alexametrics

Budi Daya Jamur Kian Menjamur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Beberapa warga di Jawa Tengah kini banyak yang tertarik melakukan budi daya jamur. Terutama jamur kuping dan jamur tiram yang bisa dikonsumsi masyarakat untuk melengkapi lauk pauk di rumah.

Kelompok Tani Wanita (KWT) Mukti Asri Mandiri Wanamukti RT1, RW 4, Kelurahan Sambiroto terbilang cukup produtif. Mereka mengelola jamur di lahan yang tak terpakai. Bahkan, bekas dari panen jamur dapat dipakai untuk membuat pupuk.

Bahkan sebelum pandemi Covid-19, pihaknya bisa memanen jamur sekitar lima sampai enam kilogram jamur kuping. “Per kilogramnya kalau jamur tiram dihargai Rp 15 ribu. Sedangkan jamur kupingnya lebih mahal Rp 25 ribu/kilogram,” kata Ketua RT 1, RW 4, Budiman.

Dulu sebelum pandemi atau sekitar 3 tahun yang lalu, KWT membeli bibit jamur sekitar 1.000 bibit jamur tiram, dan sekitar 500 bibit jamur kuping. Bibit jamur diperoleh dari Sragen. “Dulu banyak, sekarang hanya ratusan bibit saja. Karena dari sananya memang harus mengantre pembelian bibitnya,” jelasnya.

Ketika bibit jamur sudah datang terdapat tutup dari kertas. Sesudah berwarna putih semua, maka kertasnya baru boleh dicabut. Selang seminggu sudah tumbuh jamurnya. Kira-kira sekitar satu bulan setelah membeli bibit jamur sudah tumbuh jamur.

Baca juga:  Pecah Kepadatan Lalin di Pusat Kota, Perbanyak Rambu dan Petunjuk Jalur Alterantif

“Jamur kuping manfaatnya banyak dan mahal, hampir dua kali lipatnya harga jamur tiram,” kata Saronto, 71, warga setempat yang turut melakukan budidaya jamur.

Hasil panen jamur dijual kepada warganya dengan harga Rp 15 ribu per kilogramnya untuk jamur tiram dan Rp 25 ribu untuk jamur kuping. Sedangkan untuk warga luar wilayah dihargai Rp 17.500 untuk jamur tiram dan Rp 30 ribu untuk jamur kuping.

Sisa panen jamur, biasanya dicutikki di ujung mulut media tanamnya. Selang satu minggu, akan tumbuh lagi dan bisa dipanen lagi. Kualitas jamur dapat dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan. Tidak boleh terlalu kering dan tidak terlalu basah.

“Kunci perawatan adalah tempatnya selalu lembab serta tidak boleh merokok di sekeliling tempat budidaya jamur,” jelasnya.

Penyiraman dilakukan dengan melembabkan lingkungan sekitar. Namun, kalau suhunya panas terik harus dipasang kabut. “Pagi selalu saya sirami dengan cara menyirami dari bawah. Kalau siang saya pasrahkan ke istri saya untuk perawatannya,” ungkapnya.

Baca juga:  Trafo Meledak, Tiga Toko Terbakar

Media tanam jamur bisa bertahan 6 bulan untuk berkali-kali panen. “Masih bisa dipanen, tapi kalau terakhir ya jamurnya kecil. Tidak seperti pertama kali panen,” katanya.

Minggu kemarin pihaknya baru saja memanen jamur. Panen jamur dilakukan dua hari sekali. “Kemarin kami memanen 2,5 kilogram,” katanya.

Pihaknya juga memiliki pembukuan terkait perputaran uang dalam perawatan jamur. Sehingga tidak ada yang menyimpang, karena semuanya wajib disiplin.

Hasil panen ditawarkan ke warganya terlebih dahulu, khususnya warga RT 1 RW 4. Kalau sudah mencukupi, baru ditawarkan ke lain RT. “Sampai Blok 2 dan Blok 3. Bahkan, banyak yang rebutan untuk memesan hasil panen jamur,” katanya.

Meski begitu, pihaknya mengutamakan dijual kepada orang yang mengonsumsi, bukan untuk dijual kembali. “Kan sudah ada pembukuan pemesanan sesuai tanggal pemesanannya. Itupun ada nomor urut pemesanannya. Ada ratusan orang yang memesan, tapi produk kami tidak sebanyak dulu. Sekarang memenuhi kebutuhan dalam satu RT saja kewalahan,” tuturnya.

Baca juga:  Tiga Bulan Tak Direspons, Keluarga Samuel Tuding RS Telogorejo ‘Mencla-Mencle’

Media tanam jamur, bahan bakunya terbuat dari grajen kayu sengon yang tidak mengandung minyak. Di dalamnya ada bibit jamurnya yang sudah diproses di Sragen. “Satu media ini Rp 3000. Sekarang ini hanya kebagian 200 jamur tiram dan 100 jamur kuping,” katanya.

Jamur kuping perawatannya lebih lama. Namun kalau jamur tiram sudah bisa dipanen, jamur kuping belum bisa dipanen. “Meski begitu, jamur kuping lebih enak dibikin bahan masakan,” katanya.

Dirinya membuat pupuk dari sisa hasil panen dan media jamur yang sudah tidak terpakai. Dengan cara mencampurkan bekas media jamur dengan berambut, air leri, pupuk E4, tetes tebu, dedaunan kering, serta air.

Bahan-bahan tersebut didiamkan selama tiga sampai empat minggu. Kemudian diukur tingkat keasamannya. “Hasil pupuknya dijual seharga Rp 20 ribu per karung. Jadi tidak ada yang terbuang. Semua bisa dimanfaatkan,” katanya.

Ia berharap perawatan masih berlanjut. Kendati demikian, dirinya mengajak warga untuk menanam anggur dan tanaman lainnya. (fgr/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya