alexametrics

Setahun, Satpol PP Semarang Tangkap 300 Manusia Silver

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Seamarang – Jumlah manusia silver di Jalan Protokol Kota Semarang terus meningkat. Selama setahun, Satpol PP berhasil menangkap sedikitnya 300 manusia silver. Penindakan manusia silver ini memang mengacu pada penegakan Perda nomor 5 tahun 2014.

“Semarang ini sebenarnya adalah kota bersih se-Asia Tenggara. Sayangnya belum adanya tempat singgah, banyak dari mereka kembali lagi ke jalan,” kata Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang Rabu (29/9/2021).

Setelah tertangkap, mereka dibina di kantor Satpol PP Kota Semarang. Kemudian diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak lagi kembali ke jalan. Beberapa yang tertangkap lebih dari sekali, kemudian digunduli sebagai shock therapy atau memberikan efek jera. Namun mereka juga kucing-kucingan. Setelah tertangkap di Jrakah, geser ke Tembalang atau tempat lainnya.

Baca juga:  Bundaran Bubakan Semarang Dulu Stasiun dan Terminal Jurnatan, Kini Jadi Musem Kota Lama

“Ke depan kota koordinasikan ke Dinsos agar menyiapkan tempat rehabilitasi. Memang beberapa kali kita temui manusia silver yang pensiunan, namun kita tegaskan tidak tebang pilih,” bebernya.

Selama setahun ini paling tidak ada 300 manusia silver yang tertangkap, tidak dipungkiri selama pandemi ini ada peningkatan jumlah pengemis gelandangan dan orang terlantar (PGOT). Bahkan tak jarang mereka yang tertangkap banyak yang berasal dari luar kota. “Ya memang banyak yang dari luar Semarang, jumlahnya kalau misal 10. Separuhnya dari luar kota,” tuturnya.

Titik terbanyak manusia silver dan PGOT, kata mantan Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) ini ada di Jrakah, Krapyak, Kaligarang, Kota Lama, dan Ada Banyumanik. Fajar mengimbau kepada masyarakat, agar tidak memberikan uang kepada PGOT atau manusia silver yang mangkal di lampu merah ataupun jalan protokol. “Karena sudah ada perdanya, jadi nggak usah dikasih dan juga merusak wajah kota. Sehari mereka bisa dapat banyak Rp 100 ribu per hari,” pungkasnya.

Baca juga:  IDI Jateng Punya Gedung Baru Hasil Swadaya

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang Muthohar tidak memungkiri jika fenomena manusia silver ini kian merebak. Pembinaan sementara masih dilakukan Satpol PP. Meskipun Dinsos memiliki rumah singgah namun setelah ditangkap memang belum dimasukkan kesana.

“Setelah ditangkap memang belum masuk ke rumah singgah. Misalnya kalau masuk, minimal 15 hari dibina di rumah singgah kami yang ada di Ngaliyan,” tambahnya.

Muthohar mengaku akan melakukan koordinasi dengan Satpol PP ataupun dinas terkait untuk memasukkan pembinaan dan mengakomodasi manusia silver yang tertangkap. Sebenarnya, mereka termasuk dalam pekerja seni, sehingga pembinaan bisa dilakukan dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

“Langkah ke depan tentu akan diakomodasi. Pembinaannya apa yang pas, misalnya dengan menggandeng Disbudpar karena mereka juga masuknya sebagai pekerja seni,” pungkasnya. (den/ida)

Baca juga:  Tak Dapat Jawaban, Mantan Karyawan Varuna Siap ke PHI

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya