alexametrics

Tahun Baru, Warga Semarang Disambut Banjir

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tahun baru 2022 benar-benar disambut prihatin oleh Satrio Seno Prakoso. Warga Jalan Tejokusumo II Telogosari, Kelurahan Muktiharjo Kidul ini tidak ke mana-mana. Bukan karena mengikuti imbauan pemerintah, tapi banjir telah mengepung kampungnya sejak Jumat (31/12) malam. Kondisi ini juga dialami masyarakat di sejumlah wilayah Kota Semarang.

“Tidak ada (acara) bakar-bakaran (menyambut tahun baru) di sini,” kata dosen sebuah perguruan tinggi swasta ini.

Hingga Sabtu (1/1) malam, air di jalan depan rumah Seno masih menggenang dengan ketinggian sekitar 10 cm. Air tidak sampai masuk ke dalam rumah Seno. Sebab rumah tersebut sudah ditinggikan hingga sekitar 50 cm dari tinggi jalan di depan rumah.

“Kalau tetangga yang rumahnya belum ditinggikan, sudah pasti kebanjiran. Ada yang ketinggian airnya sampai sekitar selutut,” jelasnya. Warga yang rumahnya terendam air terpaksa harus mengungsi ke rumah warga lain yang selamat dari genangan.

Baca juga:  Targetkan Vaksin 6.000 Warga Setiap Hari

Dijelaskannya, banjir di awal 2022 ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Setelah Jalan Telogosari Raya ditinggikan, jelasnya, air selalu membanjiri permukiman warga yang posisinya lebih rendah dari Jalan Telogosari Raya. “Sekarang, meski sudah tidak hujan, air masih naik. Surutnya sulit,” kata Seno.

Hujan deras sejak Jumat (31/12) sore mengakibatkan Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) meluap. Bahkan, kawasan Tambak Dalam, Kelurahan Sawah Besar, Gayamsari tergenang banjir lumpur. Itu karena sedimentasi sungai BKT yang kini dangkal.

Genangan banjir di wilayah Tambak Dalam mencapai ketinggian antara 20 hingga 30 cm. Banyaknya endapan lumpur di sungai membuat sedimentasinya dangkal. Bahkan, genangan lumpur pada Jumat malam bertambah tinggi. “Sekarang lumayan surut. Tapi kalau hujan lagi hal serupa bisa terjadi,” kata Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Sawah Besar Mulyadi saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang Sabtu (1/1).

Baca juga:  Musim Pancaroba, Waspadai Sebaran DBD

Lebih lanjut dia katakan, Jumat sore hujan deras dan awan hitam bergelayut di langit selatan, dipastikan selain kota Semarang hujan, di Ungaran juga terjadi hujan. Akibatnya banjir kiriman terjadi dan BKT tak mampu menampung aliran air yang mengalir menuju muara. Selain itu, Mulyadi juga memprediksi pembagian air dari pintu air Pucanggading Mranggen Demak ke BKT dibuka dan aliran melimpah dan meluap kendati BKT sudah dinormalisasi.

“Seharusnya pembagian air dari pintu air Pucanggading juga dialirkan ke Dompo Sayung Kabupaten Demak sehingga BKT diharapkan tidak meluap,” tambahnya.

Sejak Jumat malam, Mulyadi bersama warga berjibaku dengan hujan, air, dan lumpur untuk membendung kebocoran pada pintu air menggunakan karung berisi pasir. Ia berharap, selain ada pintu air juga seharusnya dibangun waduk untuk penampungan air. Seperti halnya di BKB (Banjir Kanal Barat) yang memiliki penampungan berupa Waduk Jatibarang. “Kami harap bisa bersinergi bersama pemerintah agar masalah banjir ini teratasi,” tandasnya.

Baca juga:  Brio vs Viar, Satu Tewas

Jalan Raya Kaligawe tak ketinggalan digenangi air. Area ini memang sudah jadi langganan banjir. Termasuk di awal 2022. Ketinggian air di bawah jembatan tol mencapai sekitar 70 cm. Banyak motor warga yang mogok gara-gara nekad menerobos air. Pemilik motor harus rela berbasah-basah oleh air dan keringat ketika menuntun motornya yang mogok di tengah banjir.

Sejak Jumat sore, banjir antara lain terjadi di Jalan Tentara Pelajar atau Pasar Kambing, kawasan Lampersari, Jalan Brigjen Soediarto, Jalan Arteri Soekarno Hatta, Jalan medoho, Jalan Gajah Raya, kawasan Terboyo, Mangkang, Penggaron, Muktiharjo, Palebon, Telogosari, Tambakboyo. Lalu Kaligawe, Genuk Indah, Gebang Anom, dan sejumlah wilayah lainnya. (dev/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya