alexametrics

Delapan Hari, Bobol Empat ATM

*Bawa Kabur Uang Rp 946,5 Juta *Empat Tersangka Ditembak

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Komplotan pembobol mesin ATM lintas provinsi berhasil dibekuk tim Direktrorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jatang. Sebanyak enam tersangka diamankan, empat di antaranya terpaksa dilumpuhkan dengan terjangan timah panas.

Mereka adalah Maskur, 39, warga Lebak, Banten; Asep Maulana Makhpudz, 42, warga Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, dan Muhammad Asri, 34, warga Rangkasbitung, Lebak, Banten. Selain itu, Munadjat, 46; Suyadi, 36, dan Abdul Rozak, 34, ketiganya warga Desa Tlogorejo, Kecamatan Tegowanu, Grobogan.

Data yang diperoleh Jawa Pos Radar Semarang, keenam tersangka telah membobol sedikitnya empat mesin ATM, dan berhasil membawa kabur uang Rp 946,5 juta. Setiap beraksi cukup cepat, tidak sampai satu jam.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng Kombes Pol Djuhandani Rahardjo Puro menjelaskan, para tersangka membobol mesin ATM dengan menggunakan mesin las.

Dikatakan, pengungkapan kasus ini bermula dari adanya pelaporan aksi pencurian uang di mesin ATM Bank CIMB Niaga di Indomaret Jalan Kembangarum, Mranggen, Kabupaten Demak, Minggu (12/9) sekitar pukul 04.00. Dalam aksinya, para tersangka berhasil membawa kabur uang tunai Rp 97,15 juta.

Dari laporan itu, anggota Subdit 3 Jatanras Polda Jateng melakukan penyelidikan. Selain melakukan olah TKP, petugas mendapatkan berbagai keterangan tentang sarana yang digunakan, serta hasil analisa. Hasilnya, empat tersangka ditangkap dalam sebuah penggerebekan di salah satu rumah di wilayah Rangkasbitung, Lebak, Banten, Minggu (26/9) lalu.

Baca juga:  Tali Penarik Putus, Gagal Rampok ATM

Keempat tersangka terpaksa dilumpuhkan kakinya dengan tembakan timah panas lantaran berusaha melawan petugas. Di waktu yang sama, petugas juga menangkap dua tersangka di rumah masing-masing di Tegowanu, Grobogan. “Enam tersangka tersebut terpisah di dua TKP, sehingga kami memberangkatkan dua tim di Lebak Banten dan Grobogan. Akhirnya, berhasil diamankan enam orang,” terangnya.

Para tersangka digelandang untuk menunjukkan barang bukti. Di antaranya satu tabung oksigen untuk las, seperangkat alat las, dan satu alat bor. Selain itu, mobil Honda Mobilio nopol H 9422 WF, motor Honda Beat nopol K 2009 NF, satu truk, dan uang tunai sisa hasil kejahatan.

“Truk itu digunakan untuk menutupi saat melakukan aksi. Truk diparkir untuk menutupi supaya tidak ada orang yang melihat. Kemudian satu mobil lagi digunakan untuk kegiatan operasional maupun menggambar situasi,” bebernya.

Hasil pengembangan petugas, komplotan ini juga diketahui melakukan pencurian di ATM Kantor Kas Bank Jateng di Godong, Kabupaten Grobogan pada Jumat (10/9) sekitar pukul 04.00. Namun para tersangka tidak mendapatkan hasil lantaran aksinya dicurigai warga hingga akhirnya kabur.

Aksi lainnya dilakukan di mesin ATM Bank BRI depan Samsat Ungaran, Kabupaten Semarang pada Jumat (17/9) sekitar pukul 03.00. Lagi-lagi, kawasan tersangka tidak berhasil mendapatkan hasil, karena kurang matang dalam persiapan peralatan. “Pencurian gagal karena gas untuk ngelas habis,” jelasnya.

Baca juga:  Tekan Angka DB, Pemkot Gelar Kerja Bakti Masal

Pencurian dengan kerugian terbesar dilakukan komplotan ini di mesin ATM Bank Jateng Jateng di Indomaret Plalangan, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (18/9). Dalam aksinya, komplotan ini berhasil membawa kabur uang tunai Rp 849,4 juta. “Jadi, selama delapan hari, mereka melakukan aksi di empat TKP. Ada yang berhasil, ada yang tidak,” katanya.

Dijelaskan, sebelum beraksi, para tersangka telah mempersiapkan diri dengan melakukan latihan. Mereka mengelas beberapa besi, sebelum melakukan aksi di TKP. “Mereka juga belajar seluk beluk mesin ATM,” ujarnya.

Setiap aksinya, lanjut dia, para tersangka memiliki peran berbeda. Tersangka Maskur berperan menyediakan alat las, membobol tembok, dan pengawasan situasi. Ia mendapat bagian Rp 13 juta. Tersangka Asep Maulana bertugas membobol dan mengelas. Ia mendapat bagian Rp 25 juta. Tersangka Munadjat berperan menentukan lokasi, driver, sekaligus mengawasi lingkungan. Ia mendapat bagian Rp 23 juta. Sedangkan tersangka Muhammad Asri, Suyadi, dan Abdul Rozak berperan mengawasi lokasi. Mereka mendapat bagian masing-masing Rp 13 juta.

“Setiap aksi tidak lebih dari satu jam. Mereka hanya kesulitan saat masuknya saja. Membobol tembok perlu waktu. Saat ngelas mesin ATM, mereka butuh waktu kurang dari satu jam,” bebernya.

Aksi yang dilakukan para tersangka dengan target secara acak. Mereka membawa truk yang digunakan untuk pengangkut peralatan kejahatan. Selain itu, membawa mobil Honda Mobilio untuk transportasi dan mengawasi sekitar TKP. Aksinya biasa dilakukan antara pukul 03.00 sampai 04.00.

Baca juga:  Pakai Knalpot Brong, 684 Motor Diamankan

“Sebelum mereka kerja, sore hari sudah survei, menggambar suatu wilayah atau tempat yang menjadi target. Kemudian melakukan eksekusi. Tapi, dua dari enam tersangka ini ada yang tidak semuanya ikut di empat TKP,” jelasnya.

“Mobil dan truk ini statusnya nyewa rental untuk bekerja dan pemiliknya tidak mengetahui. Mereka melakukan secara acak. Mereka mendapatkan hasil banyak itu hanya sebuah kebetulan,” sambungnya.

Dikatakan, uang hasil kejahatan dipakai para tersangka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu juga dipergunakan untuk berfoya-foya dan berjudi. Ada juga yang digunakan untuk investasi membeli tanah. Hal ini dibuktikan dengan disitanya berkas sertifikat tanah.

Petugas masih melakukan pengembangan kemungkinan para tersangka beraksi di wilayah lain. “Di sini ada dua orang (tersangka) yang residivis. Satu orang residivis pencurian kabel Telkom 2007, dan satunya residivis kasus perjudian,” katanya.

Di komplotan ini, tersangka Asep Maulana Makhpudz yang menjadi otak kejahatan. Ia mengakui telah merekrut tiga warga Grobogan untuk memperlancar aksinya. “Iya yang memimpin saya. Kami ketemu di Salatiga. Karena di sini saya tidak punya teman,” ujarnya. (mha/mg9/mg11/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya