alexametrics

Dewan Minta Pengawasan Parkir Elektronik Diperketat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangUji coba parkir elektronik di empat ruas jalan di Kota Semarang sudah berlangsung dua pekan. Meski belum sempurna, inovasi yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang ini mendapatkan apresiasi, karena bisa menekan kebocoran retribusi parkir dan meningkatkan pendapatan daerah.

DPRD Kota Semarang meminta agar Dishub bisa melakukan pengawasan kepada juru parkir yang menerapkan uji coba parkir elektronik. Misalnya, memasang CCTV ataupun memasang rambu, serta menyelesaikan kendala jaringan internet yang dikeluhkan juru pakir.

“Kita apresiasi, tapi harus ada pengawasan. Beralih dari konvensional ke elektronik ini tidak mudah. Jukir yang belum terbiasa atau kesulitan bisa saja kembali ke konvensional. Misalnya, bisa dipasang CCTV untuk mengawasi mereka,” kata Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Joko Santoso, kemarin.

Menurut dia, langkah pemkot untuk menerapkan parkir elektronik ini merupakan solusi menekan kebocoran retribusi parkir, serta meningkatkan pendapatan daerah, dibandingkan rencana kebijakan parkir berlangganan yang sebelumnya digagas dan dianggapnya kurang maksimal.

“Kalau mencontoh Sidoarjo, di sana parkir berlangganan saja mau ditutup kok di sini dimulai. Alternatif lain adalah ruas jalan atau parkir tepi jalan ini dipihakketigakan saja,” tambahnya.

Baca juga:  Motivasi Ibu Hamil, Persiapkan ASI sejak Dini

Joko menilai pemkot perlu memasang rambu-rambu parkir elektronik di ruas jalan yang sedang dilakukan ujicoba. Selain itu, juru parkir yang bertugas minimal diberikan ID Card yang dipakai selama bekerja yang dilengkapi barcode atau ciri khusus lainnya. Sebab, membedakan jukir asli atau tidak ini cukup sulit.

“Soal jaringan yang jadi kendala, pemkot harus bisa men-support. Misalnya, paket internet atau provider yang bagus di kawasan itu apa, ya diseragamkan agar tidak terkendala jaringan. Tapi, intinya pengawasannya harus diperketat,” katanya.

Sebelumnya Wali kota Semarang Hendrar Prihadi menjelaskan, jika parkir elektornik ini diharapkan bisa menekan parkir liar, dan retribusi parkir yang dibayarkan langsung masuk ke kas daerah. Sesuai Perwal Nomor 70 tahun 2021 tentang pelayanan parkir di tepi jalan umum adalah untuk kendaraan sepeda motor sebesar Rp 2 ribu  dan mobil sebesar Rp 3 ribu. “Dengan penerapan ini, maka ada kepastian tarif dan resmi masuk negara ke kas daerah. Selain itu juga pendataannya lebih jelas karena real time,” kata Hendi.

Adapun ruas jalan yang menggunakan sistem parkir elektronik yaitu Jalan MT Haryono mulai Simpang Pringgading sampai Jalan Sidorejo, Jalan KH Agus Salim mulai Simpang Pekojan hingga Bubakan, Jalan KH Wahid Hasyim dari Simpang Kauman sampai Benteng, dan Jalan Pekojan dari Simpang Pekojan sampai Jalan Inspeksi.

Baca juga:  Genjot Penerimaan PPJ, Pemkot Semarang Gandeng PLN

Pembayaran parkir elektronik ini bisa menggunakan aplikasi e-money seperti Gopay, Dana, Ovo, Shopeepay dan lainnya. Namun, adanya e-parkir ini menuai banyak respon dari masyarakat dan juru parkir. Ada yang merasa terbantu, dan ada juga yang terbebani.

“Kalau saya Alhamdulillah bisa pakai aplikasinya, tapi saya kasihan dengan jukir yang sudah sepuh karena mereka tidak punya handphone Android, dan tidak pernah menggunakannya. Mereka masih bingung cara memakai aplikasinya,” ujar Mustaim, 46, jukir di Jalan MT Haryono.

Selain ada jukir yang tidak mempunyai handphone Android, kendala lain soal sinyal yang susah diakses. “Terkadang sinyalnya susah, pembayaran juga sering error dan membutuhkan waktu yang lama karena kita harus menjelaskan satu-satu ke pengguna jalan yang akan parkir,” kata Mustaim.

Saat pembayaran menggunakan e-money, jukir sedikit kesusahan membagi waktu ketika ada pengguna yang akan masuk dan keluar parkir. Akhirnya, pengguna lebih suka menggunakan uang tunai. “Saya berharap dengan adanya parkir elektronik ini kesejahteraan jukir juga dipikirkan oleh Dishub, karena uang masuk langsung ke pemerintah, dan kita hanya dapat 40 persen dari hasil parkir,” harapnya.

Baca juga:  Terdampak Korona, Angkasa Pura I Rugi Rp 207 M

Abdul Majid, 38,  jukir di Jalan Pekojan mengeluhkan adanya sistem baru ini. “Adanya parkir elektronik ini sebenarnya membebani saya, karena harus menggunakan handphone. Belum kondisi parkir sepi dan harus kejar target,” keluhnya.

Jukir setiap hari diberikan target setoran oleh Dishub. Setiap jukir berbeda-beda tergantung potensi tempat parkirnya. “Saya setiap hari harus target Rp 25 ribu untuk disetorkan ke Dishub dengan menggunakan aplikasi. Kalau tidak bisa memenuhi target ya bisa diganti orang lain. Padahal bisa dilihat sendiri kondisi parkirnya sepi pengunjung,” kata Abdul Majid.

Berbeda dengan Abdul Majid yang terbebani dengan adanya parkir elektronik, Mastur, 47, jukir di Jalan KH Agus Salim justru sangat terbantu dengan adanya sistem baru ini, karena tidak perlu uang recehan.“Sebenarnya ini bagus, karena saya tidak perlu merecehkan uang, tapi kebanyakan dari masyarakat memang membayar dengan tunai dan saya harus top up sendiri,” jelasnya. (den/cr4/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya