alexametrics

Data Sioux Ular Indonesia, Sepanjang 2021 Sudah Ada 25 Orang Meninggal Digigit King Cobra

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Gigitan ular kobra cukup mematikan. Data Yayasan Sioux Ular Indonesia, tercatat selama 2021 ini, sudah ada 25 warga yang meninggal akibat gigitan ular berbisa jenis King Cobra. Lalu, seperti apa penanganan terhadap ular jenis ini?

Yayasan Sioux Ular Indonesia dulu bernama Sioux Lembaga Studi Ular Indonesia. Yayasan ini didirikan sebagai wadah upgrading pengetahuan tentang karakter ular Indonesia guna mengubah paradigma masyarakat yang cenderung negatif tentang ular.

Trainer Sioux kerap menggelar snake awareness. Salah satu materi yang disampaikan di antaranya soal handling ular, terutama ular liar semacam kobra dan phyton. Ini menjadi bekal warga jika bertemu ular liar. Sebab, tak sedikit warga yang meninggal akibat gigitan ular berbisa jenis King Cobra. Ironisnya, selama ini, korban meninggal justru didominasi oleh pemelihara ular kobra sendiri.

Baca juga:  Gadis Cantik Ini Selundupkan 2 Kg Sabu dari Malaysia

Iya, korban didominasi pemelihara ular King Cobra. Mungkin mereka lengah. Semisal ketika saat memandikan ular, tergigit lalu meninggal,” ungkap trainer Sioux area Jateng Momon Darmono kepada, Minggu (14/11/2021).

Menurutnya, angka kecelakaan tersebut bagaikan fenomena gunung es. Artinya, tidak menutup kemungkinan jumlah kejadian dan korban bertambah setiap tahunnya. Sebab, tidak semua kejadian gigitan ular dilaporkan, dan masyarakat menganggap merupakan kecelakaan biasa.

“Padahal korban digigit ular berbisa mencapai 200 orang per tahun. Untuk Jateng kami tidak merinci, itu data global,” bebernya.

Menurutnya, pemelihara ular, utamanya jenis kobra harus selalu berhati-hati. Selain itu, masyarakat juga diharapkan tidak mudah mempercayai mitos-mitos yang berkembang. Seperti halnya memberikan garam, sapu ijuk, dan harus membunuh ular ketika bertemu.

“Padahal tak semua ular berbahaya. Maka yang perlu dilakukan masyarakat perlu tahu penanganan ular, dari kenali jenisnya, dan cara mengatasinya,” bebernya.

Baca juga:  Bandara Ahmad Yani Semarang Tambah Layanan Konektivitas Transportasi

Dikatakan, dengan adanya kejadian-kejadian tersebut, perlu adanya pendidikan dan pelatihan penanganan ular kepada masyarakat. Baik saat menghadapi kejadian gigitan ular berbisa maupun tak berbisa. Pihaknya juga memberikan bekal pelatihan terhadap para relawan untuk membantu masyarakat.

“Relawan perlu membekali diri dengan kemampuan penanganan ular. Karena banyak sekali manfaatnya, terutama relawan yang seringkali berinteraksi dengan alam dan lingkungan,” terangnya.

Darmono menyebutkan, bekal dan pengetahuan yang diberikan kepada relawan, antara lain bekal biologi ular, penanganan pada gigitan ular, identifikasi ular, dan handling ular. Alasan penting pelatihan tersebut, supaya ketika bertugas di lapangan mampu melakukan tindakan yang aman, baik bagi manusia maupun si ular.

“Pelatihan ini untuk memberikan edukasi cara penanganan ancaman ular dan dampak gigitannya,” katanya.

Ditambahnya, pelatihan tersebut diberikan secara gratis. Hal ini bagian dari rangkaian HUT ke-18 Sioux Indonesia. Komunitas ini juga telah memberikan sosialisasi Snake Awareness di Cilacap, Demak, Magelang, Pekalongan,dan Solo. “Komunitas kami fokus edukasi tentang ular,” ujarnya.

Baca juga:  Gadis Cantik Ditemukan Tewas di Hutan, Dikira Kecelakaan, Ternyata Dibunuh

Ketua Harian Gunungpati Peduli Sulistyawan mengakui, hasil dari pelatihan ini sudah langsung dirasakan oleh para relawan. Menurutnya, sebelum mengikuti pelatihan sebagian para relawan takut menyentuh ular.

“Awalnya, relawan anggap ular itu tabu dan menakutkan, kini mindset-nya sudah berubah. Mereka sudah paham penanganan ular,” katanya.

Selepas mendapatkan pelatihan, relawan sudah mampu menangani ular, baik jenis berbisa maupun ular tak berbisa. Lantaran saat latihan relawan diberi kesempatan untuk praktik langsung dengan ular sungguhan.

“Jadi, ketika bertemu ular, jangan asal pukul. Hewan juga punya hak hidup. Sebagai relawan harus tahu edukasi pandangannya,” ujarnya. (mha/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya