alexametrics

Hening Libatkan 25 Pelukis dan 30 Karya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Hening. Merupakan tema lukisan dari seni kontemporer yang dipamerkan di Gallery Monod Huis, Kota Lama, Semarang, Sabtu (12/2) lalu sampai Sabtu (19/2) mendatang.

Pameran ini dalam upaya membangkitkan para seniman di Kota Semarang, dan beberapa luar Semarang, seperti Jepara, Yogyakarta, dan Demak. Terutama dari kungkungan pandemi Covid-19. Pameran ini melibatkan 25 pelukis atau 30 karya yang besar dengan ukuran minimal 150×150 sentimeter.

Dr Oei Hong Djien yang membuka pameran pada Sabtu (12/2) lalu, merasa kagum. Karena tak hanya pameran seni lukis saja, tapi multiseni. Seperti puisi, paduan suara, mannequin, hingga band. “Baru kali ini saya menyaksikan bukan dari seni lukis saja, tetapi ini kolaborasi seni. Besok kalau setiap ada acara, saya mau diundang lagi,” ungkapnya.

Baca juga:  Rem Blong, Tronton Hajar Lima Mobil dan Satu Motor di Jalur Maut Banyumanik

Tema ‘Hening’ ini memenuhi dua lantai gedung Monod Huis. Di lantai satu, karya seni kontemporer dinarasikan sebagai keadaan orang yang terpuruk, seperti sedih, sakit, sampai kematian. “Jadi di lantai satu ada peti mati dengan semua hal-hal yang berkaitan,” kata Erick yang didampingi oleh penyelenggara ID Management, Ignatia Dewi.

Sedangkan di lantai dua dinarasikan sebagai move on atau kebangkitan. Karya di lantai dua merupakan penyemangat masyarakat agar bangkit dari keterpurukan selama pandemi covid-19. “Kita harus bangkit!” jelasnya.

Pameran kali ini bukan hanya memajang seni lukisan, namun terdapat pertunjukan lainnya, seperti pagelaran puisi dari Kelana Siwi, paduan suara, tari balet, bahkan kolosal sketsa ada. “Tadi malam pembukaan ada bandnya,” jelasnya.

Baca juga:  Banyak Mal Praktik dalam Jasa Psikolog

Sejak tanggal 12 sampai 19 Februari terdapat selingan acara. Seperti kolosal sketsa di kanvas yang panjang, tari balet, dan musikal. Kegiatan ini adalah acara yang kedua dari ID Management. “Yang lalu adalah Healing, saat ini temanya Hening,” tuturnya.

Salah satu pelukis, Moh Ilyas, 26, menjelaskan, dirinya termasuk pelukis termuda dari Demak. Saat ini ia memamerkan tiga karya seni lukis, seperti bunga terakhir, menuju keheningan, dan perenungan. “Lukisan ini merupakan perenungan dengan situasi pandemi saat ini, mata ini ada bumi dipakaikan masker dan matanya menetes. Dengan adanya tetesan itu, Tuhan bisa memaafkan kita,” jelasnya di salah satu lukisannya.

Selain itu, lukisan yang berjudul bunga terakhir ia lukis sesuai dengan kisah nyata seorang perempuan yang kehilangan oleh orang tuanya karena meninggal karena Covid-19, saat ini dia menghidupi adik-adiknya. “Dia memegang bunga dengan tujuan pandemi ini segera berakhir. Tiga karya ini adalah harapan saya agar pandemi segera berlalu,” jelasnya. (fgr/ida)

Baca juga:  Dubes RI untuk Afghanistan Hadiri Wisuda Ke-36 Unwahas

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya