alexametrics

Padukan Batik Asem Semarangan dan Tapis Lampung di Kain 12 Meter

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kampung Djadoel dan Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Lampung (Kamapala) memadukan batik asem Semarangan dan Tapis Lampung. Kolaborasi yang disebut  Tatik Budayo menjadi salah satu upaya anak muda mengembangkan warisan budaya batik yang juga tercatat di UNESCO.

Perpaduan terdapat pada motif tapis yang digambarkan pada kain batik. Pada umumnya tapis bermotif pucuk rebung dan gajah. Lalu beberapa motif Batik Semarang disematkan di antara motif tapis. Kemudian kain batik digarap dengan gotong royong di sudut permukiman Kampung Batik, Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur.

Belasan pemuda berdiri berjajar sepanjang 12 meter. Menghadap selembar kain putih. Tangan mereka menggenggam alat canting berisikan lilin yang mendidih. Anak muda yang kebanyakan berasal dari Lampung itu pertama kali mencoba sensasi membatik. Kolaborasi ini diadakan untuk memeriahkan Hari Batik.

Baca juga:  Kronologi Kecelakaan Jalan Silayur Semarang, Sopir Truk Terjepit di Kabin

“Seru baru pertama kali. Tapi tadi sempet kesusahan pas nyanting, mana panas lilinnya kan,” ujar Jefriyani, mahasiswi UIN Walisongo yang ikut meramaikan kegiatan tersebut.

Pada pukul 09.00 acara dibuka dengan Tari Sigeh asal Lampung untuk menyambut para tamu. Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu ikut hadir. Mbak Ita-sapaan akrabnya membuka acara dan memulai mencanting pada kain 12 meter itu. Sekitar 100 tamu dan peserta hadir menyemarakkan kegiatan saat pembukaan.

Acara yang cukup meriah itu ternyata hasil spontanitas Kamapala dan warga kampung setempat. Awalnya Nahrurrizza bersama teman-temannya merasa bosan dengan kegiatan kampus yang serba daring. Lalu ia iseng berkunjung dengan maksud dapat membantu acara di Kampung Batik.

Baca juga:  Arca dan Prasasti Koleksi Museum Ronggowarsito Dicuci

Eh, ternyata belum ada rencana bikin acara. Terus kita ditawari Pak Luwi buat kolaborasi. Langsung kita rancang dalam seminggu,” ungkap Riza, ketua acara itu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain membatik bersama, acara diisi dengan talkshow sembari menikmati Kopi Lampung.

Luwiyanto, ketua Kampung Djadoel menyampaikan peran konkrit pemuda menjaga eksistensi budaya lokal. Dengan segala kemajuan teknologi justru anak muda dapat mengembangkan budaya dengan lebih kreatif.

“NKRI itu bukan cuma slogan, tapi diwujudkan secara nyata,” katanya. (taf/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya