alexametrics

Penataan Johar Utara Tidak Sesuai Harapan Pedagang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Perjuangan 70 pedagang konveksi Johar Utara Bawah Dalam (JUBD) untuk bisa kembali berjualan di tempat semula tak kenal menyerah.

Para pemilik los, kios, dan dasaran terbuka (DT) di Johar Utara ini kecewa karena dalam undian lapak terlempar ke Shopping Center Johar (SCJ). Mereka juga sudah tak percaya Tim 9 yang selama ini mewakili mereka berkomunikasi dengan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang. Apalagi rata-rata pengurus Tim 9 kini sudah mulai melempem setelah mendapatkan lapak di Johar Utara.

Menurut pedagang JUBD sebut saja Budi, para pedagang semakin kecewa dengan hasil undian lapak. Sebab, saat ini justru Pasar Johar Utara dimasuki pedagang dari Yaik dan Pasar Murah (PM). Sementara pedagang asli Johar Utara terlempar ke SCJ.

Dari data yang dimiliki, ada sekitar 70 pedagang Johar Utara yang mayoritas pedagang konveksi terlempar ke SCJ. Karena merasa ada yang tidak beres, perwakilan pedagang ini pun mengadu ke Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Senin (12/10/2021) lalu.

Iya, kita kemarin ketemu Pak Wali, sambat ada 70 pedagang Johar Utara yang terlempar ke SCJ. Ada juga yang ke Kanjengan. Kita sampaikan apa adanya. Seperti dari Yaik, Kanjengan, dan PM malah masuk ke Johar Utara,” kata pedagang yang minta namanya disamarkan, Rabu (13/10/2021).

Saat wadul ke Hendi, hadir juga  Sekda Kota Semarang Iswar Aminuddin dan Asisten II Pemkot Semarang Widoyono. Budi meminta agar pedagang susupan tadi dikeluarkan dari Johar Utara. Budi memperkirakan ada sekitar 35 persen jumlah lapak di Johar Utara kini dihuni pedagang dari luar atau bukan pedagang asli Johar Utara.

“Saya minta untuk diambil dan dipindahkan.  Kalau misalnya dikasihkan ke 70 pedagang yang terlempar, dan bisa masuk ke Johar Utara, akan lebih fair,” tambah pria yang berjualan pakaian ini.

Menurut dia, kemarin juga ada delapan perwakilan pedagang yang terbuang dari Johar Utara sambat ke Hendi. Pedagang ini berasal dari Johar Utara Bawah Dalam dan Johar Utara Atas. Mereka meminta bisa kembali menepati lapak lamanya bukan di SCJ ataupun Kanjengan lantai 4.

Baca juga:  Hendi Akan Salat Ied di Balai Kota

“Kalau misalnya kita dapat di SCJ lantai 1 dan 2 mungkin masih bisa menerima. Nah, ini kabarnya dapat lantai 3 ke atas dan nggak tahu kapan pindahnya. Ini kan menyakitkan. Harapannya kita bisa kembali, minimal ya ke Johar Tengah,” pintanya.

Budi menambahkan, rata-rata pedagang konveksi yang tersingkir dari Johar Utara ini adalah pedagang asli, bahkan sesepuh Johar, serta menjadi korban kebakaran pada 2015 lalu.

Ia juga menyoal penataan pedagang Johar Utara yang tidak sesuai dengan harapan pedagang.  Di mana ada pedagang bakso dan roti, sebelahnya pedagang konveksi. Dan yang lebih menyakitkan, di antara pedagang itu justru dari luar Johar Utara.

“Misalnya kalau memang lapaknya habis, siapa yang pakai? Saya bisa bilang kalau penataan dan zonasi dari dinas ini gagal. Awalnya dulu di Johar Utara adalah konveksi dan aksesoris, lha ini malah campur aduk. Penjual kacamata bahkan jam banyak di bawah, bisa jadi sistemnya diotak-atik,” keluh dia.

Nasib yang sama dirasakan Abdul, pedagang asli Johar Utara yang juga terusir ke SCJ. Pria yang juga enggan ditulis nama aslinya itu berharap mendapatkan kabar baik terkait evaluasi yang akan dilakukan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Apalagi Tim 9 yang membawahi pedagang Johar Utara Bawah Dalam sekarang terkesan acuh setelah masing-masing mendapatkan lapak di Johar Utara.

“Mereka nggak mau ngurusin warganya lagi, bahkan kita disebut sudah melancangi. Sebenarnya kita mengatasnamakan pedagang yang terlempar, tentu kami menduga ada permainan,” kata Abdul, sambil kembali mewanti-wanti tidak menulis nama aslinya karena bakal mendapat teror banyak orang.

Menurutnya, jika pedagang yang terbuang ini ditempatkan di Johar Selatan tidak mungkin, karena zonasinya untuk pedagang bumbu dapur. Harapannya, ditempatkan sama, yakni kembali ke Johar Utara atau minimal ke Johar Tengah.

“Kami ke Johar Tengah nggak masalah, tapi harus klir dulu dan sesuai porsinya. Bukan malah dibiarkan setelah pengurus ini mendapatkan lapak,” katanya.

Baca juga:  Sebulan Sudah Terjadi Lima Kali, Penyelundupan Narkoba Dilempar dari Luar Lapas Kedungpane

Pantauan koran ini kemarin, belum banyak pedagang yang pindahan ke Pasar Johar maupun Kanjengan. Mayoritas masih bertahan di relokasi Pasar Johar di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

“Total pedagang ada sekitar 5.800 pedagang. Pengundian tahap pertama ada 3.802 pedagang. Kekurangannya sekitar 1.000 pedagang kami beri kesempatan untuk melakukan daftar tahap dua. Konteksnya tetap prioritas untuk pedagang lama Pasar Johar,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fravarta Sadman.

Menurutnya, pedagang yang sudah tidak ada masalah bisa segera menempati lapak, sehingga bisa dilakukan evaluasi kekurangannya. Saat ini, masih banyak pedagang yang bertahan di tempat relokasi.

“Kami harap masing-masing kelompok pedagang maupun PPJP bisa menginfokan kepada pedagang. Kami ingin mereka bisa segera berdagang, Johar kembali seperti dulu, ramai,” harapnya.

Menurutnya, selama pedagang belum seluruhnya menempati kawasan Johar, Pemerintah Kota Semarang tetap akan menyewakan tempat di relokasi MAJT. “Tahun depan masih kami sewakan di MAJT. Nanti arealnya kami perkecil, tidak seluas yang sekarang. Ada permintaan dari teman-teman grosir untuk dipusatkan,” jelasnya.

Pantauan koran ini di Pasar Johar MAJT, masih kios yang buka dan melakukan transaksi. Namun ada juga pedagang pakaian dan sepatu di blok H-2 dan Blok I yang sudah mulai mengemasi dagangannya.

“Rencananya mulai Senin depan (18/10/2021) kita mau pindah bareng-bareng (ke Pasal Johar),” terang salah satu pedagang pakaian kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (13/10/2021).

Kebanyakan mereka baru mengecek lapak di Pasar Johar Baru. Namun enggan pindah mengingat di sana pun masih sepi. Apalagi di lokasi, pembangunannya belum sepenuhnya rampung.

“Di sana masih sepi. Kita ya nunggu teman-teman. Disamping itu, Johar Selatan kan masih belum sepenuhnya jadi,” kata Hardiman, pedagang pakaian yang sudah berjualan sejak 1985.

Di sisi lain, masih banyak pedagang yang enggan pindah. Bahkan mereka meminta Gubernur Jateng Ganjar Pranowo turun tangan untuk meninjau langsung dan berdialog dengan pedagang.

Anik, 45, pedagang Dasaran Terbuka yang sekarang berjualan di  blok G-1 Johar MAJT mengaku masih kecewa dengan hasil undian lapak. Ia yang dulunya berjualan di Johar Utara malah terlempar ke SCJ.

Baca juga:  Setor Hafalan via Video Call

“Seharusnya yang mengurus (undian) jangan hanya orang atas. Pedagang juga harus dilibatkan. Ujug-ujug dapat undian kok malah tidak sesuai yang kita tempati dulu,” keluh ibu tiga anak ini.

Tiga pedagang lain yang kemarin ikut nimbrung juga bernasib sama. Mereka sama-sama khawatir jika ditempatkan di SCJ lantai 3 atau lantai atasnya. Karena dipastikan bakal sepi pembeli. Mereka menuntut ditempatkan sesuai dengan posisinya dahulu, atau setidaknya di SCJ lantai 1.

Seperti diberitakan sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meminta Disdag melakukan evaluasi penataan Pasar Johar, karena banyaknya aduan pedagang yang semula berjualan di Johar Utara, namun tergeser ke SCJ.

“Sudah saya jelasnya kondisinya seperti apa, kita sudah bertemu dengan pedagang. Saya jelaskan mestinya tidak begitu, Sekda, Asisten II dan Disdag akan saya kumpulkan untuk dilakukan evaluasi,” katanya, Selasa (12/10).

Hendi –sapaan akrab wali kota–menjelaskan, dilihat dari ketersediaan lapak di Johar Utara, Johar Tengah, Johar Selatan, Kanjengan, dan basement Alun-Alun Johar cukup untuk memindah pedagang dengan pola penataan satu pedagang satu kios, los ataupun dasaran terbuka (DT).

“Jumlah total lima blok ini, kios sebanyak 728, sedangkan jumlah pedagang yang teregister kios ada 726. Harusnya, semua bisa masuk dan ada sisa dua. Jumlah los ada sekitar 2.600, sedangkan jumlah pedagang yang teregister los ada sekitar 1.600. Jadi masih sisa banyak,” bebernya.

Hendi mengatakan, seharusnya seluruh pedagang bisa masuk di lima blok tersebut, dan tidak sampai terlempar ke SCJ. Evaluasi, kata dia, harus dilakukan karena mungkin ada kesalahan pada aplikasi E-Pandawa yang menjadi sistem dalam pengundian kios maupun los kawasan Johar.

“Pedagang ini punya hak, meskipun di Johar Utara kapasitasnya terbatas, tapi bisa ke Johar Selatan, basement alun-alun atau Kanjengan. Nah, kalau nunggu SCJ masih lama, karena tahun depan dan saya minta untuk dilakukan eveluasi,” tegasnya. (den/cr9/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya