alexametrics

8.292 Desa Rentan Terdampak Krisis Iklim

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng mencatat 8.292 desa di Jateng rentan terdampak krisis iklim kategori sedang. Sedangkan 26 desa lainnya masuk kategori sangat rentan, khususnya kawasan pesisir Semarang, Demak, dan Pekalongan.

Menurut pantauan BMKG, kondisi Jateng 10 tahun terakhir rata-rata mengalami kenaikan suhu sebesar 0,9 derajat celcius. Ninik Damiyati, kepala Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup DLHK Jateng mengatakan, angka kenaikan tersebut perlu diwaspadai di semua sektor.

“Ini nantinya akan berdampak ke berbagai sektor kehidupan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kenaikan suhu tersebut ikut mempengaruhi musim yang tak pasti. Musim hujan semakin ekstrim dan berisiko banjir bandang. Begitu pun sebaliknya musim kemarau akan lebih kering dan sulit air.

Baca juga:  Buka Dapur Umum dari Hasil Jimpitan

Kenaikan suhu laut menjadi risiko terbesar yang harus dihadapi warga Jateng. Karenanya permukaan laut juga ikut naik sekitar 0,6-1,2 sentimeter per tahun. Sebenarnya hal ini bukan masalah baru. Beberapa dekade lalu banyak warga pesisir yang terpaksa bermigrasi dari tempat tinggalnya lantaran tergerus abrasi.

Kemampuan adaptasi warga pesisir mempengaruhi kerentatanannya menghadapi krisis iklim. Beberapa dampak kenaikan suhu telah dirasakan. Seperti halnya berkurangnya sumber mata air dan jumlah debit air, hingga rusaknya ekosistem laut dan hutan mangrove.

“Kalau kenaikan suhu tambah tinggi akan berdampak pada penurunan hasil tani,” imbuhnya.

Dalam hal ini DLHK Jateng memiliki andil soal kebijakan, sarana prasarana, pemantauan, hingga pemberdayaan masyarakat. Untuk upaya implementasi kebijakan, pihaknya memiliki Rencana Aksi Daerah (RAD), program penurunan gas rumah kaca, Jakstrada, dsb.

Baca juga:  Lahirkan 99 Sekolah Adiwiyata Selama 2021

Sedangkan dalam upaya penyediaan sarana prasarana adaptasi maupun mitigasi dampak krisis ini, pihaknya mengadakan infrastruktur pengendalian banjir dan rob, pengendalian sampah dan pencemaran, IPAL, TPST, hingga pengendalian kekeringan.

“Kami libatkan masyarakat seperti desa proklim, mandiri energi. Kami utamakan energi terbarukan,” terangnya.

Tahun ini, DLHK Jateng berkomitmen meningkatkan indeks kualitas air, udara, dan tutupan lahan. Meski jumlah target belum signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pihaknya tetap berusaha keras mewujudkan komitmen tersebut. (taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya