alexametrics

Pedagang yang Tempati Basement Alun-Alun Kauman Keluhkan Sepi Pembeli

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kios di basement alun-alun Kauman yang selama ini kosong, mulai ditempati pedagang. Kurang lebih 20 pedagang sudah membuka kiosnya. Rata-rata mereka adalah korban kebakaran Pasar Johar Relokasi.

Meski demikian, para pedagang mengeluhkan sepinya pengunjung. Mereka hanya mengandalkan warga yang akan pergi ke Masjid Kauman.

Sumiyati, 42, pedagang pakaian mengaku, terpaksa pindah ke basement Alun-Alun Kauman karena kiosnya di Pasar Johar Relokasi ludes terbakar. Ia tidak ada pilihan lain, meski di basement sepi pengunjung.

Sumiyati menilai basement kurang strategis, dan tak banyak pengunjung memasuki kawasan tersebut. Ia hanya mengandalkan pengunjung yang hendak pergi ke masjid.

“Saya pindah ke sini, karena dalam undian dapatnya di sini. Saya manut sama yang bikin kebijakan daripada repot ke depannya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (14/2)

Baca juga:  Perlu Inovasi Hidupkan Pasar Klitikan

Ia mengatakan, jika diperbolehkan pindah, dirinya berharap bisa pindah ke lapak lain yang lebih strategis agar penjualannya kembali ramai.

Kekecewaan serupa diungkapkan Santoso, 34, pedagang sepatu. Ia juga mengeluh sepi pembeli selama berjualan di basement. Selain itu, kios yang didapat tidak sesuai yang diharapkan.

“Di lapak yang dulu, masih enak, Mas. Tempatnya lumayan luas. Tapi kalo di sini agak sempit, jadi susah untuk mengatur barang dagangan,” keluhnya.

Santoso merasa khawatir dengan rencana penataan ulang pedagang yang akan dilakukan Dinas Perdagangan. Ia khawatir terkena penataan ulang ke tempat lain yang akan mempengaruhinya dalam berjualan. “Jujur saya masih sedikit waswas, Mas. Takut kalo dipindah lagi nanti malah tidak fokus sama jualan,” ucapnya

Baca juga:  Pedagang Johar masih Ogah Pindahan, Dewan Desak Disdag Bertindak

Ing, 63, pedagang tas di basement merasa harus babat alas kembali. Wanita yang dua kali menjadi korban kebakaran Pasar Johar dan Johar Relokasi ini harus memulai usaha dari nol. “Yo seperti mbabat alas, Mas. Semuanya mulai dari nol lagi,” katanya.

Meski begitu, ia masih bersyukur langsung mendapatkan kios pengganti di basement, meski barang dagangan sebagian ludes dilahap si jago merah. “Saya justru kasihan sama pedagang lain yang dulu berjualan di los atau emperan masih menunggu keputusan dari Pemerintah Kota Semarang terkait lokasi lapaknya,” ujarnya. (cr6/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya