alexametrics

Kesenian Jaranan Turonggo Seto Sampangan Mencoba Tetap Eksis di Tengah Modernisasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kesenian adalah suatu keindahan yang bisa di resapi dengan suatu rasa dan pikiran. Eksistensi dari kesenian memiliki kontribusi terhadap identitas pada peradaban budaya di masyarakat.

Salah satunya kesenian yang juga menjadi identitas masyarakat adalah Jaranan Turonggo Seto dari Sampangan. Kesenian yang biasa disebut jaran kepang atau kuda lumping itu yang dibawa oleh seseorang bernama Mbah Run yang berasal dari kebumen.

Turonggo Seto dulunya merupakan suatu sarana dan prasarana untuk kegiatan sedekah bumi /apitan yang kemudian dikembangkan menjadi suatu kegiatan yang merakyat serta dapat menghibur masyarakat.

“Turonggo mempunyai artian Jaran (ajaran dan tuntunan) dan Seto mempunyai artian Putih. Jadi filosofi dari Turonggo Seto adalah suatu bentuk tumpakkan yang berwarna putih, yang memiliki lambang kesucian,” ujar Untung Septiadi, sesepuh kesenian Turonggo Seto Sampangan.

Baca juga:  Tak Tuntas, Kontraktor Kretek Wesi Diputus dan Didenda Rp 320 Juta

Turonggo Seto ini berlatih di Balai Kelurahan Sampangan yang berlokasi di Jalan Menoreh Utara XII Sampangan dan di lapangan sampangan. Turonggo Seto ini mempunyai anggota dari berbagai kalangan baik anak-anak, remaja, sampai orangtua yang masuk pada satu wadah kepengurusan.

“Turonggo Seto ini mampu untuk mewujudkan regenerasi muda untuk melanjutkan dan melestarikan kesenian ini, meskipun seiring dengan kemajuan zaman yang semakin pesat, Turonggo Seto ini mampu bersaing dan masih tetap eksis sampai sekarang dan tidak akan pernah mati,” imbuh Untung.

Turonggo Seto melaksanakan pagelaran tiga kali dalam kurun waktu satu tahun. Untuk memperingati sedekah bumi atau yang dikenal sebagai Apitan oleh masyarakat sampangan, selain itu pada 1 suro atau 1 Muharram, kemudian saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada bulan Agustus.

Baca juga:  Berharap Ada Kepedulian Pemkab Temanggung

“Kesenian ini cukup menarik antusias warga untuk menonton Turonggo Seto, tidak hanya dari kalangan warga sekitar Sampangan saja, tapi sampai bisa diluar,” sambungnya.

Namun, kurang lebih sudah dua tahun lamanya pandemi Covid-19 menghambat perjalanan kesenian Turonggo Seto, akibatnya kesenian ini sementara waktu harus vakum terlebih dahulu dan tidak bisa dipentaskan.

“Semoga kesenian Turonggo Seto ini bisa menjadi icon yg baik bagi sampangan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan penarik minat dari salah satu kebudayaan tradisional di Kelurahan Sampangan,” pungkasnya. (mg9/mg10/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya