alexametrics

Tujuh Menit yang Luar Biasa

Tasyakuran Hari Pers Nasional 2022 Bersama Wali Kota Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Hari ini, 9 Februari, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN) 2022. Namun Jawa Pos Radar Semarang menggelar peringatan lebih awal. Kemarin (8/2), tasyakuran Hari Pers Nasional digelar dua kali. Pertama, bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Balai Kota Semarang. Sorenya, digelar tasyakuran di pool side kantor redaksi bersama Direktur Utama Jawa Pos Radar Group Leak Kustiyo.

Sekitar pukul 12.00, sebanyak 30 karyawan datang ke balai kota. Rombongan dipimpin Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi, General Manager Iskandar dan Pemimpin Redaksi Arif Riyanto. Seluruh manager, wartawan, dan karyawan lintas divisi ikut serta. Rombongan Jawa Pos Radar Semarang ini mendapat sambutan hangat dari wali kota yang akrab disapa Hendi itu. Tasyakuran itu pun digelar secara lesehan. Di atas karpet merah yang digelar di hall Gedung Moch Ichsan kompleks balai kota.

Baehaqi menjelaskan, jika peringatan HPN ke-37 tahun ini ditetapkan oleh mantan Presiden HM Soeharto. Namun pria yang juga Direktur Jawa Pos Radar Kudus ini menjelaskan jika pers sebelumnya telah lahir sebelum ditetapkan 9 Februari, 37 tahun silam.

“Setiap masa ada tantangannya sendiri. Semakin maju zamannya, semakin sulit. Dulu nggak ada alat komunikasi, membuat berita masih pakai mesin ketik. Tapi saat ini, saya kira juga sulit,” kata Baehaqi.

Menurut Baehaqi, pers saat ini memiliki empat fungsi, yakni memberi informasi, edukasi, kontrol sosial, dan mendidik masyarakat. Pers juga punya peranan besar dalam menegakkan demokrasi. Karena pers adalah pilar demokrasi keempat, selain eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Saya minta kepada Pak Hendi untuk memberikan tausiyah kepada kami. Perlu temen-temen ketahui, beliau ini adalah pembaca koran sejati,” ujarnya.

Tasyakuran Hari Pers Nasional 2022 bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di Hall Gedung Moch Ichsan Balai kota Semarang. (NURCHAMIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Hendi mengaku surprise dengan kedatangan tim Jawa Pos Radar Semarang yang sering diajak diskusi dan sharing. Menurutnya, Jawa Pos Radar Semarang juga sebagai sahabat yang mengajak memperingati HPN secara sederhana. Ia pun kaget saat diminta memberikan tausiyah. “Baik, saya memberikan kultum saja, kuliah tujuh menit,” katanya sambil tersenyum disambut tepuk tangan.

Baca juga:  Pelayat Banjiri Pemakaman KH Ahmad Naqib Noor

Jawa Pos Radar Semarang saya harap bisa membawa hasil di HPN ini, tidak hanya kesejahteraan keluarga, organisasi, dan tentunya bagi bangsa Indonesia,” tambahnya.

Hendi setuju apa yang disampaikan Baehaqi yang menyebutkan setiap perjalanan selalu ada tantangan, termasuk dalam konteks jurnalistik. Ia mencontohkan, Napoleon Bonaparte yang pernah mengatakan, jika ia lebih takut terhadap tulisan wartawan dari pada 1.000 prajurit yang membawa pedang sekalipun.

“Beliau meyakini, jika jurnalistik ini tidak dikelola dengan baik dan tidak dikomunikasikan bisa membunuh karakter seseorang. Saya juga yakin jika media itu sangat penting dan vital,” tuturnya.

Dalam pembangunan Kota Semarang misalnya. Hendi menempatkan insan pers dalam konsep pembangunan bergerak bersama yang digagasnya lewat 4P. Yakni, kerja sama antara pemerintah, penduduk serta ketokohannya, pengusaha dengan CSR dan investasinya, serta pewarta punya peran besar dalam memajukan Kota Semarang.

“Saya yakin, kalau nggak ada teman-teman pers, Semarang ini nggak bisa kemana-mana. Hasil kerja kita tidak bisa dirasakan dan didengar orang luar, pers mem-branding pembangunan kota ini yang keren, sehingga banyak yang tertarik datang dan berinvestasi,” jelasnya.

Selain itu, sebagai mitra pemerintah, lanjut Hendi, fungsi kritik tetap harus ditegakkan. Dunia pers saat ini berbeda dengan zaman dulu, di mana dulu mengkritisi dibungkus dengan metode lain yang membuat takut diwawancara atau takut bertemu wartawan untuk diberitakan.

“Kalau saya, jurnalistik saat ini bisa membuat bangsa ini lebih baik, terutama Kota Semarang,” tambahnya.

Hendi mencontohkan, pemberitaan yang dibuat Jawa Pos Radar Semarang ini bisa membantu pemkot menyelesaikan masalah. Misalnya, relokasi yang ada di Johar atau Jalan Gajah yang mengalami kerusakan, ini semua didapatkan dari pemberitaan yang dilakukan Jawa Pos Radar Semarang.

“Misalnya, pedagang Johar ingin relokasi atau ditata seperti apa. Kita ngerti dulu dari Jawa Pos Radar Semarang. Artinya, harus dikembangkan komunikasi yang baik agar kita bisa saling support,” katanya.

Baca juga:  Sebelum Divaksin, 10 Tokoh Semarang Bakal Jalani Medical Check Up

Catatan terakhir, lanjut Hendi, pertandingan insan pers saat ini sudah berbeda dengan dulu, yakni dengan menyikapi kecepatan informasi. Hendi yakin Jawa Pos Radar Semarang punya jurus tepat untuk menyikapi pemberitaan di online yang penuh dengan hoax, dan membuat masyarakat jenuh.

“Di sini Jawa Pos Radar Semarang harus ambil porsi melawan hal tersebut, agar bisa memajukan NKRI, Jateng Gayeng, dan Semarang Semakin Hebat,” ujarnya menyudahi ‘tausiyahnya’ yang tepat tujuh menit. Baehaqi pun menimpali. “Wah, ini kuliah tujuh menit yang luar biasa.”

Pemimpin Redaksi Arif Riyanto mengatakan, jika antara Jawa Pos Radar Semarang dan Pemkot Semarang punya jalinan luar biasa dari segi pemberitaan, event dan kerja sama lainnya. Paradigma pemberitaan saat ini di Jawa Pos Radar Semarang, menurut pria yang akrab disapa Aro ini pun sudah berubah. “Kalau dulu bad news is good news, sekarang good news is good news. Yang baik pun kita beritakan. Ini yang membuat pembangunan serta kemajuan kota ini dikenal dan diketahui masyarakat secara luas,” katanya.

Dirut Jawa Pos Radar Group Leak Kustiyo menyerahkan potongan tumpeng kepada wartawan Jawa Pos Radar Semarang Nanang Rendi Ahmad. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sore harinya, jajaran redaksi dan karyawan Jawa Pos Radar Semarang menggelar tasyakuran sederhana di pool side kantor redaksi. Yang istimewa, tasyakuran juga dihadiri Direktur Utama Jawa Pos Radar Group Leak Kustiyo dan Direktur Eddy Nugroho. Kegiatan sore itu juga diikuti seluruh karyawan Jawa Pos Radar Kudus dan karyawan Jawa Pos Radar Semarang di biro dan daerah lewat zoom meeting.

Direktur Utama Jawa Pos Radar Group Leak Kustiyo mengatakan, meski media cetak mengalami disrupsi, Jawa Pos terus berkomitmen memperhatikan kesejahteraan pekerja medianya. Sehingga para jurnalis yang terlibat bekerja dengan penuh semangat dan antusiasme akan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.

Diakui, saat ini media cetak menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ongkos yang dikeluarkan untuk percetakan naik cukup signifikan, sekitar 9 persen.

Baca juga:  Pendaftaran Gunakan Sistem Ballot Borobudur Marathon berkelas Dunia

“Memang tidak mudah, tapi seperti yang kami bicarakan dengan Pak Baehaqi agar gaji karyawan tetap naik. Mudah-mudahan kenaikan biaya cetak dan lain-lain pasti ada jalan keluar,” tegas Leak.

Ia mengakui, kompleksitas yang dihadapi media cetak di dunia pers saat ini, khususnya selama pandemi yang sedikit banyak mengubah kebiasaan pembaca berita. Namun Jawa Pos Radar dinilai memiliki daya tahan dan adaptasi tinggi. Bahkan, dikatakan, perusahaan media ini memiliki performa terbaik selama pandemi dibanding 70 media lainnya di Indonesia. Leak beberapa kali diundang sebagai pembicara untuk mengupas ketahanan media yang dianggap berhasil. “Pekerja media selama bekerja 365 hari dalam setahun selalu dihadapkan tantangan yang berbeda,” tandasnya.

Ia telah memetakan beberapa titik masa tersulit yang dihadapi perusahaan pers selama setahun. Di dalamnya termasuk memasuki tahun baru dan Hari Raya Idul Fitri. Di samping itu, kata dia, para pembaca semakin cerdas dalam memilih berita. Sehingga menjadi penting untuk jurnalis meningkatkan kompetensinya.

Direktur Jawa Pos Radar Group Eddy Nugroho menyerahkan potongan tumpeng kepada wartawati Titis Anis Fauziyah disaksikan Dirut Jawa Pos Radar Group Leak Kustiyo serta pimpinan dan karyawan Jawa Pos Radar Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi sepakat dengan Leak. Selama ini, pihaknya beberapa kali menggelontorkan dana untuk pegawai, baik saat menghadapi PPKM, hari raya, maupun menyambut tahun baru. “Setiap masa punya tantangan sendiri. Nah sekarang bagaimana membuat berita yang berbeda sehingga mampu bersaing dengan kompetitor lain,” ungkapnya.

Tasyakuran dilanjutkan oleh cerita singkat wartawan Jawa Pos Radar Semarang Biro Pekalongan Nanang Rendy Ahmad yang baru mendapat penghargaan sebagai jurnalis teladan di daerahnya. Nanang menceritakan pengalamannya meliput evakuasi longsor bersama Kapolres Pekalongan hingga terjebak longsor selama delapan jam. Leak dan Eddy pun mengapresiasi totalitas Nanang dalam menjalankan pekerjaan sebagai jurnalis. Nanang menerima potongan tumpeng dari Dirut Jawa Pos Radar Group tersebut. Ia juga mendapat ‘saweran’ dari Leak yang diambil langsung dari dompetnya. “Terima kasih Pak Leak,” ucap Nanang dengan wajah berbinar. (den/taf/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya