alexametrics

Wali Kota Hendi Mencium Ketidakberesan Pengundian Lapak Pasar Johar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangPemindahan pedagang dari tempat relokasi di Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ke Pasar Johar Baru tidak berjalan mulus.

Pasalnya, banyak pedagang yang tidak terima dengan hasil undian lapak. Para pedagang juga enggan pindah lantaran ada yang merasa tergusur dari tempat lama, ataupun mendapatkan los dan kios yang tidak sesuai harapan.

Hal ini memaksa Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi turun tangan. Rupanya, orang nomor satu di Kota Semarang ini mulai mencium ada ketidakberesan dalam pengundian lapak Pasar Johar. Wali kota yang akrab disapa Hendi ini pun meminta Dinas Perdagangan (Disdag) melakukan evaluasi penataan Pasar Johar.

Sebelumnya, pada Senin (12/10/2021) siang, Hendi sempat bertemu dengan perwakilan pedagang Johar Utara yang kecewa lantaran terlempar ke Shopping Center Johar (SCJ). Rata-rata mereka adalah pedagang lama di Johar Utara dan Johar Utara Bawah Dalam (JUBD).

“Sudah saya jelasnya kondisinya seperti apa? Kita sudah bertemu dengan pedagang. Saya jelaskan mestinya tidak begitu, Sekda, Asisten II, dan Disdag akan saya kumpulkan untuk dilakukan evaluasi,” katanya, Selasa (12/10/2021).

Hendi menjelaskan, dilihat dari ketersediaan lapak di Johar Utara, Johar Tengah, Johar Selatan, Kanjengan, dan basement Alun-Alun Johar cukup untuk memindah pedagang dengan pola penataan satu pedagang satu kios, los, ataupun dasaran terbuka (DT).

Baca juga:  Pemkot Siapkan 11.288 Beasiswa

“Jumlah kios di lima blok ini sebanyak 728 kios, sedangkan jumlah pedagang yang teregister kios ada 726, semua bisa masuk, bahkan ada sisa,” tambahnya.

Sementara jumlah los di lima blok itu sekitar 2.600 los. Sedangkan jumlah pedagang yang teregister los sekitar 1.600. Hendi mengatakan, seharusnya seluruh pedagang bisa masuk semua.

Evaluasi, kata dia, harus dilakukan karena mungkin ada kesalahan pada aplikasi E-Pandawa yang menjadi sistem dalam pengundian kios maupun los di kawasan Johar.

“Dari pembahasan dalam rapat sebenarnya perhitungan los dan kios cukup bagi pedagang yang akan dipindah,” tuturnya.

Banyaknya pedagang yang tergeser dari tempat jualan lama, seharusnya memiliki hak untuk mendapatkan kios atau los di lima blok yang sudah disiapkan. Menurut Hendi, jika menunggu SCJ jadi akan terlalu lama.

“Pedagang ini punya hak, meskipun di Johar Utara kapasitasnya terbatas, tapi bisa ke selatan, basement alun-alun, atau Kanjengan. Nah kalau nunggu SCJ masih lama, karena tahun depan dan saya minta untuk dilakukan eveluasi,” tandasnya.

Baca juga:  Idealnya, Jadi 22 Kecamatan dan 250 Kelurahan

Gelombang protes paling kencang terhadap hasil undian lapak disuarakan pedagang Johar Utara. Mereka kecewa terhadap hasil undian yang dinilai tidak adil dan kurang transparan.

Sebab, tak sedikit pedagang lama yang terlempar ke SCJ. Sebaliknya, lapak di Johar Utara, justru banyak dimasuki pedagang Yaik Baru dan Pasar Murah (PM).

Informasi yang koran ini, saat menemui wali kota, Senin (12/10/2021) siang, perwakilan pedagang lebih dulu melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fravarta Sadman.

Namun dalam audiensi itu, hasilnya nihil. Hingga perwakilan pedagang menemui wali kota di lobi kantor balai kota.

Sementara itu, pantauan koran ini di lapangan dua hari setelah deadline pedagang harus pindah kawasan Johar Baru masih terlihat sepi. Johar Tengah dan Utara misalnya, belum diisi semua pedagang, dan baru ada dua pedagang yang menggelar dagangannya.

“Sejak pindah kemarin masih sepi sampai sekarang, apalagi yang jualan masih sedikit,” kata pedagang yang menjual kosmetik ini.

Baca juga:  Perang Lawan Pandemi, Tiru Semangat Mandurorejo 

Selain itu, terlihat juga pasutri yang sedang sibuk menata dagangannya. Mereka berjualan makanan kering dan cemilan. Andi, suami dari penjual makanan kering ini mengaku, sebelum Pasar Johar terbakar, istrinya berjualan di Johar Tengah. Kini mereka mendapatkan lapak di zonasi makanan Johar Utara.

“Saya sudah bersyukur bisa jualan lagi, semoga proyek yang belum selesai segera selesai juga, supaya pasar bisa ramai pembeli,” tutur Andi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pedagang lain, Fitri, juga terlihat masih menunggu dagangannya. Ia berharap ada pembeli hari itu. Pasalnya, sejak pindahan Minggu (10/10/2021) lalu, pasar masih tampak sepi pembeli.

“Dari kemarin, belum bertambah pedagangnya. Saya hanya mengikuti aturan pemerintah. Diminta pindah, ya saya pindah,” tutur pedagang pakaian ini.

Di lokasi yang berbeda, tepatnya di Pasar Kanjengan belum ada tanda-tanda pedagang yang mulai pindah dan berjualan di sana. Gedung empat lantai ini terlihat kosong dan mulai kotor.

“Untuk lapaknya sendiri sudah dibagi, tetapi pedagangnya belum ada yang pindah ke sini,” ujar seorang penjaga Pasar Kanjengan yang keberatan ditulis namanya. (den/mg12/mg13/mg14/mg17/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya