alexametrics

Status Tanah Tak Jelas, Candi Tugu Tak Terawat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Situs Watu Tugu atau sering disebut Candi Tugu di Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Semarang merupakan salah satu cagar budaya Kota Semarang. Saat ini kondisinya tak terawat. Status tanah Candi Tugu yang tidak jelas membuat masyarakat tidak berani kelola tempat tersebut sebagai objek wisata.

Situs Watu Tugu bentuknya serupa monumen tugu bulat panjang dan meruncing ke atas. Sebuah duplikat Candi Gedongsongo yang dibangun sekitar 1980-an menjadi penambah keunikan tempat ini. Ada beberapa versi yang beredar tentang fungsi Watu Tugu. Liem Thian Joe dalam buku Riwajat Semarang (1933) menyebut tugu tersebut merupakan tanda batas wilayah Majapahit dan Pajajaran. Versi lain, Arkeolog Tri Subekso mengatakan tugu tersebut adalah caitya, bagian dari tempat beribadatan di masa lalu.

Baca juga:  Kebut Vaksinasi untuk Umum

Juru Kunci Candi Tugu Sumarto menjelaskan, hingga saat ini belum ada konfirmasi dan tindak lanjut terkait status tanah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang. Padahal, Candi Tugu bisa menjadi ladang ekonomi dan pemasukan bagi warga Tugurejo. “Isunya sih masih sengketa. Kami hanya nunggu instruksi dari Disbudpar. Tapi kok sampai sekarang ini malah gak ada kabar,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Minggu (29/8/2021).

Sumarto menjelaskan, beberapa tahun lalu pemerintah dan warga pernah memiliki rencana untuk mengembangkan wisata Candi Tugu. Karena terganjal status kepemilikan yang belum diserahterimakan ke pemerintah kota secara jelas, akhirnya warga Tugurejo belum bisa mengelolanya. “Sebenarnya bisa saja warga langsung mengelola. Tapi karena pemilik atau hak warisnya belum setuju ya kami gak bisa apa-apa. Gak bisa tanggung jawab juga,” tambahnya.

Baca juga:  Talut Longsor Timpa Tiga Rumah di Kelurahan Ngijo Gunungpati

Lurah Tugurejo Abdul Wahid mengaku tidak tahu persis bagaimana perkembangan status tanah Candi Tugu. Kini Candi Tugu itu masih digunakan sebagai tempat sembahyang. “Di sana kan ada kayak gua begitu. Biasanya buat sembahyang orang Buddha,” ujarnya.

Pihaknya juga menyayangkan kondisi warisan budaya yang kini tak terawat. Banyak rumput liar di sepanjang tangga menuju lokasi tugu. Selain itu, semak belukar juga rimbun menutupi kemegahan replika candi. Meski begitu, ia berkoordinasi dengan masyarakat dan pemuda karang taruna agar tetap merawat candi itu. “Sekarang ya tidak ada yang merawat. Masyarakat juga gak mau. Ya karena itu, statusnya tanahnya gak jelas,” katanya.

Salah satu pemuda karang taruna Tugurejo Dhimas Pamungkas, 20, berharap agar pemerintah segera merealisasikan wacana tempat wisata ini. Sehingga para pemuda Tugurejo bisa tergerak aktif untuk menjaga warisan budaya. “Biar cerita sejarah Candi Tugu ini gak hilang. Semoga pemerintah benar-benar memperhatikan potensi wisata ini,” harapnya. (cr8/ton)

Baca juga:  Kronologi Ambruknya Wahana Ontang-Anting di Pasar Malam Jolotundo Semarang,

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya