alexametrics

Kisah Pilu Pedagang Pasar Johar Semarang, Dua Kali Jadi Korban Kebakaran

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Para pedagang tampak berdatangan ke lokasi kebakaran Pasar Johar Relokasi. Salah satunya Purwanti. Ia terlihat menatap sisa-sisa barang jualannya yang ikut dilahap api.

Saat kebakaran terjadi Rabu (2/2/2022) malam, pemilik kios konveksi di Blok E-2 ini dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Sambirejo, Gayamsari, tak jauh dari Pasar Johar Relokasi.

Sebelumnya, pada 2015, kios konveksinya di Pasar Johar juga terbakar. Bahkan, kerugian yang dialami saat itu mencapai 200 juta lebih. “Jadi, ini kebakaran kali kedua yang saya alami. Kali ini kerugiannya Rp 100 juta lebih,” ucapnya sedih.

Purwanti tampak putus asa dan kebingungan. Sebab, sudah tidak ada stok barang lagi di rumahnya. “Kalau kebakaran dulu, saya masih punya stok barang di rumah yang terselamatkan. Tapi, sekarang semuanya ludes” kata wanita 43 tahun ini.

Purwanti berharap ada kebijakan pemerintah yang dapat membantu dirinya dan pedagang lainnya. Entah itu pemberian modal, bantuan, ataupun relokasi ke pasar lainnya.

Baca juga:  Pedagang Keluhkan Atap Pasar Johar Bocor

Pedagang lain, Heri, 32, hanya bisa menatap kosong kiosnya di tengah Blok F yang ludes terbakar. Tak ada satu pun dagangan tas miliknya yang tersisa. Semua ludes jadi arang. “Saya sudah lama jualan tas. Dulu waktu kebakaran Pasar Johar, saya dagang buku,” kata Heri.

Akibat kebakaran kali ini, Heri mengaku merugi hingga ratusan juta rupiah. “Barang lagi banyak. Baru dikirim dari penjahit terakhir pukul 14.00 siang sebelum pasar terbakar. Semua habis kebakar,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Heri mengaku tidak ada firasat apapun sebelum kejadian itu. Namun dirinya curiga kejadian ini ada kaitannya dengan konflik antarpreman pasar dengan pihak MAJT soal parkir.

“Tapi saya nggak tahu apa karena konflik itu, lalu pasar dibakar atau gimana saya nggak tahu, mungkin yang lebih tahu pihak yang di atas,” ujar Heri.

Kemarin, banyak pedagang yang mengais barang-barang yang lolos dari kebakaran. “Ini belum bisa apa-apa, mau aktifitas rasanya malas. Semuanya ludes, tidak ada yang terselamatkan,” ungkap pedagang aksesori Yusuf kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku, sebelumnya juga pernah menjadi korban kebakaran Pasar Johar pada 2015 silam. Bahkan, saat itu ia mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.

Baca juga:  Bawaslu Resmikan Kelurahan Antipolitik Uang, Apa Keistimewaannya?

“Saya menempati sini (Johar MAJT) sekitar tahun 2016. Makah terbakar lagi. Kerugian di sini ya antara Rp 200 juta sampai Rp 300 juta,” bebernya.

Yusuf kemarin tampak mengais barang-barang besi bekas miliknya yang sudah menghitam. Besi yang sudah terkumpul kemudian dijual ke pengepul atau tukang rongsok. “Daripada tidak terpakai, dijual rongsokan saja. Per kilonya ditawar Rp 5.500. Sudah terkumpul kurang lebih 87 kilogram,” katanya.

Pedagang lain, Agus juga mengaku sudah dua kali mengalami kebakaran hingga harus merugi hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, sementara ini juga belum tahu langkah selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab, satu-satunya mata pencahariannya ludes tak tersisa. “Semoga bantuan dari pemerintah cepat diberikan untuk modal lagi. Memang kebakaran ini musibah mau gimana lagi, mau gak mau ya diterima,” ujarnya pasrah.

Baca juga:  Pedagang Pecah Belah Dipindah ke Johar Tengah Lantai Dua

Pedagang logam Afi Tamala mengatakan, harusnya kalau memang tidak boleh menempati Pasar Johar Relokasi, pemerintah sampaikan dengan jelas supaya pedagang langsung pindah. Pihaknya menilai ada koordinasi yang tidak jelas antara pemerintah dan Yayasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). “Pihak dinas sudah menyuruh pindah, tapi dari yayasan masih kasih izin buat jualan dengan sewa per hari. Ya, pedagang milih masih di sini karena di Pasar Johar Baru dan Kanjengan masih sepi,” jelasnya.

Dagangan miliknya berupa logam hangus terbakar. Sebagian yang masih bisa dikumpulkan sisa-sisanya akan dijual ke tukang rongsok. Kerugian yang dialami mencapai Rp 500 juta lebih. “Lha ini kita baru aja ambil stok baru untuk persiapan lebaran, malah sekarang terbakar semua. Padahal dari kebakaran yang dulu kita sudah mulai dari nol, sampai utang bank. Ini utangnya belum lunas sudah kebakaran lagi, lha terus ke depannya gimana?” katanya dengan wajah bingung. (mha/mg3/mg5/mg2/mg6/cr1/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya