alexametrics

Semarang Butuh Skatepark

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebanyak 30 anak latihan skateboard secara bergiliran di GOR Tri Lomba Juang Kota Semarang Kamis (17/2). Mereka biasa latihan setiap hari di tempat yang terbilang kecil.

Pelatih Cross Fire Skates School Kevin Henadi menuturkan, tempat untuk skateboard di Kota Semarang terbilang minim. Bahkan tempat untuk melatih anak-anak di GOR Tri Lomba Juang tergolong kecil.

“Harapannya Pemkot Semarang atau dinas terkait bisa memfasilitasi tempat skateboard dengan menggandeng komunitas yang lebih paham,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurutnya, skateboard bisa dikatakan olahraga ekstrem dibanding olahraga lain. Tingkat cideranya lebih besar dari olahraga lain. Selain itu, peralatan olahraga ini berbeda dan tergolong mahal.

Baca juga:  Perempuan Berperan Tekan Kemiskinan

Di Cross Fire Skates School, pihaknya mengajarkan teknik keseimbangan, motorik untuk menyesuaikan kaki dan badan di atas papan. Misal di olahraga lain diajarkan kuda-kuda, sepakbola ada balance kanan kiri, dan teknik lainnya. Bedanya skateboard adalah di atas papan.

“Sekolah ini sudah berjalan selama kurang lebih dua tahun dan sudah ada 30 anak yang dilatih setiap hari. Sebelumnya, saya pernah mengajar beberapa private sejak 2012,” tuturnya.

Sementara itu pihak orang tua, Wendra Raditya mengaku, anaknya minta papan skate dan dia latih sendiri. Tapi lama-kelamaan anaknya lebih tertarik dan berminat latihan skateboard secara serius.

Dia mengajak anaknya latihan di GOR Tri Lomba Juang, melatih dasar-dasar bermain skateboard, seperti kayuhan dan bagaimana di atas papan. Supaya tekniknya lebih benar, gerakan dasarnya juga lebih benar, akhirnya masuk sekolah khusus. “Karena dia minat dan kebetulan saya juga suka skate dari kecil,” ujarnya.

Baca juga:  Teladani Sifat Welas Asih Kwam Im Po Sat

Anak Wendra masih berusia 10 tahun dan sedang menempuh pendidikan SD kelas 5. Anaknya baru mengikuti latihan dua kali. Namun sebelumnya, anak Wendra yang biasa disapa Agra, sudah memiliki dasar-dasarnya. Sehingga tidak terlalu susah untuk adaptasi dengan pelatih.

“Kalau teknik-teknik keseimbangan, bagaimana jatuhnya, saya kan tidak tahu. Jadi ya saya sekolahkan,” katanya. (cr1/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya