alexametrics

23 September Boyongan, Ini Mekanisme Pembagian Lapak Pedagang Johar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Boyongan pedagang Pasar Johar dari relokasi di Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama rencananya akan dilakukan pada Kamis (23/9/2021) mendatang.

Pantauan koran ini, masih banyak pedagang yang datang ke kantor Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang untuk melengkapi data yang kurang atau tidak terbaca oleh sistem. Mereka berharap bisa menempati Johar Tengah dan Utara yang merupakan bangunan cagar budaya. Ataupun menempati Johar Selatan dan Kanjengan.

“Ini dapat informasi untuk mengumpulkan dan melengkapi data. Alhamdulillah sudah klir semua, dan saya berharap bisa segera direlokasi,” kata Chessy, salah satu pedagang yang datang ke Disdag, Senin (6/9/2021).

Ia menerangkan, pascaterbakar, pedagang yang awalnya berjualan di Kanjengan ini memang dipindah ke relokasi di Kawasan MAJT. Namun karena sepi, saat ini ia memilih menyewa lahan, dan tetap berdagang di kawasan Johar.

Baca juga:  Persinas Asad Cetak Pesilat Berbakat

“Harapannya tentu bisa segera pindah, karena di sana sepi (tempat relokasi, Red), jadi saya memilih sewa di sekitar Johar,” tutur pedagang sayur ini.

Plh Kepala Disdag Kota Semarang Mujoko Raharjo mengatakan, saat ini klarifikasi dan verifikasi data pedagang untuk penempatan terus dilakukan, sebelum pelaksanaan pemindahan pedagang tahap satu pada 23 September mendatang.

Update terakhir ada 2.600 pedagang yang sudah ditetapkan, namun datanya dinamis dan naik terus, karena sistem terus berjalan kemungkinan sudah mencapai 3 ribuan,” katanya.

Untuk memindahkan pedagang ke Kawasan Johar Baru, lanjut dia, enam blok yang dipersiapkan oleh Disdag, yakni Johar Tengah, Johar Utara, Johar Selatan, Kanjengan, Alun-Alun, dan Shopping Center Johar (SCJ). Total kapasitas seluruh blok sekitar 6.000 pedagang.

Baca juga:  Kebakaran di Hotel Tentrem, Polisi Segera Lakukan Olah TKP Kedua

“Tahap pertama ini yang siap ditempati baru Johar Utara, Tengah, dan Kanjengan. Itu sekitar 2.000 lapak. Rinciannaya 1.300 di Johar Cagar Budaya, dan 700 Kanjengan” bebernya.

Setelah tiga blok terisi, nantinya akan menyusul blok lainnya. Pemkot Semarang saat ini juga sedang melakukan penataan  di Johar Selatan, Alun-Alun Johar, dan SCJ. Khusus untuk Alun-Alun Johar masih ada  pembangunan alun-alun tahap tiga, sehingga lapak yang terletak di basement belum dapat ditempati.  “Untuk SCJ yang digunakan lantai 3 sampai 6. Tahun depan akan diserahkan ke Pemkot, dan akan kami rehab dulu,” tuturnya.

Sistem zonasi, sambung Mujoko, masih digodok oleh Disdag. Sementara pengundian lapak akan dolakukan secara online. Pedagang yang sudah terverifikasi akan masuk ke sistem barcode.  “Hal ini kami lakukan, karena saat ini sedang PPKM, jadi kami lakukan secara online untuk mengurangi kerumunan. Sistem sedang kami persiapkan di aplikasi. Kami akan trial (uji coba) dulu,” tambahnya.

Baca juga:  Dinas Arsip dan Perpustakaan Gelar Festival Literasi Virtual

Sementara untuk pedagang yang berskala besar atau memiliki lebih dari dua lapak, masuk dalam kategori grosir. Rencananya akan dibuatkan pasar induk sendiri untuk pedagang kategori besar. Sehingga dalam penataan serta penempatan pedagang di Kawasan Johar Baru, Disdag memberikan kebijakan satu pedagang satu lapak saja.

“Kalau punya lebih dari dua lapak, sistem sudah melakukan identifikasi kalau mereka grosiran. Sesuai Perwal kan hanya untuk eceran, sedangkan grosir nanti akan ditempatkan di pasar induk. Nah pilihannya mau turun ke retail atau eceran atau tetap grosir. Kalau memaksa di Johar tidak bisa, tidak memungkinkan tempatnya,” tandasnya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya