alexametrics

11 Tahun Pilah Sampah, Bank Sampah Mawar Merah Sabet Proklim Nasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Bank Sampah Mawar Merah telah aktif memilah sampah sejak 2010. Perjalanan panjang dengan berbagai inovasi dan capaian mengantarkan Kelurahan Tugu Kota Semarang sebagai Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat Nasional.

Saat koran ini tiba Pegiat Bank Sampah Mawar Merah Tatik Sri Rochiati tengah melepas label merek pada botol sekali pakai. Sedangkan dua rekannya melepas tutup dari setiap botol plastik yang dikumpulkan.

“Tiap Minggu kami pisahin plastik bening sama yang warna atau kotor, kalau tutupnya udah dipisah gini lakunya lebih mahal,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakui pihaknya masih harus menjemput bola berkeliling dawis setiap minggu untuk menimbang dan mengambil sampah hasil pilahan warga. Namun ia tak keberatan sama sekali. Melihat warganya sebanyak 2 RW memiliki kesadaran memilah sampah saja ia sudah sangat bersyukur.

Baca juga:  Agar Pengendara Tak Gerah, Traffic Light di Semarang Akan Dipasang Pendingin

Sejauh ini ia memiliki nasabah bank sampah resmi sebanyak 424 KK dari RW 5 dan RW 3 itu. Kebanyakan pemilik warung juga mendaftarkan diri sebagai nasabah untuk berlangganan mengirim sampah pilahan dari warungnya.

“Desember kemarin sampai 1 ton lebih, 1.166 kg sampah yang kita kumpulkan,” tambahnya.

Bila biasanya per bulan sampah terjual sekitar Rp2 juta, Desember tahun lalu ia memecah rekor laku hingga Rp3,2 juta. Semua sampah pilahan ia kumpulkan dari dawis setiap minggu dan diletakkan di gudang bank sampah. Setelah sebula, pengepul datang mengambil sampah warga yang telat terpilah sesiau jenisnya itu.

Perempuan pensiunan pemkot Semarang itu tak pernah patah arang. Sampah ia sulap menjadi barang baru, baik eco brick, tas, taplak, hingga pupuk kompos. Bahkan terakhir, ia baru saja membuat sabun cuci dari minyak jelantah.

Baca juga:  Roti Lentul, Sehari Habiskan Empat Kuintal Bekatul

Usahanya tak sia-sia, sejak awal berdiri hingga sekarang pihaknya menyabet berbagai kejuaraan mulai dari tingkat kecamatan, kota, hingga nasional. Dengan tim penggerak sebanyak 15 orang, kegiatannya dapat terus berjalan.

“Dulu susah banget awalnya, tapi saya rangkul tokoh di sini, dan sekarang semua sudah terbiasa dengan kebiasaan baik ini,” tutupnya. (taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya