alexametrics

Sedang Hamil 8 Bulan, Diduga Tewas Dibunuh Pacar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG -Nasib nahas ini dialami Silvi Ayu Nugraha, 23, warga Desa Ngliron, Kecamatan Randublatung, Blora.

Ia ditemukan tewas di kamar kos “DJKost” di Jalan Condrokusumo, Gisikdrono, Semarang Barat, Jumat (20/8) sekitar pukul 13.00.

Perempuan tersebut meninggal dalam kondisi hamil delapan bulan yang diduga hasil hubungan di luar nikah dengan pacarnya, Agung Dwi Saputro, 18, warga Gebang, Banjarsari, Solo.

Saat ditemukan, dari mulut korban mengeluarkan cairan busa. Informasi yang diperoleh RADARSEMARANG.ID,  diduga sebelum meninggal, sempat dianiaya oleh Agung Dwi Saputro. Kemarin, Agung telah diamankan aparat Resmob Polrestabes Semarang.

“Korban hamil delapan atau sembilan bulan. Sempat diinjak-injak perutnya. Korban kesakitan dari kemarin (Kamis, 19/8), sengaja dibiarkan, sampai akhrnya korban meninggal. Ini msh menunggu hasil otopsi,” kata anggota Polrestabes Semarang yang enggan disebutkan namanya kepada Jawa Pos Radar Semarang di lokasi kejadian, Jumat (20/8).

Baca juga: Tersangka Pembunuhan Sakit Hati Disuruh-suruh, Korban Dicekik Satu Jam

Sumber lain menyebutkan, alasan pelaku nekat melakukan pembunuhan lantaran pihak keluarga tidak merestui hubungan keduanya. Karena itu, pelaku lantas meminta kekasihnya tersebut untuk menggugurkan kandungannya.

Baca juga:  Selamatkan Pesisir Bedono

“Infonya disuruh menggugurkan kandungan sama cowoknya. Karena orang tuanya tidak setuju,” ujarnya.

Salah satu penghuni DJKost  membenarkan saat ditemukan meninggal korban dalam kondisi hamil.

“Setahu saya sudah hamil delapan bulan. Saat ditemukan tubuhnya sudah kaku. Ada cairan busa dari mulutnya,”  ungkap salah satu penghuni kos, Anggito, warga Demak.

Anggito mengaku, Jumat kemarin sempat melihat korban di luar kamar sekitar pukul 08.00. Namun saat itu, Anggito tidak sempat ngobrol. Ia lalu meninggalkan kos sekitar pukul 09.00. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang ini kembali ke kos hendak salat Jumat.

“Saya sempat dipanggil sama cowoknya. Namanya Agung. Dia minta tolong, katanya mbaknya (korban) gak sadar. Saya lihat mukanya sudah hitam. Dia sudah meninggal. Itu jam 13.00. Terus saya laporan sama Pak RT,” bebernya.

Pada saat ditemukan, korban dalam posisi terlentang mengenakan daster warna merah motif bunga. Korban tinggal di kamar kos itu bersama Agung, pacarnya. Keduanya tinggal sekamar dalam tiga bulan terakhir.

Baca juga:  Siapkan Pegawai, Pegadaian Antisipasi Era Digital

“Tinggal sekamar di lantai dua. Belum suami istri. Masuk sini sudah dalam kondisi hamil, tapi ngakunya suami istri. Saat saya minta buku nikahnya, tidak dikasih. Hanya KTP yang dikasihkan,” ujarnya.

Sebelum ditemukan meninggal, Anggito pernah melihat korban merasa kesakitan pada Kamis  (19/8) lalu. Korban mengeluh kram di kakinya. Namun korban menolak saat akan diantar ke rumah sakit.

“Dia mengeluh kram di kakinya gak hilang-hilang, dan nafasnya ngos ngosan. Lalu, saya minta pekerja sini mbantuin mbaknya berjalan ke kamarnya,” jelasnya.

Anggito mengaku, tidak pernah mendengar suara gaduh dari dalam kamar korban. Namun pihaknya pernah melihat adanya bercak darah di kamar mandi yang dipakai bersama para penghuni kos.  “Di kamar mandi sempat ada temuan darah. Saya siram,” katanya.

Ia tidak mengetahui secara pasti pekerjaan pacar korban. Namun korban mengaku pernah kuliah di Solo.  “Mbaknya kerja di sini. Kalau lakinya kerja di Poncol. Gak tahu kerjanya apa,” jelasnya.

Baca juga:  Gaet Milenial, Bidik Empat Kepala Daerah

Aparat kepolisian kemarin mendatangi lokasi kejadian bersama Unit Inafis Polrestabes Semarang guna melakukan olah TKP. Sedangkan jenazah korban dievakuasi ke RSUP dr Kariadi sekitar pukul 17.00. Warga sekitar termasuk Anggito mengatakan, Agung telah dibawa petugas sekitar pukul 15.00. “Agung sudah dibawa polisi tadi, dia kan juga masih di kos,” katanya.

Baca Juga: Tragis! Pemuda Ini Dihabisi Teman Sendiri karena Membuang Kerupuk

Anak pemilik DJKost, Alfa, menuturkan, pasangan tersebut sewa kamar kos sudah tiga bulan dengan biaya Rp 500 ribu per bulan. Namun keduanya tidak bisa menunjukan buku nikah resmi.  “Katanya sudah suami istri. Tapi pas dimintai data, hanya bilang ya yo ya yo. Alasannya, nanti menunggu data dari keluarga,” ujar Alfa.

Terpisah, Wakasatreskrim Polrestabes Semarang AKP Agus Supriadi mengatakan, korban tewas diduga ada indikasi pembunuhan. Namun demikian, pihaknya enggan membeberkan terkait kejadian ini.

Iya, ada dugaan mengarah ke sana (pembunuhan). Masih kita dalami. Pelaku juga telah diamankan, masih dilakukan pemeriksaan” katanya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya