alexametrics

Proklim Purwokeling Pelopori Ecobrick di Semarang Hingga Jadi Proklim Nasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Program Kampung Iklim (Proklim) Purwokeling Ngaliyan, mempelopori pembuatan dan pemanfaatan ecobrick untuk pembangunan Kota Semarang. Bahkan Purwokeling pernah menyabet gelar Proklim Nasional pada 2018 silam.

Beberapa taman di Kota Semarang telah dibangun menggunakan ecobrick. Sampah plastik kemasan yang dipotong dan dipadatkan dalam botol bekal air mineral ini, diakui dapat menjadi material pengganti bata yang ramah lingkungan.

“Pemanfaatan ecobrick yang memang menjadi keunggulan di kampung proklim kami,” ujar Eko Gustini Wardani Pramukawati.

Eko mengakui, kala itu belum banyak kegiatan pemanfaatan ecobrick di Semarang. Namun dirinya telah menjadi trainer ecobrick dan ahli bangunan tanah Global Ecobrick Alliance (GEA). Dengan bekal yang dimiliki, ia mengajak warga RW 10 untuk mencoba membuat ecobrick.

Baca juga:  Pemkot Semarang Umumkan Tambahan 12 Pasien Covid-19 yang Sembuh

Walhasil, banyak produk furniture di RW 10 yang digantikan oleh ecobrick. Kursi dan meja tamu, hingga kursi permanen di tepi jalan dibuat dengan ecobrick yang dikombinasikan dengan semen.

“Banyak yang membuat ecobrick, tapi tidak semua mengerti dan mengikuti standarnya,” tambah Eko.

Menurutnya, pembuat ecobrick harus memastikan kondisi sampah plastik bekas kemasan benar-benar bersih dan kering. Kemudian digunting kecil dan dipadatkan dalam botol bekas hingga memiliki volume 0,33. Dengan itu satu botol ecobrick dapat menjadi pengganti material batu bata yang kokoh.

Hasil pemanfaatan sampah warga Proklim Purwokeling dinilai sukses. Bahkan jadi rujukan Kota Semarang untuk membangun taman ecobrick di beberapa lokasi. Di samping itu, banyak kegiatan warga yang mendorong perilaku sadar lingkungan.

Baca juga:  Kelurahan Kaliwiru Terus Kembangkan Kampung Seni Budaya

Lantaran bedara di titik rawan longsor, warga getol melakukan penanaman di perbatasan wilayah dengan kawasan industri. Kemudian mewajibkan setiap rumah untuk membuat minimal dua lubang resapan biopori. Selain untuk mencegah banjir, lubang biopori juga dapat dipakai mengkompos sampah organik.

Bank sampah pun tetap berjalan di 9 RT. Hal itu telah ditekuni sejak 2009, jauh sebelum menjadi kampung proklim. Memupuk kesadaran menjadi tantangan terbesar bagi EKo. Namun perlahan semua warga di wilayahnya telah memahami betul tanggung jawab pada lingkungan. (taf/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya