambil 25 pedagang dulu. Tapi, saya pastikan besok (hari ini) semua pedagang pecah belah ini naik ke lantai dua,” tegasnya.

Untuk lapak yang ditinggalkan pedagang pecah belah di Johar Tengah dan Utara lantai satu, lanjut Fajar, nantinya akan diisi pedagang sesuai dengan zonasi yang ada. Nantinya penataan akan dilakukan Dinas Perdagangan secara bertahap. Selain itu, ia meminta agar dinas bisa mengeluarkan BAST bagi para pedagang yang sudah pindah sesuai zonasi.

“Kita apresiasi pedagang yang mau pindah dan ditata sesuai zonasi. Komitmen awal kita menata Johar sampai rampung. Intinya, kita tidak ingin saling curiga dan tidak ada polemik lagi,” katanya.

Baca juga:  BRT Jangkau Wilayah Pinggiran, Ribuan Pencari Kerja Kirim Berkas

Ketua kelompok pedagang pecah belah Sri Widodo menjelaskan, usaha Pemkot Semarang untuk bisa mengakomodasi pedagang dan mengembalikan ke tempat asal ini patut diapresiasi. Sebab, pedagang bisa untung karena pembeli tidak lagi kesusahan jika penataan dilakukan sesuai zonasi.

“Penolakan pasti ada, tapi kalau tidak mau pindah kan ya monggo. Sesuai aturan harus sesuai zonasinya. Misalnya, tetap mau di bawah ya harus menyesuaikan dagangannya, yakni jenis konveksi,” jelasnya.

Yayok Marono, salah satu pedagang pecah belah yang enggan dipindah ke lantai dua mengaku siap mempertahankan lapak yang didapat dari  pengundian E-Pandawa. Ia pun enggan mengubah barang dagangannya, karena sejak awal berjualan ia sudah perabotan pecah belah. “Saya nggak pindah, dan tidak mau ganti dagangan. Lagian tidak jelas kalau naik, tempatnya mana tidak jelas,” keluhnya.

Selain itu, Yoyok juga sudah membenahi lapaknya dengan biaya yang tidak murah. “Saya harus bongkar-bongkar lagi, dan membuat pengaman kios lagi,” katanya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya