alexametrics

Ratusan Massa Turun ke Jalan, Gelar Aksi Lawan Oligarki

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang Sekitar 200 massa dari kalangan buruh dan mahasiswa melakukan long march menuju depan kantor Gubernur Jateng, Kamis (28/10/2021). Untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, mereka menggelar unjuk rasa melawan oligarki.

Ratusan massa berjalan mundur dari Lapangan Simpang Lima. Kemudian membacakan teks sumpah pemuda di depan gedung pemerintahan. Orasi dilakukan bergantian.

Seorang peserta aksi massa berbaring setengah telanjang di depan gerbang. Tubuhnya ditaburi bunga dan air layaknya mayat. Di atas dadanya bertuliskan oligarki. Aksi massa ingin menghentikan praktik oligarki berhenti.

“Dulu kita melawan penjajah dari luar negeri. Sekarang kita melawan oligarki yang mana dikuasai pemerintahnya sendiri,” ujar Aziz, seorang peserta aksi massa kepada Jawa Pos radar Semarang.

Aksi dilanjutkan musikalisasi puisi. Sekitar 50 massa buruh dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) ikut bersuara. Para buruh menyampaikan serentetan tuntutan. Utamanya untuk mencabut omnibuslaw.

Baca juga:  Kecamatan Semarang Timur, Bersinergi Jaga Kekompakan Melawan Covid

Mulyono, koordinator KASBI menilai, kebijakan turunan dari omnibuslaw banyak merugikan buruh. Termasuk aturan soal pekerja asing, outsourcing, berkurangnya pesangon, hilangnya upah sektoral, hingga jaminan pekerjaan untuk lulusan baru yang maish tak pasti. “Kami di sini menegaskan itu semua dan mengingatkan pemerintah,” tegasnya.

Aksi massa sepakat, pada era Jokowi-Maruf Indonesia justru mengalami kemunduran dalam banyak aspek. Mulai dari ketidakseriusan menangani korupsi hingga melebarnya sayap oligarki.

Dalam aksi lanjutan dari evaluasi 2 tahun Jokowi-Maruf pekan lalu, kali ini mereka berfokus pada isu perampasan ruang hidup dan alih fungsi lahan di Jateng. Ratusan mahasiswa dari lingkup Semarang Raya juga menuntut jaminan kesejahteraan pada pemerintah.

Baca juga:  Sindikat Pencuri Kabel Digulung

Sejumlah massa masuk ke depan teras Gedung Gubernur Jateng dan meletakkan belasan tuntutan. Mereka juga menaruh hasil kajian soal alih fungsi lahan dan konflik agraria di Jateng bersama dengan poster demo. “Tuntaskan masalah di Wadas, Kendeng, Kendal, Jepara, dan lainnya. Stop kriminalisasi buruh, aktivis lingkungan dan masyarakat sipil,” pungkas Mulyono. (taf/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya