alexametrics

Kampung Pelangi Semarang Mulai Memudar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebelum pandemi, Kampung Pelangi menjadi tujuan wisata yang instagramable di Kota Semarang. Destinasi wisata di belakang Pasar Bunga Kalisari ini dulunya kampung kumuh yang disulap menjadi kampung warna-warni.

Sayangnya, kini kondisi Kampung Pelangi di Kelurahan Randusari, Semarang Selatan ini mulai memudar. Bahkan, cenderung tak terurus.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (17/2/2022), Kampung Pelangi sepi pengunjung dengan kondisi cat memudar serta banyak tumbuh rumput liar di jalan, dan di sela-sela rumah warga. Gardu yang menjadi spot foto pun saat ini beralih menjadi sarang burung merpati.

“Dulu kampungnya kumuh, sungainya juga kecil. Namun semenjak Pak Hendi (Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi) merenovasi Pasar Kalisari, Kampung Pelangi juga ikut dipercantik, sungai dibersihkan, rumah-rumah warga dicat warna-warni,” kata Marsono, 68, warga RT 4 RW 3 Wonosari.

Baca juga:  Stasiun Tawang Layani Vaksin untuk Penumpang

Namun sejak pandemi datang, Kampung Pelangi sepi pengunjung, bahkan sama sekali tidak ada yang datang untuk berkunjung. Berbeda ketika awal dibangun, banyak pengunjung dan warga desa beralih untuk berjualan makanan ataupun minuman.

“Dulu rame, tiap hari ada pengunjung, dibuat plang-plang jalan untuk memudahkan akses ke gardu,” jelasnya.

Kampung Pelangi yang dulu dapat menopang mata pencaharian warga untuk menambah penghasilan, kini hanya khayalan semata.  Pedagang mulai berkurang banyak yang tidak meneruskan usahanya, karena tidak ada yang membeli dagangannya.

“Waktu itu, saya bisa dapat penghasilan banyak dari berjualan. Sehari bisa sampai Rp 400 ribu. Sekarang sepi, dapet uang Rp 100 ribu saja sudah Alhamdulillah,” ujar Kristiana, 43, pedagang di Kampung Wonosari RT 3 RW 3.

Krsitiana adalah salah satu pedagang yang masih bertahan. Pedagang lain memilih untuk berhenti berjualan.

Baca juga:  BIN Turun Tangan Bantu Kota Semarang Tangani Covid-19

“Saya masih bertahan sampai saat ini. Hanya awal pandemi saja berhenti berjualan sebentar karena memang kita tidak boleh keluar rumah. Pedagang yang lain banyak yang bangkrut, bahkan yang sudah beli kulkas pun tidak dipakai lagi sekarang,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kristiana berharap pemerintah melakukan pengecatan ulang Kampung Pelangi agar menarik pengunjung untuk datang. Sehingga ia dan pedagang lain bisa berjualan seperti dulu. Apalagi sekarang pariwisata di Kota Semarang sudah mulai bergeliat kembali.

“Dulu pernah ada pengecatan, tapi hanya sebagian, tidak menyeluruh. Sekarang bisa dilihat kondisinya seperti ini, rumput-rumput juga sudah mulai tumbuh liar, beda dengan dulu yang pasti dilakukan perawatan,” kata Geri Satrio, 27, warga Kampung Pelangi.

Baca juga:  Terhambat Ahli Waris, Balai RW VI Peterongan Mangkrak

Pengecatan yang dilakukan sebagian dirasa masih kurang. Tidak menyeluruhnya pengecatan membuat Kampung Pelangi terlihat tidak terurus karena warna cat yang baru kalah dengan cat yang telah pudar.

“Saya berharap pemerintah melakukan pengecatan ulang lagi, tidak hanya sebagian seperti kemarin, tapi menyeluruh agar Kampung Pelangi mempunyai daya tarik lagi,” harapnya.

Ketua RW 3 Kelurahan Randusari Sukaemi berharap hal yang sama. “Belum ada rencana pengecatan lagi, dulu ada tapi hanya sebagian. Semoga bisa dilanjutkan pengecatannya, warga sekitar juga bisa berjualan dan bisa diadakan lomba-lomba untuk meningkatkan kreativitas masyarakat,” katanya.

Saat Jawa Pos Radar Semarang mencoba konfirmasi ke Kelurahan Randusari, pihak kelurahan sedikit memberikan respon. “Itu udah lama Mbak nggak dilakukan pengecatan, dari pemerintah juga belum ada rencana lebih lanjut,” ujar Lurah Randusari Edwin Noya. (cr4/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya