alexametrics

Buruh Jateng Tantang Ganjar Naikkan Upah 16 Persen

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sebanyak 2.600 massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Buruh Jawa Tengah (ABJT) kembali melancarkan unjukrasa di depan kantor Gubernuran Jateng Selasa (30/11). Mereka menolak Surat Keputusan Gubernur yang hanya menaikkan UMP 2022 sebesar 0,78 persen atau setara dengan Rp 14.032 saja.

Lebih parah, di tingkat kota atau kabupaten seperti Klaten, Dewan Pengupahan hanya menaikkan upah sebesar Rp 4.000. Para buruh menganggap pemerintah bermain-main dengan masa depan buruh. Melihat hal itu, ribuan buruh dari Semarang, Demak, Jepara, hingga Temanggung memilih turun ke jalan.

“Survei Kebutuhan Hidup layak (KHL) selama pandemi, kami butuh kenaikan upah sebesar 16 persen,” kata Karmanto, koordinator lapangan aksi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Lapas Kedungpane Overload, Kapasitas 663 Sudah Dihuni 1.755 Orang

Tak jauh berbeda dengan aksi demo dua hari sebelumnya, para buruh meminta kenaikan upah karena kebutuhan selama pandemi meningkat. Selain itu, kenaikan upah juga dinilai perlu untuk mengentaskan Jateng dari angka kemiskinan.

Massa semakin vokal menolak upah murah yang diputuskan Ganjar lantaran dasar yang digunakan UU nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang cacat formil. Sehingga penerapan PP nomor 36 Tahun 2021 dalam kebijakan upah minimum tidak dapat diberlakukan.

“Jakarta, Karawang saja bisa memiliki upah minimum Rp 4-5 juta lebih, kenapa Jateng tidak bisa? Tolak upah murah!” teriak salah seorang orator di depan Gedung Gubernur Jateng.

Sebelumnya mereka melakukan aksi long march dari Jalan Ronggowarsito sejak pukul 10.00 pagi. Hingga pukul 15.00, aksi massa masih bertahan di sepanjang Jalan Pahlawan. (taf/ida)

Baca juga:  Parlemen Modern, Kedepankan Keterbukaan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya