alexametrics

Isra Mikraj, Ingatkan Perintah Salat Lima Waktu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Ratusan warga mengikuti pengajian Isra’ Mikraj di Masjid Agung Kauman Semarang, tadi malam. Masyarakat mengikuti dengan khusyuk dan menaati protokol kesehatan (prokes). “Tidak dibatasi, hanya saja harus prokes untuk mencegah penyebaran pandemi,” ujar Abdul Wahid, 62, Sekretaris Yayasan Masjid Agung Kauman.

Pengajian Isra Mi’raj telah menjadi agenda tahunan di Masjid Agung Kauman. Pengajian tadi malam menghadirkan Dr KH Fadlolan Musyaffa’ LC. MA.  “Beliau pengasuh Ponpes Fadhlul Fadhlan, Mijen, Semarang,” jelasnya.

Selain dapat dihadiri secara secara langsung, acara ini dapat diikuti melalui Youtube Masjid Agung Semarang.

Abdul Wahid menambahkan, pengajian dalam rangka memperingati Isra Mi’raj ini untuk mengingatkan umat muslim mengenai perintah salat. Kewajiban salat awalnya 50 waktu dalam sehari. Kemudian Nabi Muhammad SAW meminta kepada Allah SWT untuk meringankannya. Dispensasi tersebut menjadi lima waktu salat dalam sehari.  “Tidak hanya penjelasan mengenai salat, ceramah juga berisi nasehat di segala aspek kehidupan, ” katanya.

Baca juga:  Tetangga Sempat Mendengar Suara Teriakan Tiga Kali

Sementara itu, masyarakat Kelurahan Pongangan, Kecamatan Gunungpati menggelar peringatan Isra’ Mikraj dengan nyadran di tiga tempat, Minggu (27/2). Yakni, di Pemakaman Sikucing RW 1, Pemakaman Sibronjong, dan Pemakaman Siluwak RW 2.

Pagi itu, sekitar pukul 06.30, warga Kelurahan Pongangan berbondong-bondong mengikuti Nyadran Kubur. Nyadran Kubur merupakan rangkaian tradisi masyarakat Pongangan sesudah Nyadran Sendang dan karnaval. Dilakukan di makam para leluhur pada Minggu Wage Bulan Rajab.

Ketua RW 1 Kelurahan Pongangan Imam Supriyadi menjelaskan, tradisi nyadran kubur bertujuan untuk mendoakan para arwah leluhur yang sudah berjalan bertahun-tahun. “Dibuka dengan salawat Burdah, kemudian sambutan dari sesepuh masyarakat, lalu yasin tahlil di Pemakaman Sikucing ini,” jelasnya.

Terdapat tiga tokoh agama yang dituakan di Pemakaman Sikucing, yakni Mbah Musa, Mbah Ridwan, dan Mbah Munawar. “Mbah Citro Sutodiharjo atau pemerintah di sini juga ada di sini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Minggu (27/2).

Baca juga:  Talut Longsor Timpa Tiga Rumah di Kelurahan Ngijo Gunungpati

Dua minggu sebelumnya, terdapat Nyadran Sendang. Yakni, membersihkan sendang yang digunakan masyarakat agar bersih. “Setelah itu, kemarin ada karnaval dan hari ini (kemarin) nyadran kuburnya. Kemudian pengajian umum dengan membawa jajanan,” tuturnya.

Di RW 2 Kelurahan Pongangan, terdapat dua tempat yang digelar sadranan, yakni Pemakaman Sibronjong dan Pemakaman Siluwak. Makam Sibronjong mempunyai tokoh yang dituakan, yakni Syekh Badrotin Sentanu yang merupakan pendiri Desa Pongangan, dan pengikutnya, Syekh Suro Menangan.

Juru kunci makam Syekh Bardrotin Sentanu, Mahmud, menceritakan, Syekh Badrotin Sentanu berasal dari Kerajaan Surakarta, kemudian mendirikan Desa Pongangan sebelum ada Semarang. Bersama pengikutnya, yakni Syekh Suro Menangan yang dimakamkan di dekat Syekh Badrotin Sentanu, temannya Mbah Kasab yang dimakamkan di Mekah, dan Pangeran Benowo dimakamkan Pegandon Kendal. “Itu satu perjuangan dari Surakarta Hadiningrat,” jelasnya.

Baca juga:  Vakum Dua Tahun, Nyadran Sendang Putri dan Sendang Sirawan Kembali Digelar

Keterkaitan dengan Nyadran Sendang merupakan tradisi masyarakat. Sendang sebagai petilasan para leluhur. “Itu beriringan, dan tradisi memperingati Isra’ Mikraj” jelasnya didampingi tokoh agama, Yasir.

Sementara itu, Pemakaman Siluwak, kata Yasir, memiliki tokoh yang dimakamkan di sana, yakni Mbah Abdul Wahid. “Jadi, seluruh warga nyadran di makam terlebih dahulu, kemudian pengajian bersama. Masyarakat membawa makanan tiga bungkus. Setelah ngaji, makanannya dibagikan,” ungkapnya.

Lurah Pongangan Suluri mengapresiasi kegiatan peringatan Isra Mikraj masyarakat Kelurahan Pongangan. Bahkan, pihaknya menyiapkan wisata religi di Kelurahan Pongangan. “Karena Pongangan itu destinasi wisata, nantinya makam Badrotin Sentanu dan pemakaman lainnya dapat terhubung sendang. Sehingga ada nilai sejarahnya dan religinya,” ujarnya. (cr4/fgr/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya