alexametrics

Kecewa Hasil Pengundian, Pedagang Pasar Johar: Ini Undian yang Paling Amburadul

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SemarangPedagang Pasar Johar yang kecewa dengan hasil pengundian lapak oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang bakal menggelar aksi demo, Kamis (30/9/2021) lusa.

Pasalnya, tak sedikit pedagang hingga kini belum menerima notifikasi nomor lapak. Tak hanya itu, pedagang juga kecewa lantaran mendapatkan lapak tidak sesuai dengan harapan, dan terusir dari Johar Utara dan Tengah.

Sumber koran ini dari pedagang Johar, demo dilakukan sebagai bentuk dialog antara pedagang dengan Pemkot Semarang. Demo juga sebagai salah satu bentuk penyampaian aspirasi pedagang yang merasa tidak puas dengan hasil pengundian lapak. Sehingga nantinya akan terjadi dialog antara pedagang dengan pemkot.

“Kami ingin ada yang memediasi, karena banyak pedagang yang dirugikan dan merasa terbuang,” kata pedagang yang dulu menempati los di Johar Utara yang keberatan ditulis namanya.

Pedagang Johar itu menilai, proses pengundian lapak kemarin dinilai tidak adil dan tidak transparan. Sebab, sebelumnya Dinas Perdagangan tak menjelaskan sistem online seperti apa? Daftar pedagang yang diundi siapa saja? Harusnya daftarnya di-share di publik, sehingga pedagang yang belum masuk, bisa melakukan koreksi sebelum pengundian. Apalagi sekarang sistemnya mudah, cukup pdf daftar pedagang dishare di grup pedagang Johar.

“Kemarin itu hanya pengumuman daftar pedagang dan lapaknya yang disiarkan secara online di Youtube. Jadi, bukan pengundian online,” ujarnya. “Ini undian yang paling amburadul  seluruh  Indonesia   yang gak pernah  terjadi di pasar-pasar mana pun di Indonesia,” sambungnya.

Karena tidak puas itu, pedagang berencana mengadu ke Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. “Ini sudah kacau. Pak wali kota harus turun tangan,” pintanya.

Tak hanya pedagang yang belum mendapat lapak yang kecewa, pedagang yang sudah mendapat los maupun kios pun merasa tidak puas. “Dulu lapak saya sekitar 6 meter persegi. Tapi, ini dapatnya lebih kecil. Ya, memang kondisi pasarnya lebih bagus sih,” kata Agustin Handayani, pedagang ikan asin yang mendapatkan lapak di Johar Tengah lantai II.

Baca juga:  Lawan Sriwijaya FC, PSIS tanpa Suporter

Sempitnya lapak, kata dia, membuat pedagang bakal kesulitan. Apalagi pedagang ikan asin seperti dirinya pasti membawa stok dagangan yang ditempatkan di karung. Sementara pedagang daging biasanya membawa feezer.

“Ini kesannya ungkur-ungkuran, untuk jualan mungkin akan senggol-senggolan ya,” keluhnya.

Pedagang yang terusir dari Pasar Johar Utara dan Tengah ke Pasar Kanjengan juga merasa tidak puas. Selain lokasinya di lantai atas, lapak yang diterima di tempat yang baru juga lebih sempit.

Rumi Wantin, misalnya. Ia menuding jika pengundian lapak yang dilakukan Dinas Perdagangan Kota Semarang tidak sehat. Pasalnya, pengundian dilakukan ketika pembangunan kawasan Pasar Johar Baru belum selesai dilakukan.

“Saya pikir ini (pengundian, Red) tidak sehat, selain belum semua blok jadi, pengundian juga tidak merata. Saya dulu berjualan di Johar Selatan, ini dapat notifikasi kios di Kanjengan, dan letaknya di lantai 3 pula,” katanya.

Pedagang bumbu dapur ini juga mengeluhkan ketika melakukan pendaftaran di aplikasi E-Pandawa, ia mendaftarkan dua lapak dengan nama yang berbeda. Namun anehnya, kedua lapaknya dipindah ke Kanjengan semua. “Anehnya kok semua lantai tiga dan bersebelahan pula, jelas nggak masuk akal,” tuturnya.

Idealnya, kata dia, pengundian dilakukan secara mandiri, sehingga transparan dan adil. Ukuran lapak yang diterimanya juga kian mengecil dibandingkan tempat lama sebelum Johar terbakar pada 2015. “Harusnya ya saya di Johar Selatan, walaupun kecil nggak masalah yang penting sesuai seperti dulu,” pintanya.

Baca juga:  Imam Musala Dibacok saat Sujud, Istrinya Tewas karena Halangi Aksi Pelaku

Rumi menambahkan, pembagian zonasi seharusnya bisa tepat dan tidak memberatkan bagi pedagang. “Seharusnya lantai 1 itu bumbu-bumbu semua. Kemudian lantai atas baru pakaian dan semacamnya. Mengingat orang yang berbelanja bumbu mayoritas sudah berusia. Kan nggak mungkin kalau belanja di lantai 3,” tutur wanita yang juga berjualan plastik ini.

Pedagang lain juga mengeluhkan mengenai ukuran lapak tak sesuai dengan yang dijanjikan. Dari informasi awal, pedagang yang bersedia menyatukan sertifikatnya, nantinya akan diberikan tempat yang lebih luas. Tapi, kenyataannya ukuran lapak yang diperoleh justru diperkecil dari ukuran lapak sebelumnya.

“Katanya ukuran los itu 2×2 meter persegi, tapi dapatnya ukuran 1×1,5 meter persegi,” ungkap salah satu pedagang yang enggan disebut namanya.

Sebagai pedagang kecil, ia merasa sangat dirugikan. Pasalnya, banyak pedagang dari luar Pasar Johar yang saat ini memperoleh lapak di Pasar Johar Baru. Mirisnya, pedagang Johar asli justru tidak mendapatkan tempat, dan malah digeser ke Kanjengan.

“Kita sebagai rakyat sudah mengikuti peraturan yang ditetapkan, tapi kenapa hasilnya nihil, dan justru mengecewakan,” tegasnya.

Sementara itu, sejumlah pedagang yang akan dipindah ke Pasar Johar Baru kemarin melakukan daftar ulang di Johar Tengah. Pedagang yang baru saja mendapatkan notifikasi nomor lapak pun menggunakan kesempatan itu untuk melihat tempat berjualan mereka.

Menurut informasi dari petugas Disdag yang enggan disebutkan namanya, syarat  melakukan daftar ulang harus membawa KTP, FC KK, dan KK asli. Dan jika lapak tersebut dilimpahkan, maka harus ada surat pelimpahan, serta harus ada surat keterangan pelepasan dari pemilik lama.

Baca juga:  20 Sanggar Teater Kampus Pentaskan Semarang Kuno, Saiki Lan Ngamben

“Pedagang juga harus menunjukkan surat izin asli, apabila lapak itu milik orang tua yang sudah meninggal, maka harus ada surat keterangan wasiat waris yang diketahui oleh saudara-saudaranya,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, pedagang juga harus membawa surat pernyataan dengan tanda tangan materai. Nantinya, Disdag akan menerbitkan berita acara dan melakukan serah terima serta memberikan kunci kios/los. Daftar ulang sendiri akan dilakukan sampai Jumat (1/10/2021) mendatang.

“Surat pernyataan bermaterai sesuai dengan SIPTD (Surat Izin Pemakaian Tempat Dasaran). Selain itu, berita acara serah terima los, kios, dan kunci. Harapannya setelah serah terima bisa langsung pindah, minimal Oktober nanti sudah pindah,” harapnya.

Sebelumnya, Sekretaris  Disdag  Kota Semarang Mujoko Raharjo mengatakan, jumlah pedagang yang sudah ditetapkan dan diundi sebanyak 3.802 pedagang dibagi ke enam blok, yaitu Johar Utara, Johar Tengah, Johar Selatan, Kanjengan, Alun-Alun, dan Shopping Center Johar.

“Kapasitas blok berbeda, Johar Utara 416 pedagang, Johar Tengah 726 pedagang, dan Kanjengan 818 pedagang. Sisanya akan ditempatkan di Johar Selatan, Alun-Alun, dan SCJ,” tuturnya.

Masing-masing lapak di enam blok ini berbeda, untuk kios 3×2 meter persegi, 2×4 meter persegi, dan 3×3 meter persegi. Sementara los  di antaranya 1,5×2 meter persegi dan 1×2 meter persegi. Pedagang hanya mendapatkan satu lapak saja meskipun sebelumnya memiliki dua lapak atau lebih.

“Pedagang yang lebih dari satu lapak hanya akan mendapatkan satu. Selain itu, yang punya lapak banyak, masuknya ke grosir karena Johar khusus untuk retail atau eceran,” pungkasnya. (den/mg10/mg12/aro)

 

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya